BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menstruasi
sebagai proses alamiah yang akan terjadi pada setiap remaja wanita, dimana
terjadinya proses pengeluaran darah yang menandakan bahwa organ kandungan telah
berfungsi dengan matang (Kusmiran, 2011). Menstruasi adalah siklus discharge
fisiologik darah dan jaringan mukosa melalui vagina dari uterus yang tidak
hamil dibawah kendali hormonal dan berulang tanpa adanya kehamilan selama
periode reproduktif (Dorland, 2000). Menstruasi biasanya berlangsung selama
lima sampai tujuh hari dan rata-rata darah yang keluar saat menstruasi adalah
35-50 ml tanpa bekuan darah (Wiknjosastro, 2012).
Siklus
menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki siklus
25-35 hari dan hanya 10% yang memiliki siklus 28 hari. Perhitungan dalam satu
siklus adalah pendarahan dimulai dari hari pertama yang kemudian dihitung
sampai dengan hari terakhir yaitu satu hari sebelum perdarahan menstruasi bulan
berikutnya dimulai. Pada beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur dan
hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kesuburan panjang siklus
menstruasi dihitung dari hari pertama periode menstruasi (Saryono, 2009).
Pada umumnya wanita
mengalami ketidaknyamanan fisik selama beberapa hari sebelum periode menstruasi
mereka datang. Hal ini khususnya sering terjadi awal-awal masa dewasa.
Gejala-gejala dari gangguan menstruasi dapat berupa payudara yang melunak,
puting susu yang nyeri, bengkak, dan mudah tersinggung. Beberapa wanita
mengalami gangguan yang cukup berat seperti keram yang disebabkan oleh
kontraksi otot-otot halus rahim, sakit kepala, sakit pada bagian tengah perut,
gelisah, letih, hidung tersumbat, dan ingin menangis. Dalam bentuk yang paling
berat, sering melibatkan depresi dan kemarahan, kondisi ini dikenal sebagai
gejala datang bulan atau pre menstrual syndrom (PMS), dan mungkin membutuhkan
penanganan medis.
Gangguan
menstruasi sering merupakan sumber kecemasan bagi wanita. Gangguan menstruasi
yang umum terjadi adalah amenorrhea, perdarahan uterus abnormal, dismenore, dan
sindrom premenstrual (Owen, 2005). Cakir et al. (2007) dalam penelitiaannya
menemukan bahwa dismenore merupakan gangguan menstruasi dengan prevalensi
terbesar (89,5%), diikuti ketidakteraturan menstruasi (31,2%), serta
pemanjangan durasi menstruasi (5,3%). Bieniasz et al. (2006) mendapatkan
prevalensi amenorea primer sebanyak 5,3%, amenorea skunder 18,4%, oligomenorea
50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan campuran sebanyak 15,8%.
Dari
uraian di atas, penulis tertarik untuk mengambil tema mengenai masalah kelainan
mentruasi yang terjadi pada wanita.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
1.
Apa pengertian
dari menstruasi ?
2.
Bagaimana
siklus terjadinya menstruasi ?
3.
Apa saja kelainan menstruasi?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis memiliki
tujuan sebagai berikut.
1.
Untuk
mengetahui pengertian menstruasi.
2.
Untuk
mengetahui bagaimana terjadinya siklus menstruasi.
3.
Untuk
mengetahui kelainan menstruasi yang mungkin terjadi
pada wanita.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Menstruasi
Menstruasi
adalah proses keluarnya darah dari vagina yang terjadi diakibatkan siklus
bulanan alami pada tubuh wanita. Siklus ini merupakan proses organ reproduksi
wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Persiapan ini ditandai dengan
penebalan dinding rahim (endometrium) yang berisi pembuluh darah. Jika tidak
terjadi kehamilan, endometrium akan mengalami peluruhan dan keluar bersama
darah melalui vagina.
Siklus ini berjalan sekitar 4 minggu,
dimulai sejak hari pertama menstruasi, hingga hari pertama menstruasi
berikutnya tiba. Siklus menstruasi pada seorang wanita diatur oleh berbagai
hormon, baik yang dihasilkan oleh organ reproduksi maupun kelenjar lain.
Beberapa hormon yang terlibat adalah GnRH (gonadotropin relasing hormone),
FSH (folicle stimulating hormone), LH (luteinizing hormone),
estrogen, dan progesteron.
Selain darah, cairan menstruasi juga
mengandung lendir dan sel-sel lapisan dalam rahim. Siklus menstruasi terjadi
selama 28 hari, dihitung dari hari pertama periode haid saat ini sampai dengan
hari pertama pada periode haid selanjutnya.
