Minggu, 12 April 2020

Makalah Kelainan Menstruasi Pada Wanita




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Menstruasi sebagai proses alamiah yang akan terjadi pada setiap remaja wanita, dimana terjadinya proses pengeluaran darah yang menandakan bahwa organ kandungan telah berfungsi dengan matang (Kusmiran, 2011). Menstruasi adalah siklus discharge fisiologik darah dan jaringan mukosa melalui vagina dari uterus yang tidak hamil dibawah kendali hormonal dan berulang tanpa adanya kehamilan selama periode reproduktif (Dorland, 2000). Menstruasi biasanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari dan rata-rata darah yang keluar saat menstruasi adalah 35-50 ml tanpa bekuan darah (Wiknjosastro, 2012).
Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki siklus 25-35 hari dan hanya 10% yang memiliki siklus 28 hari. Perhitungan dalam satu siklus adalah pendarahan dimulai dari hari pertama yang kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir yaitu satu hari sebelum perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai. Pada beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur dan hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kesuburan panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama periode menstruasi (Saryono, 2009).
Pada umumnya wanita mengalami ketidaknyamanan fisik selama beberapa hari sebelum periode menstruasi mereka datang. Hal ini khususnya sering terjadi awal-awal masa dewasa. Gejala-gejala dari gangguan menstruasi dapat berupa payudara yang melunak, puting susu yang nyeri, bengkak, dan mudah tersinggung. Beberapa wanita mengalami gangguan yang cukup berat seperti keram yang disebabkan oleh kontraksi otot-otot halus rahim, sakit kepala, sakit pada bagian tengah perut, gelisah, letih, hidung tersumbat, dan ingin menangis. Dalam bentuk yang paling berat, sering melibatkan depresi dan kemarahan, kondisi ini dikenal sebagai gejala datang bulan atau pre menstrual syndrom (PMS), dan mungkin membutuhkan penanganan medis.
Gangguan menstruasi sering merupakan sumber kecemasan bagi wanita. Gangguan menstruasi yang umum terjadi adalah amenorrhea, perdarahan uterus abnormal, dismenore, dan sindrom premenstrual (Owen, 2005). Cakir et al. (2007) dalam penelitiaannya menemukan bahwa dismenore merupakan gangguan menstruasi dengan prevalensi terbesar (89,5%), diikuti ketidakteraturan menstruasi (31,2%), serta pemanjangan durasi menstruasi (5,3%). Bieniasz et al. (2006) mendapatkan prevalensi amenorea primer sebanyak 5,3%, amenorea skunder 18,4%, oligomenorea 50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan campuran sebanyak 15,8%.
Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk mengambil tema mengenai masalah kelainan mentruasi yang terjadi pada wanita.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
1.         Apa pengertian dari menstruasi ?
2.         Bagaimana siklus terjadinya menstruasi ?
3.         Apa saja kelainan menstruasi?

C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis memiliki tujuan sebagai berikut.
1.         Untuk mengetahui pengertian menstruasi.
2.         Untuk mengetahui bagaimana terjadinya siklus menstruasi.
3.         Untuk mengetahui kelainan menstruasi yang mungkin terjadi pada wanita.




BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Menstruasi
Menstruasi adalah proses keluarnya darah dari vagina yang terjadi diakibatkan siklus bulanan alami pada tubuh wanita. Siklus ini merupakan proses organ reproduksi wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Persiapan ini ditandai dengan penebalan dinding rahim (endometrium) yang berisi pembuluh darah. Jika tidak terjadi kehamilan, endometrium akan mengalami peluruhan dan keluar bersama darah melalui vagina.
Siklus ini berjalan sekitar 4 minggu, dimulai sejak hari pertama menstruasi, hingga hari pertama menstruasi berikutnya tiba. Siklus menstruasi pada seorang wanita diatur oleh berbagai hormon, baik yang dihasilkan oleh organ reproduksi maupun kelenjar lain. Beberapa hormon yang terlibat adalah GnRH (gonadotropin relasing hormone), FSH (folicle stimulating hormone), LH (luteinizing hormone), estrogen, dan progesteron.
Selain darah, cairan menstruasi juga mengandung lendir dan sel-sel lapisan dalam rahim. Siklus menstruasi terjadi selama 28 hari, dihitung dari hari pertama periode haid saat ini sampai dengan hari pertama pada periode haid selanjutnya.
Meski begitu, tidak semua perempuan memiliki panjang siklus menstruasi yang sama. Siklus ini terkadang bisa datang lebih cepat atau justru lebih lambat, tergantung kondisi masing-masing.
Masa remaja adalah masa dimana remaja mengalami masa pubertas dan pematangan seksual dengan cepat karena perubahan hormonal yang mempercepat pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun sekunder (Sharma, 2013). Masa remaja merupakan tahap kehidupan dimana orang mencapai proses kematangan emosional, psikososial, dan seksual, yang ditandai dengan mulai berfungsinya organ reproduksi dan segala konsekuensinya. Perkembangan seksual masa remaja ditandai dengan menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada pria (Yusuf, 2012).  Menstruasi merupakan indikator kematangan seksual pada remaja putri. Menstruasi dihubungkan dengan beberapa kesalahpahaman praktek kebersihan diri selama menstruasi yang dapat merugikan kesehatan bagi remaja (Dasgupta, 2008). Keluhan gangguan menstruasi pada remaja dan praktik higienis selama menstruasi yang salah dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang tidak diinginkan seperti penyakit radang panggul dan bahkan infertilitas (El-Ganiya , 2005; Sharma, 2013).
B.     Siklus Menstruasi
Gambar 1. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi dibagi menjadi empat, yaitu :
1.         Stadium menstruasi
Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Rata-rata fase ini berlangsung selama lima hari (rentang 3-5 hari). Pada awal fase  menstruasi kadar estrogen, progesteron, LH (Lutenizing Hormon) menurun atau pada kadar terendahnya selama siklus dan kadar FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai meningkat.
2.         Stadium proliferasi
Stadium proliferasi dibagi menjadi dua yaitu :
a.         Stadium proliferasi dini, dimana kondisi endometrium tipis tebalnya kurang lebih 2 mm, kelenjar-kelenjarnya dalam kondisi lurus, epitelnya kubus rendah dan intinya dibagian basal.
b.        Stadium proliferasi lanjut, endometrium menjadi lebih tebal, hal ini diakibatkan  penambahan stroma akibat pemecahan sel.
3.         Stadium sekresi/luteal
Stadium sekresi dibagi menjadi dua yaitu :
a.         Stadium sekresi dini, lebih tipis daripada fase sebelumnya dikarenakan kehilangan cairan, tebalnya kurang lebih 4-5 mm.
Pada saat ini lapisan terbagi dalam beberapa bagian :
1)        Stadium basale, lapisan dalam yang berbatasan dengan lapisan otot, inaktif kecuali mitosis pada kelenjar.
2)        Stadium spongiosum, lapisan tengah berbentuk anyaman seperti spons disebabkan kelenjar yang banyak melebar dan berkelok dengan stroma yang sedikit diantaranya.
3)        Stadium compactum, lapisan saluran permukaan kelenjar yang sempit, lumen berisi sekret, stroma yang berlebihan dan memperlihatkan edem.
b.        Stadium sekresi lanjut, tebalnya kurang lebih 5-6 mm. Dimana keadaan endometrium sangat vaskuler, kelenjar sangat banyak dan berkelok, kaya dengan glycogen dan sangat ideal untuk nutrisi dan perkembangan ovum.


4.         Stadium premenstruil
Adanya infiltrasi sel darah putih biasanya PMN atau sel bulat. Stroma mengalami disintegrasi, dengan menghilangnya cairan dan sekret maka akan menjadi collaps dari kelenjar dan arteri, terjadi vasokonstriksi kemudian pembuluh darah berelaksasi dan akhirnya pecah.
C.      Kelainan Menstruasi
1.         Amenorea
a.         Pengertian
Amenorea adalah suatu keadaan atau kondisi dimana pada seorang wanita tidak mengalami menstruasi pada masa menstruasi sebagaimana mestinya atau secara sederhana disebut dengan tidak haid pada suatu periode atau masa menstruasi.