Meski begitu, tidak semua perempuan memiliki panjang siklus
menstruasi yang sama. Siklus ini terkadang bisa datang lebih cepat atau justru
lebih lambat, tergantung kondisi masing-masing.
Masa remaja adalah masa dimana remaja mengalami masa pubertas dan
pematangan seksual dengan cepat karena perubahan hormonal yang mempercepat
pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun sekunder (Sharma, 2013). Masa
remaja merupakan tahap kehidupan dimana orang mencapai proses kematangan
emosional, psikososial, dan seksual, yang ditandai dengan mulai berfungsinya
organ reproduksi dan segala konsekuensinya. Perkembangan seksual masa remaja
ditandai dengan menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada pria (Yusuf,
2012). Menstruasi merupakan indikator
kematangan seksual pada remaja putri. Menstruasi dihubungkan dengan beberapa
kesalahpahaman praktek kebersihan diri selama menstruasi yang dapat merugikan
kesehatan bagi remaja (Dasgupta, 2008). Keluhan gangguan menstruasi pada remaja
dan praktik higienis selama menstruasi yang salah dapat menyebabkan gangguan
kesehatan yang tidak diinginkan seperti penyakit radang panggul dan bahkan
infertilitas (El-Ganiya , 2005; Sharma, 2013).
B. Siklus
Menstruasi
Gambar 1. Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi dibagi menjadi empat,
yaitu :
1.
Stadium menstruasi
Pada fase ini, endometrium terlepas dari
dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya
stratum basale. Rata-rata fase ini berlangsung selama lima hari (rentang 3-5
hari). Pada awal fase menstruasi kadar
estrogen, progesteron, LH (Lutenizing Hormon) menurun atau pada kadar
terendahnya selama siklus dan kadar FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai
meningkat.
2.
Stadium proliferasi
Stadium proliferasi dibagi menjadi dua
yaitu :
a.
Stadium proliferasi dini,
dimana kondisi endometrium tipis tebalnya kurang lebih 2 mm,
kelenjar-kelenjarnya dalam kondisi lurus, epitelnya kubus rendah dan intinya
dibagian basal.
b.
Stadium proliferasi
lanjut, endometrium menjadi lebih tebal, hal ini
diakibatkan penambahan stroma akibat
pemecahan sel.
3.
Stadium sekresi/luteal
Stadium
sekresi dibagi menjadi dua yaitu :
a.
Stadium sekresi dini,
lebih tipis daripada fase sebelumnya dikarenakan kehilangan cairan, tebalnya
kurang lebih 4-5 mm.
Pada
saat ini lapisan terbagi dalam beberapa bagian :
1)
Stadium basale, lapisan
dalam yang berbatasan dengan lapisan otot, inaktif kecuali mitosis pada
kelenjar.
2)
Stadium spongiosum,
lapisan tengah berbentuk anyaman seperti spons disebabkan kelenjar yang banyak
melebar dan berkelok dengan stroma yang sedikit diantaranya.
3)
Stadium compactum,
lapisan saluran permukaan kelenjar yang sempit, lumen berisi sekret, stroma
yang berlebihan dan memperlihatkan edem.
b.
Stadium sekresi lanjut,
tebalnya kurang lebih 5-6 mm. Dimana keadaan endometrium sangat vaskuler,
kelenjar sangat banyak dan berkelok, kaya dengan glycogen dan sangat ideal
untuk nutrisi dan perkembangan ovum.
4.
Stadium premenstruil
Adanya infiltrasi sel darah putih
biasanya PMN atau sel bulat. Stroma mengalami disintegrasi, dengan
menghilangnya cairan dan sekret maka akan menjadi collaps dari kelenjar dan
arteri, terjadi vasokonstriksi kemudian pembuluh darah berelaksasi dan akhirnya
pecah.
C. Kelainan Menstruasi
1.
Amenorea
a.
Pengertian
Amenorea adalah
suatu keadaan atau kondisi dimana pada seorang wanita tidak mengalami
menstruasi pada masa menstruasi sebagaimana mestinya atau secara sederhana
disebut dengan tidak haid pada suatu periode atau masa menstruasi.
Terdapat
2 jenis klasifikasi amenorea, yaitu amenorea primer
dan amenorea sekunder. Dikatakan amenorea primer adalah
pada saat belum pernah mengalami menstruasi dan berusia 16 tahun atau lebih
dengan tanda seks sekunder (+) atau usia 14 tahun bila tanda sekunder (-).
Sedangkan disebut dengan amenorea sekunder dimana seseorang mempunyai
masa/periode atau siklus menstruasi yang normal akan tetapi kemudian tidak
menstruasi selama 3 bulan atau lebih secara berurutan.
b.
Penyebab
Penyebab amenorea primer antara lain :
1)
Terdapat gangguan pada hipotalamus, yaitu suatu daerah di dalam otak
yang berinteraksi dengan kelenjar pituitari yang berfungsi mengatur siklus
menstruasi.
2)
Adanya penyakit pituitari yang dapat mempengaruhi fungsi kelenjar
pituitari dalam mengatur siklus menstruasi.
3)
Kromosom yang abnormal serta adanya obstruksi atau sumbatan pada vagina,
seperti adanya suatu membran yang menutup jalur menstruasi.
Sedangkan amenorea sekunder
disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut;
1)
Penggunaan obat kontrasepsi baik oral ataupun suntik seperti pil-pil
untuk membatasi/mengatur kelahiran atau Depo-Provera.
2)
Stress akibat penggunaan beberapa tipe obat.
3)
Berat badan yang sangat rendah akibat adanya gangguan pada thyroid.
4)
Olahraga berat yang dilakukan secara teratur seperti lari jarak jauh,
khususnya jika lemak tubuh rendah.
5)
Serta adanya gangguan pada indung telur (ovarium) seperti akibat
kemoterapi atau munculnya kista ovarium.
6)
Kehamilan
7)
Menyusui
8)
Menopause
c.
Pencegahan
Upaya
pencegahan diri terhadap amenorea, hal yang dapat kita lakukan antara lain
berkonsultasi dengan dokter yang kompeten jika kita mengalami kejadian tidak
menstruasi selama 3 kali atau lebih secara berturut-turut. Jika kemungkinannya
adalah karena kehamilan, lakukan test kehamilan yang dapat dilakukan di rumah
atau ke tempat pelayanan kesehatan. Apabila masa atau siklus menstruasi tidak
selalu sama tiap bulannya, catatlah kapan mulainya dan berapa lama
berlangsungnya kemudian berikan informasi-informasi tersebut kepada dokter.
Selain itu, pertahankan dan pelihara berat badan yang sehat sesuai
dengan body mass index (indek masa tubuh) dengan diet dan olahraga
teratur. Amenorea dapat diobati dengan beberapa cara, tergantung pada
apa yang menyebabkan amenorea tersebut terjadi. Mengubah pola diet
dan program olahraga yang disesuaikan dengan kemampuan tubuh masing-masing
menjadi hal pertama yang dapat dilakukan untuk mengobati amenorea. Selain
itu, konsultasi kepada dokter ahli terkait kondisi yang dirasakan tentu akan
sangat membantu dalam proses pengobatan amenorea.
2.
Dismenorea
a.
Pengertian
Dismenorea
adalah gangguan ginekologik berupa nyeri saat menstruasi, yang umumnya berupa
kram dan terpusat di bagian perut bawah. Rasa kram ini seringkali disertai
dengan nyeri punggung bawah, mual muntah, sakit kepala atau diare. Istilah
dismenorea hanya dipakai jika nyeri terjadi demikian hebatnya, oleh karena
hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak di perut bagian bawah sebelum dan
selama haid. Dikatatakan demikian apabila nyeri yang terjadi ini memaksa
penderita untuk beristirahat dan meninggalkan aktivitasnya untuk beberapa jam
atau hari.
b.
Pembagian Dismenorea
Dismenorea
dibagi menjadi dua yaitu:
1)
Dismenorea primer
Merupakan nyeri menstruasi yang diasosiasikan
dengan siklus ovulasi dan merupakan hasil dari kontraksi miometrium tanpa
teridentifikasinya kelainan patologik. Dismenorea primer umumnya terjadi 12-24
bulan setelah menarche, ketika siklus ovulasi sudah terbentuk.3,14,17,18
2)
Dismenorea
sekunder
Merujuk pada nyeri saat menstruasi yang
diasosiasikan dengan kelainan pelvis, seperti endometriosis, adenomiosis, mioma
uterina dan lainnya. Oleh karena itu, dismenorea sekunder umumnya berhubungan
dengan gejala ginekologik lain seperti disuria, dispareunia, perdarahan abnormal
atau infertilitas.
c.
Faktor
Penyebab Dismenorea
Beberapa faktor yang memegang peran sebagai
penyebab dismenorea primer, antara lain:
1)
Faktor
kejiwaan
Dismenorea mudah terjadi pada remaja yang emosinya
tidak stabil.
2)
Faktor
konstitusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor kejiwaan,
dapat juga menurunkan ketahanan pada rasa nyeri, seperti anemia, penyakit
menahun, dan lainnya dapat mempengaruhi timbulnya dismenorea.