Terdapat 2 jenis klasifikasi amenorea, yaitu amenorea primer dan amenorea sekunder. Dikatakan amenorea primer adalah pada saat belum pernah mengalami menstruasi dan berusia 16 tahun atau lebih dengan tanda seks sekunder (+) atau usia 14 tahun bila tanda sekunder (-). Sedangkan disebut dengan amenorea sekunder dimana seseorang mempunyai masa/periode atau siklus menstruasi yang normal akan tetapi kemudian tidak menstruasi selama 3 bulan atau lebih secara berurutan.
b.        Penyebab
Penyebab amenorea primer antara lain :
1)        Terdapat gangguan pada hipotalamus, yaitu suatu daerah di dalam otak yang berinteraksi dengan kelenjar pituitari yang berfungsi mengatur siklus menstruasi.
2)        Adanya penyakit pituitari yang dapat mempengaruhi fungsi kelenjar pituitari dalam mengatur siklus menstruasi.
3)        Kromosom yang abnormal serta adanya obstruksi atau sumbatan pada vagina, seperti adanya suatu membran yang menutup jalur menstruasi.

Sedangkan amenorea sekunder disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut;
1)        Penggunaan obat kontrasepsi baik oral ataupun suntik seperti pil-pil untuk membatasi/mengatur kelahiran atau Depo-Provera.
2)        Stress akibat penggunaan beberapa tipe obat.
3)        Berat badan yang sangat rendah akibat adanya gangguan pada thyroid.
4)        Olahraga berat yang dilakukan secara teratur seperti lari jarak jauh, khususnya jika lemak tubuh rendah.
5)        Serta adanya gangguan pada indung telur (ovarium) seperti akibat kemoterapi atau munculnya kista ovarium.
6)        Kehamilan
7)        Menyusui
8)        Menopause
c.         Pencegahan
Upaya pencegahan diri terhadap amenorea, hal yang dapat kita lakukan antara lain berkonsultasi dengan dokter yang kompeten jika kita mengalami kejadian tidak menstruasi selama 3 kali atau lebih secara berturut-turut. Jika kemungkinannya adalah karena kehamilan, lakukan test kehamilan yang dapat dilakukan di rumah atau ke tempat pelayanan kesehatan. Apabila masa atau siklus menstruasi tidak selalu sama tiap bulannya, catatlah kapan mulainya dan berapa lama berlangsungnya kemudian berikan informasi-informasi tersebut kepada dokter. Selain itu, pertahankan dan pelihara berat badan yang sehat sesuai dengan body mass index (indek masa tubuh) dengan diet dan olahraga teratur. Amenorea dapat diobati dengan beberapa cara, tergantung pada apa yang menyebabkan amenorea tersebut terjadi. Mengubah pola diet dan program olahraga yang disesuaikan dengan kemampuan tubuh masing-masing menjadi hal pertama yang dapat dilakukan untuk mengobati amenorea. Selain itu, konsultasi kepada dokter ahli terkait kondisi yang dirasakan tentu akan sangat membantu dalam proses pengobatan amenorea.
2.         Dismenorea
a.         Pengertian
Dismenorea adalah gangguan ginekologik berupa nyeri saat menstruasi, yang umumnya berupa kram dan terpusat di bagian perut bawah. Rasa kram ini seringkali disertai dengan nyeri punggung bawah, mual muntah, sakit kepala atau diare. Istilah dismenorea hanya dipakai jika nyeri terjadi demikian hebatnya, oleh karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak di perut bagian bawah sebelum dan selama haid. Dikatatakan demikian apabila nyeri yang terjadi ini memaksa penderita untuk beristirahat dan meninggalkan aktivitasnya untuk beberapa jam atau hari.
b.        Pembagian Dismenorea
Dismenorea dibagi menjadi dua yaitu:
1)        Dismenorea primer
Merupakan nyeri menstruasi yang diasosiasikan dengan siklus ovulasi dan merupakan hasil dari kontraksi miometrium tanpa teridentifikasinya kelainan patologik. Dismenorea primer umumnya terjadi 12-24 bulan setelah menarche, ketika siklus ovulasi sudah terbentuk.3,14,17,18
2)        Dismenorea sekunder
Merujuk pada nyeri saat menstruasi yang diasosiasikan dengan kelainan pelvis, seperti endometriosis, adenomiosis, mioma uterina dan lainnya. Oleh karena itu, dismenorea sekunder umumnya berhubungan dengan gejala ginekologik lain seperti disuria, dispareunia, perdarahan abnormal atau infertilitas.

c.         Faktor Penyebab Dismenorea
Beberapa faktor yang memegang peran sebagai penyebab dismenorea primer, antara lain:
1)        Faktor kejiwaan
Dismenorea mudah terjadi pada remaja yang emosinya tidak stabil.
2)        Faktor konstitusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor kejiwaan, dapat juga menurunkan ketahanan pada rasa nyeri, seperti anemia, penyakit menahun, dan lainnya dapat mempengaruhi timbulnya dismenorea.
3)      Faktor obstruksi kanalis servikalis
Stenosis kanalis servikalis pada perempuan dengan uterus hiperantefleksi adalah teori tertua terjadinya dismenorea primer, namun hal ini sekarang tidak dianggap sebagai faktor yang penting sebagai penyebab dismenorea.
4)        Faktor endokrin
Kontraksi uterus yang berlebihan umumnya dianggap sebagai sebab kejang yang terjadi pada dismenorea primer. Faktor endokrin memiliki hubungan dengan tonus dan kontraktilitas uterus, dimana estrogen disebutkan merangsang kontraktilitas uterus sedangkan progesteron menghambat, tetapi teori ini tidak dapat menerangkan fakta bahwa pada perdarahan disfungsional anovulatoar yang biasanya bersamaan dengan kadar estrogen yang berlebihan tidak menimbulkan rasa nyeri.Penjelasan lain menyebutkan bahwa prostaglandin merangsang kontraksi otot polos dan bila dilepaskan secara berlebih ke dalam sirkulasi darah dapat menyebabkan dismenorea. Penyelidikan dalam tahun-tahun terakhir hal inilah yang memegang peranan terpenting dalam etiologi dismenorea primer.
5)        Faktor alergi
Teori ini dikemukakan setelah adanya hubungan dismenorea dengan urtikaria, migraine atau asma bronkial.
d.        Diagnosis
Dismenorea primer adalah diagnosa klinis, berdasarkan riwayat karakteristik gejala dan pemeriksaan fisik yang menunjukkan tidak terdapat kelainan pelvis seperti endometriosis, adenomiosis, mioma uterus atau penyakit kronis inflamasi pelvis. Secara umum, tes laboratorium dan laparaskopi tidak dibutuhkan untuk diagnosis, tetapi USG transvaginal dapat sangat membantu untuk mengidentifikasi mioma uterus, endometrioma dan adenomiosis pada dismenorea sekunder. Usia saat menarche dan onset dismenorea, interval antar menstruasi, volume dan durasi menstruasi, serta gejala bercak antar menstruasi atau premenstruasi adalah riwayat menstruasi yang perlu diperhatikan. Selain itu hubungan antara onset nyeri dan onset menstruasi, derajat dan lokasi nyeri, dan gejala lain seperti mual, muntah, diare, nyeri punggung, atau sakit kepala juga perlu diketahui. Hal lain yang perlu ditanyakan pada pasien adalah sejauh mana rasa nyeri mengganggu kegiatan sehari-hari (pekerjaan, sekolah, atau olahraga), penggunaan obat-obatan dan efektifitasnya, progres derajat nyeri dari waktu ke waktu, serta kemunculan nyeri selain saat menstruasi. Riwayat-riwayat inilah yang umumnya dapat membedakan perempuan dengan dismenorea primer maupun sekunder. Onset nyeri pada wanita dengan dismenorea primer dilaporkan sebelum usia 25 tahun, sedangkan perempuan dengan adenomiosis mempunyai onset nyeri setelah usia 35 tahun serta nyeri pelvis kronis yang tidak berkala. Perempuan dengan endometriosis umumnya mengalami nyeri di luar waktu menstruasi dan sering mengalami bercak premenstruasi, dispareunia, efektifitas yang terbatas dari terapi obat-obat anti inflamasi non steroid (NSAID) dan peningkatan derajat keparahan dari waktu ke waktu. Obat-obat NSAID sangat efektif dalam mengurangi nyeri pada dismenorea primer, nyeri yang sulit diatasi oleh NSAID menunjukkan bahwa terdapat kelainan pelvis. Pada perempuan dengan dismenorea sekunder yang berhubungan dengan kelainan pelvis, pemeriksaan pelvis dapat menunjukkan keadaan normal, tetapi umumnya menunjukkan keadaan tidak normal yang memberikan petunjuk pada penyebab utama. Pemeriksaan pada kasus mioma menunjukkan pembesaran uterus dengan kontur ireguler, sedangkan pada kasus endometriosis bisa terdapat stenosis servikal dan pembesaran ovarium, serta pada kasus adenomiosis sering dihubungkan dengan uterus yang tebal, globuler dan lunak.
v  Beberapa terapi yang dapat diberikan pada penderita:
1)        Penerangan dan nasihat
Perlu dijelaskan bahwa dismenorea adalah gangguan yang tidak berbahaya bagi kesehatan dan diberi nasihat mengenai makanan yang sehat, istirahat yang cukup serta olahraga.