3)
Faktor
obstruksi kanalis servikalis
Stenosis kanalis servikalis pada perempuan dengan
uterus hiperantefleksi adalah teori tertua terjadinya dismenorea primer, namun
hal ini sekarang tidak dianggap sebagai faktor yang penting sebagai penyebab
dismenorea.
4)
Faktor
endokrin
Kontraksi uterus yang
berlebihan umumnya dianggap sebagai sebab kejang yang terjadi pada dismenorea
primer. Faktor endokrin memiliki hubungan dengan tonus dan kontraktilitas
uterus, dimana estrogen disebutkan merangsang kontraktilitas uterus sedangkan
progesteron menghambat, tetapi teori ini tidak dapat menerangkan fakta bahwa
pada perdarahan disfungsional anovulatoar yang biasanya bersamaan dengan kadar
estrogen yang berlebihan tidak menimbulkan rasa nyeri.Penjelasan lain
menyebutkan bahwa prostaglandin merangsang kontraksi otot polos dan bila
dilepaskan secara berlebih ke dalam sirkulasi darah dapat menyebabkan
dismenorea. Penyelidikan dalam tahun-tahun terakhir hal inilah yang memegang
peranan terpenting dalam etiologi dismenorea primer.
5)
Faktor
alergi
Teori ini dikemukakan setelah adanya hubungan
dismenorea dengan urtikaria, migraine atau asma bronkial.
d.
Diagnosis
Dismenorea
primer adalah diagnosa klinis, berdasarkan riwayat karakteristik gejala dan
pemeriksaan fisik yang menunjukkan tidak terdapat kelainan pelvis seperti
endometriosis, adenomiosis, mioma uterus atau penyakit kronis inflamasi pelvis.
Secara umum, tes laboratorium dan laparaskopi tidak dibutuhkan untuk diagnosis,
tetapi USG transvaginal dapat sangat membantu untuk mengidentifikasi mioma
uterus, endometrioma dan adenomiosis pada dismenorea sekunder. Usia saat
menarche dan onset dismenorea, interval antar menstruasi, volume dan durasi
menstruasi, serta gejala bercak antar menstruasi atau premenstruasi adalah
riwayat menstruasi yang perlu diperhatikan. Selain itu hubungan antara onset
nyeri dan onset menstruasi, derajat dan lokasi nyeri, dan gejala lain seperti
mual, muntah, diare, nyeri punggung, atau sakit kepala juga perlu diketahui.
Hal lain yang perlu ditanyakan pada pasien adalah sejauh mana rasa nyeri
mengganggu kegiatan sehari-hari (pekerjaan, sekolah, atau olahraga), penggunaan
obat-obatan dan efektifitasnya, progres derajat nyeri dari waktu ke waktu,
serta kemunculan nyeri selain saat menstruasi. Riwayat-riwayat inilah yang
umumnya dapat membedakan perempuan dengan dismenorea primer maupun sekunder.
Onset nyeri pada wanita dengan dismenorea primer dilaporkan sebelum usia 25
tahun, sedangkan perempuan dengan adenomiosis mempunyai onset nyeri setelah
usia 35 tahun serta nyeri pelvis kronis yang tidak berkala. Perempuan dengan
endometriosis umumnya mengalami nyeri di luar waktu menstruasi dan sering mengalami
bercak premenstruasi, dispareunia, efektifitas yang terbatas dari terapi
obat-obat anti inflamasi non steroid (NSAID) dan peningkatan derajat keparahan
dari waktu ke waktu. Obat-obat NSAID sangat efektif dalam mengurangi nyeri pada
dismenorea primer, nyeri yang sulit diatasi oleh NSAID menunjukkan bahwa
terdapat kelainan pelvis. Pada perempuan dengan dismenorea sekunder yang
berhubungan dengan kelainan pelvis, pemeriksaan pelvis dapat menunjukkan
keadaan normal, tetapi umumnya menunjukkan keadaan tidak normal yang memberikan
petunjuk pada penyebab utama. Pemeriksaan pada kasus mioma menunjukkan
pembesaran uterus dengan kontur ireguler, sedangkan pada kasus endometriosis
bisa terdapat stenosis servikal dan pembesaran ovarium, serta pada kasus adenomiosis
sering dihubungkan dengan uterus yang tebal, globuler dan lunak.
v
Beberapa
terapi yang dapat diberikan pada penderita:
1)
Penerangan
dan nasihat
Perlu dijelaskan bahwa dismenorea adalah gangguan
yang tidak berbahaya bagi kesehatan dan diberi nasihat mengenai makanan yang
sehat, istirahat yang cukup serta olahraga.