2)        NSAID
Merupakan pilihan utama pada remaja dan dewasa perempuan yang mengalami dismenorea primer. Berbagai studi menyebutkan efektivitas NSAID pada 70%-90% penderita. Beberapa contoh NSAID yang dapat dipilih adalah derivat asam propinat (seperti naproxen dan ibuprofen) dan golongan fenamat (seperti asam mefenamat dan meklofenamat), semuanya sangat efektif. Efikasi NSAID berasal dari kemampuannya dalam menurunkan produksiprostaglandin endometrium dan menurunkan aliran menstruasi. Golongan fenamat juga memblok aksi prostaglandin. Terapi NSAID dapat dimulai saat onset menstruasi dan dilanjutkan selama durasi nyeri. Perempuan dengan dismenorea berat dapat memulai terapi 1-2 hari sebelum menstruasi.NSAID perlu dikonsumsi dengan makanan untuk mencegah efek pada saluran pencernaan. Derivat asam proprionat adalah pilihan yang baik karena terjangkaudan dapat dibeli tanpa resep dokter.
3)        Analgesik
Dapat diberikan sebagai terapi simptomatik, seperti kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein.
4)        Terapi hormonal
Terapi hormonal berupa kontrasepsi oral juga efektif pada dismenorea dan dapat menjadi pilihan pertama pada perempuan yang aktif secara seksual yang membutuhkan kontrasepsi, intolerasi terhadap NSAID dan tidak berkurang nyerinya pada terapi NSAID. Efikasi kontrasepsi oral didapat dari kerjanya menginhibisi ovulasi, menurunkan produksi prostaglandin endometrium dan menurunkan volume dan durasi menstruasi.
5)         Kompres hangat pada perut bawah
Kompres hangat selama beberapa jam dapat mengurangi nyeri. Pada penderita dengan terapi NSAID dan atau terapi hormonal yang tidak berkurang nyerinya serta mengalami nyeri berulang dannyeri yang lebih berat perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti laparoskopi untuk memeriksa kemungkinan terjadinya dismenorea sekunder. Terapi dismenorea sekunder adalah terapi sesuai dengan kelainan penyebabnya.
3.         Oligomenorea
a.         Pengertian
Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus menstruasi memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap sama. Wanita yang mengalami oligomenorea akan mengalami menstruasi yang lebih jarang daripada biasanya. Namun, jika berhentinya siklus menstruasi ini berlangsung selama lebih dari 3 bulan, maka kondisi tersebut dikenal sebagai amenorea sekunder. Oligomenorea biasanya terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Gangguan hormon tersebut menyebabkanlamanya siklus menstruasi normal menjadi memanjang, sehinggamenstruasi menjadi lebih jarang terjadi. Oligomenorea seringterjadi pada 3-5 tahun pertama setelah haid pertama ataupun beberapa tahun menjelang terjadinya menopause. Oligomenoreayang terjadi pada masa-masa itu merupakan variasi normal yangterjadi karena kurang baiknya koordinasi antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya menstruasi pertamadan menjelang terjadinya menopause, sehingga timbul gangguan keseimbaangan hormon dalam tubuh. Oligomenorea dan amenorea sering kali mempunyai dasar yangsama, perbedaannya terletak dalam tingkat. Pada kebanyakankasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya juga ovulatoar denganmasa proliferasi lebih panjang dari biasanya. Oligomenore yang terjadi pada remaja, seringkali disebabkankarena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjarpituari & indung telur. Hipotalamus merupakan bagian otak yangmengatur suhu tubuh, metabolisme sel & fungsi dasar sepertimakan, tidur & reproduksi. Hipotalamus mengatur pengeluaran hormon yang mengatur kelenjar pituari. Kemudian kelenjar pituariakan merangsang produksi hormon yang mempengaruhi pertumbuhan & reproduksi. Pada awal & akhir masa reproduksiwanita, beberapa hormon tersebut dapat menjadi kurangtersinkronisasi, sehingga akan menyebabkan terjadinya haid yangtidak teratur. Pada PCOS (polycystic ovary syndrome), oligomenore dapatdisebabkan oleh kadar hormon wanita & hormon pria yang tidaksesuai. Hormon pria diproduksi dalam jumlah yang kecil olehsetiap wanita, tetapi pada wanita yang mengalami PCOS, kadarhormon pria tersebut (androgen) lebih tinggi dibandingkan pada wanita lain. Pada atlet wanita, model, aktris, penari ataupun yang mengalami anorexia nervosa, oligomenore terjadi karena rasioantara lemak tubuh dengan berat badan turun sangat jauh.