2)
NSAID
Merupakan pilihan utama pada remaja dan dewasa
perempuan yang mengalami dismenorea primer. Berbagai studi menyebutkan
efektivitas NSAID pada 70%-90% penderita. Beberapa contoh NSAID yang dapat
dipilih adalah derivat asam propinat (seperti naproxen dan ibuprofen) dan
golongan fenamat (seperti asam mefenamat dan meklofenamat), semuanya sangat
efektif. Efikasi NSAID berasal dari kemampuannya dalam menurunkan produksiprostaglandin
endometrium dan menurunkan aliran menstruasi. Golongan fenamat juga memblok
aksi prostaglandin. Terapi NSAID dapat dimulai saat onset menstruasi dan
dilanjutkan selama durasi nyeri. Perempuan dengan dismenorea berat dapat
memulai terapi 1-2 hari sebelum menstruasi.NSAID perlu dikonsumsi dengan
makanan untuk mencegah efek pada saluran pencernaan. Derivat asam proprionat
adalah pilihan yang baik karena terjangkaudan dapat dibeli tanpa resep dokter.
3)
Analgesik
Dapat diberikan sebagai terapi simptomatik, seperti
kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein.
4)
Terapi
hormonal
Terapi hormonal berupa kontrasepsi oral juga
efektif pada dismenorea dan dapat menjadi pilihan pertama pada perempuan yang
aktif secara seksual yang membutuhkan kontrasepsi, intolerasi terhadap NSAID
dan tidak berkurang nyerinya pada terapi NSAID. Efikasi kontrasepsi oral
didapat dari kerjanya menginhibisi ovulasi, menurunkan produksi prostaglandin
endometrium dan menurunkan volume dan durasi menstruasi.
5)
Kompres hangat pada perut bawah
Kompres hangat selama
beberapa jam dapat mengurangi nyeri. Pada penderita dengan terapi NSAID dan
atau terapi hormonal yang tidak berkurang nyerinya serta mengalami nyeri
berulang dannyeri yang lebih berat perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,
seperti laparoskopi untuk memeriksa kemungkinan terjadinya dismenorea sekunder.
Terapi dismenorea sekunder adalah terapi sesuai dengan kelainan penyebabnya.
3.
Oligomenorea
a.
Pengertian
Oligomenorea
merupakan suatu keadaan dimana siklus menstruasi memanjang lebih dari 35 hari,
sedangkan jumlah perdarahan tetap sama. Wanita yang mengalami oligomenorea akan
mengalami menstruasi yang lebih jarang daripada biasanya. Namun, jika
berhentinya siklus menstruasi ini berlangsung selama lebih dari 3 bulan, maka
kondisi tersebut dikenal sebagai amenorea sekunder. Oligomenorea biasanya
terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan hormonal pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Gangguan hormon tersebut menyebabkanlamanya
siklus menstruasi normal menjadi memanjang, sehinggamenstruasi menjadi lebih
jarang terjadi. Oligomenorea seringterjadi pada 3-5 tahun pertama setelah haid
pertama ataupun beberapa tahun menjelang terjadinya menopause. Oligomenoreayang
terjadi pada masa-masa itu merupakan variasi normal yangterjadi karena kurang
baiknya koordinasi antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium pada awal
terjadinya menstruasi pertamadan menjelang terjadinya menopause, sehingga
timbul gangguan keseimbaangan hormon dalam tubuh. Oligomenorea dan amenorea
sering kali mempunyai dasar yangsama, perbedaannya terletak dalam tingkat. Pada
kebanyakankasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas
cukup baik. Siklus haid biasanya juga ovulatoar denganmasa proliferasi lebih
panjang dari biasanya. Oligomenore yang terjadi pada remaja, seringkali
disebabkankarena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjarpituari
& indung telur. Hipotalamus merupakan bagian otak yangmengatur suhu tubuh,
metabolisme sel & fungsi dasar sepertimakan, tidur & reproduksi.
Hipotalamus mengatur pengeluaran hormon yang mengatur kelenjar pituari.
Kemudian kelenjar pituariakan merangsang produksi hormon yang mempengaruhi
pertumbuhan & reproduksi. Pada awal & akhir masa reproduksiwanita,
beberapa hormon tersebut dapat menjadi kurangtersinkronisasi, sehingga akan
menyebabkan terjadinya haid yangtidak teratur. Pada PCOS (polycystic ovary
syndrome), oligomenore dapatdisebabkan oleh kadar hormon wanita & hormon
pria yang tidaksesuai. Hormon pria diproduksi dalam jumlah yang kecil
olehsetiap wanita, tetapi pada wanita yang mengalami PCOS, kadarhormon pria
tersebut (androgen) lebih tinggi dibandingkan pada wanita lain. Pada atlet
wanita, model, aktris, penari ataupun yang mengalami anorexia nervosa,
oligomenore terjadi karena rasioantara lemak tubuh dengan berat badan turun
sangat jauh.
b. Etiologi
Oligomenore
biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan kelainan
endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau
sebab sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih. Oligomenoresering
terdapat pada wanita astenis. Dapat jugaterjadi pada wanita dengan sindrom
ovarium polikistik dimanapada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi
dari kadarapada wanita normal. Oligomenore dapat juga terjadi pada stress fisik
dan emosional, penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan
nutrisiburuk. Oligomenorrhe dapat juga disebabkan ketidakseimbangan hormonal
seperti pada awal pubertas. Oligomenore yang menetap dapat terjadi akibat
perpanjanganstadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang
kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan
oleh pengaruh psikis ataupengaruh penyakit. Disamping itu, oligomenorea dapat
juga terjadi pada : Gangguan indung telur, misal : Sindrome Polikistik
Ovarium(PCOS)
·
Stress dan depresi
·
Sakit kronik
·
Pasien dengan gangguan
makan (seperti anorexia nervosa, bulimia)
·
Penurunan berat badan
berlebihan
·
Olahraga berlebihan,
misal atlit
·
Adanya tumor yang
melepaskan estrogen
·
Adanya kelainan pada
struktur rahim atau serviks yang menghambat pengeluaran darah menstruasi
·
Penggunaan obat-obatan
tertentu, dsb.
Umumnya
oligomenorea tidak menyebabkan masalah, namunpada beberapa kasus oligomenorea
dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Pemeriksaan ke dokter kandungan harus
segera dilakukan ketikaoligomenorea sudah berlangsung lebih dari 3 bulan dan
mulaimenimbulkan gangguan kesuburan. Pemeriksaan ke dokter kandungan harus
segera dilakukan ketikaoligomenorea sudah berlangsung lebih dari 3 bulan dan
mulai menimbulkan gangguan kesuburan.
c.
Manifestasi Klinis
Periode
siklus menstruasi yang lebih dari 35 hari sekali, dimanahanya didapatkan 4-9
periode dalam 1 tahun.
·
Haid yang tidak teratur
dengan jumlah yang tidak tentu. Padabeberapa wanita yang mengalami oligomenore
terkadang jugamengalami kesulitan untuk hamil.
·
Bila kadar estrogen yang
menjadi penyebab, wanita tersebutmungkin mengalami osteoporosis dan penyakit
kardiovaskular. Wanita tersebut juga memiliki resiko besar untuk
mengalamikanker uterus.
d.
Intervensi
Pengobatan
oligomenore tergantung dengan penyebab, berikuturaiannya: Pada oligomenore
dengan anovulatoir serta pada remaja danwanita yang mendekati menopouse tidak
memerlukan terapi.
·
Perbaikan status gizi
pada penderita dengan gangguan nutrisidapat memperbaiki keadaan oligomenore.
·
Oligomenore sering
diobati dengan pil KB untuk memperbaikiketidakseimbangan hormonal. Terapi ini
disesuaikan denganhormon apa yang lebih dibutuhkan. Contoh:
o Pada
oligomenore yang disebabkan estrogen yang terlalu rendahmaka terapi yang dapat
diberikan adalah KB Hormonal yangmengandung estrogen, seperti: Lynoral,
Premarin, Progynova, dll.
o Pada
oligomenore yang disebabkan progesteron yang terlalurendah maka terapi yang
dapat diberikan adalah KB Hormonal yang mengandung estrogen, seperti :
postinor.Pada oligomenore yang disebabkan keduanya memilikiketidakseimbangan
hormonal yang sama untuk jumlah estrogendna progesteron yang kurang, maka dapat
dilakukakn terapidengan pil kombinasi yang mengandung estrogen danprogesteron
dengan jumlah seimbang seperti : Mycrogynon 50,Ovral, Neogynon, Norgiol, Eugynon,
Microgynon 30, Mikrodiol,Nordette, dll
·
Bila gejala terjadi
akibat adanya tumor, operasi mungkindiperlukan.
·
Adanya tumor yang
mempengaruhi pengeluaran hormonestrogen, maka tumor ini perlu di tindak lanjuti
seperti denganoperasi, kemoterapi, dll
·
Pengobatan alternatif
lainnya dapat menggunakan akupunturatau ramuan herbal. Pengobatan herbal
seperti :
o air
degan
o lalapan
daun pepaya yg sudah direbus
o minum
jamu dari kunyit dan asam jawa campur sedikit gula jawa.
o 2
rimpang kunyit, ½ sendok teh ketumbar, ½ sendok teh biji pala ½ genggam daun
srigading. Semua bahan ditumbuk halus, direbusdengan 1 kliter air sampai
mendidih, saring dan dinginkan. Minum1 gelas perhari untuk memperlancar haid.
e.