b.      Etiologi
Oligomenore biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan kelainan endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau sebab sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih. Oligomenoresering terdapat pada wanita astenis. Dapat jugaterjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dimanapada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi dari kadarapada wanita normal. Oligomenore dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional, penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisiburuk. Oligomenorrhe dapat juga disebabkan ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal pubertas. Oligomenore yang menetap dapat terjadi akibat perpanjanganstadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis ataupengaruh penyakit. Disamping itu, oligomenorea dapat juga terjadi pada : Gangguan indung telur, misal : Sindrome Polikistik Ovarium(PCOS)
·           Stress dan depresi
·           Sakit kronik
·           Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa, bulimia)
·           Penurunan berat badan berlebihan
·           Olahraga berlebihan, misal atlit
·           Adanya tumor yang melepaskan estrogen
·           Adanya kelainan pada struktur rahim atau serviks yang menghambat pengeluaran darah menstruasi
·           Penggunaan obat-obatan tertentu, dsb.
Umumnya oligomenorea tidak menyebabkan masalah, namunpada beberapa kasus oligomenorea dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Pemeriksaan ke dokter kandungan harus segera dilakukan ketikaoligomenorea sudah berlangsung lebih dari 3 bulan dan mulaimenimbulkan gangguan kesuburan. Pemeriksaan ke dokter kandungan harus segera dilakukan ketikaoligomenorea sudah berlangsung lebih dari 3 bulan dan mulai menimbulkan gangguan kesuburan.
c.         Manifestasi Klinis
Periode siklus menstruasi yang lebih dari 35 hari sekali, dimanahanya didapatkan 4-9 periode dalam 1 tahun.
·           Haid yang tidak teratur dengan jumlah yang tidak tentu. Padabeberapa wanita yang mengalami oligomenore terkadang jugamengalami kesulitan untuk hamil.
·           Bila kadar estrogen yang menjadi penyebab, wanita tersebutmungkin mengalami osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Wanita tersebut juga memiliki resiko besar untuk mengalamikanker uterus.
d.        Intervensi
Pengobatan oligomenore tergantung dengan penyebab, berikuturaiannya: Pada oligomenore dengan anovulatoir serta pada remaja danwanita yang mendekati menopouse tidak memerlukan terapi.
·           Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisidapat memperbaiki keadaan oligomenore.
·           Oligomenore sering diobati dengan pil KB untuk memperbaikiketidakseimbangan hormonal. Terapi ini disesuaikan denganhormon apa yang lebih dibutuhkan.   Contoh:
o    Pada oligomenore yang disebabkan estrogen yang terlalu rendahmaka terapi yang dapat diberikan adalah KB Hormonal yangmengandung estrogen, seperti: Lynoral, Premarin, Progynova, dll.
o    Pada oligomenore yang disebabkan progesteron yang terlalurendah maka terapi yang dapat diberikan adalah KB Hormonal yang mengandung estrogen, seperti : postinor.Pada oligomenore yang disebabkan keduanya memilikiketidakseimbangan hormonal yang sama untuk jumlah estrogendna progesteron yang kurang, maka dapat dilakukakn terapidengan pil kombinasi yang mengandung estrogen danprogesteron dengan jumlah seimbang seperti : Mycrogynon 50,Ovral, Neogynon, Norgiol, Eugynon, Microgynon 30, Mikrodiol,Nordette, dll
·           Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, operasi mungkindiperlukan.
·           Adanya tumor yang mempengaruhi pengeluaran hormonestrogen