Komplikasi
Komplikasi
yang paling menakutkan adalah terganggunya fertilitasdan stress emosional pada
penderita sehingga dapat meperburukterjadinya kelainan haid lebih lanjut.
Prognosa akan buruk bilaoligomenore mengarah pada infertilitas atau tanda
darikeganasan.
4.
Premenstrual Dysphoric
Disorder (PMDD)
Premenstrual syndrome (PMS) merupakan
salah satu gangguan yang paling umum pada wanita, sebanyak 30-50 % dari wanita
mengalami gejala PMS, dan sekitar 5% merasakangejala cukup parah yang berdampak
besar pada kesehatan fisik dan fungsi sosial mereka. Sebanyak 10% lainnya
mengalami PMS yang sangat parah hingga menyebabkan ketidakhadiran di sekolah
ataupun di tempat kerja selama 1-3 liari setiap bulannya. PMS ditandai dengan
perubahan yang cepat dalam suasana hati (misalnya, depresi, iritabilitas,
kemarahan, agresi, mudah menangis, ketegangan, kecemasan), dan gejala fisik
(misalnya ketidaknyamanan payudara, nyeri pada perut, sakit kepala, kembung,
edema, kelelahan, insomnia) selama fase luteal akhir siklus menstruasi.
Memperbaiki gaya hidup dengan meningkatkan aktivitas fisik dan pola makan yang
sehat dapat mengurangi terjadinya PMS.
Hal ini merupakan salah satu masalah
kewanitaan menjelang masa menstruasi.
a.
Pengertian Premenstrual
Dysphoric Disorder
PMDD adalah sindrom pramenstruasi berat
yang melumpuhkan 3-8% perempuan yang sedang menstruasi. Masalah ini terdiri
dari gejala afektif, perilaku dan somatic yang kambuh setiap bulan selama fase
dari siklus menstruasi.
Boleh dibilang gangguan dysphoric
pramenstruasi adalah bentuk yang lebih parah dari sindrom pramenstruasi atau
yang biasa Moms sebut dengan PMS.
Kondisi ini dianggap sebagai kondisi
kesehatan yang dapat mempengaruhi perubahan gaya hidup dan terkadang
membutuhkan pengobatan. Antara 20 dan 40 persen wanita mengalami gejala
pramenstruasi sedang sampai berat.
Perbedaan antara PMDD dan PMS adalah bahwa
gejala PMDD parah dan melemahkan. PMDD melibatkan serangkaian gejala fisik dan
psikologis yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan mengancam kesejahteraan
mental seseorang. PMDD adalah kondisi kronis yang memerlukan perawatan ketika
hal tersebut terjadi. Perawatan yang dimaksud termasuk perubahan gaya hidup dan
pengobatan.
b.
Gejala Premenstrual
Dysphoric Disorder
Gejala PMDD mirip tetapi lebih parah
daripada yang dialami saat PMS. Gejala ini biasanya hadir selama seminggu
sebelum menstruasi dan sembuh dalam beberapa hari pertama setelah menstruasi.
Mereka yang mengalami PMDD sering tidak
melakukan aktivitas normal mereka saat gejala sedang hadir. Kondisi ini dapat
memengaruhi hubungan dan mengganggu rutinitas di rumah dan tempat kerja.
Gejala
PMDD yang umum dan jarang, meliputi:
1)
Kelelahan parah
2)
Perubahan mood, termasuk
lekas marah, gugup, depresi, dan kecemasan
3)
Menangis dan kepekaan
emosional
4)
Kesulitan berkonsentrasi
dan berkoordinasi
5)
Palpitasi jantung
6)
Paranoia dan masalah
dengan citra diri
7)
Perut kembung, nafsu
makan meningkat dan gangguan gastrointestinal
8)
Sakit kepala, punggung
hingga kejang otot dan mati rasa
9)
Perubahan penglihatan dan
keluhan mata
10) Keluhan
pernafasan, seperti alergi dan infeksi
c.
Pengobatan Premenstrual
Dysphoric Disorder
Obat-obatan dapat digunakan untuk
perempuan yang mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder.
Tidak seperti perawatan untuk gangguan
depresi, obat-obatan para penderita PMDD tidak perlu diminum setiap hari tetapi
hanya selama gejala PMDD saja.
Bentuk pengobatan bermacam-macam, bisa
juga dengan kontrasepsi oral dengan ethinylestradiol dan drospirenone yang
mengandung drospirenone dan kadar estrogen yang rendah membantu meredakan
gejala PMDD yang parah, setidaknya selama tiga bulan pertama digunakan.
Pengobatan lain, biasanya digunakan ketika
pilihan lain gagal, adalah suntikan agonis hormon gonadotropin-releasing.
Obat-obatan ini menciptakan kondisi seperti menopause yang diinduksi obat.
Angka kejadian sindrom premenstruasi
berkisar 80 persen. Studi epidemiologi menunjukkan kurang lebih 20 persen dari
wanita usia reproduksi mengalami gejala PMS sedang sampai berat. Sekitar 3-8
persen memiliki gejala hingga parah yang disebut dysphoric disorder (PMDD,
Premenstrual Dysphoric Disorder). Di Indonesia, prevalensi sindroma
premenstruasi pada mahasiswi di Surabaya adalah 39,2% mengalami gejala berat
dan 60,8% mengalami gejala ringan. Dampak sindroma premenstruasi terhadap
kegiatan akademik mahasiswi adalah penurunan konsentrasi belajar, peningkatan absensi
kehadiran di kelas serta penurunan aktivitas di kampus. Hasil survey terhadap
242 pelajar di Jimma University, Ethiopia, dengan rata-ratausiaresponden 20
tahun didapatkan 99,6% partisipan mengalami sindroma premenstruasi. Sebagian
kecil responden mengalami satu gejala dari sekian banyak gejala sindroma
premenstruasi selama siklus menstruasi dalam 12 bulan terakhir. Dilaporkan 27%
dari partisipan mengalami premenstrual dysphoric disorder, 14% sering tidak
masuk kelas dan 15% tidak bias mengikuti ujian karena beratnya sindroma
premenstruasi yang dialami.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Menstruasi
adalah proses keluarnya darah dari vagina yang terjadi diakibatkan siklus
bulanan alami pada tubuh wanita. Siklus ini merupakan proses organ reproduksi
wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Siklus ini berjalan sekitar 4
minggu, dimulai sejak hari pertama menstruasi, hingga hari pertama menstruasi
berikutnya tiba.
Siklus menstruasi terjadi empat fase
stadium, yaitu:
1.
Stadium menstruasi
2.
Stadium proliferasi
3.
Stadium sekresi/luteal
4.
Stadium premenstrual
Kelainan
menstruasi yang merupakan sumber kecemasan bagi wanita adalah sebagai berikut.
1.
Amenorea adalah suatu keadaan atau kondisi dimana pada seorang
wanita tidak mengalami menstruasi pada masa menstruasi sebagaimana mestinya
atau secara sederhana disebut dengan tidak haid pada suatu periode atau masa
menstruasi.
2.
Dismenorea adalah
gangguan ginekologik berupa nyeri saat menstruasi, yang umumnya berupa kram dan
terpusat di bagian perut bawah
3.
Oligomenorea merupakan
suatu keadaan dimana siklus menstruasi memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan
jumlah perdarahan tetap sama.
4.
PMDD adalah sindrom
pramenstruasi berat yang melumpuhkan 3-8% perempuan yang sedang menstruasi.
Masalah ini terdiri dari gejala afektif, perilaku dan somatic yang kambuh
setiap bulan selama fase dari siklus menstruasi.
B.
Saran
1.
Bagi para wanita, agar selalu memperhatikan
siklus menstruasinya, untuk menghindari
gangguan atau kelainan menstruasi.
2 Untuk menghindari syndrome pra haid, setiap wanita dianjurkan
untuk melakukan perubahan diet ataumengatur pola makan yang sehat
DAFTAR PUSTAKA
Sastrawinata,
S. 1983. Obstetri Fisiologi Bagian Obstetri dan Ginekologi. Bandung:
FK Unpad
Canon550d, 2012. 05 29. Oligomenora.
Diambil kembali dari https://
www.scribd .com/doc/95165568/Oligomenorea
Humas Sardjito, 2019. 04 15. Mengenal Amenorea
Lebih Dekat. Diambil kembali dari https://sardjito.co.id/2019/04/15/mengenal-amenorea -lebih-dekat/
Orami Parenting. 2019, 01 17. Mengenal Premenstrual
Dysphoric Disorder (PMDD) Gejala Haid yang Lebih Parah PMS. Diambil kembali dari https://parenting.orami.co.id/magazine/mengenal-premenstrual-dysphoric
-disorder-pmdd-gejala-haid-yang-lebih-parah-pms/
Eprints UNDIP.
BAB 2 Tinjauan Pustaka. Diambil
kembali dari https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://eprints.undip.ac.id/46692/3/BAB_II.pdf&ved=2ahUKEwjDiZibh4roAhXOIbcAHfM0Ak0QFjABegQIAhAB&usg=AOvVaw0viK4uCM0sj750weZwy4aa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar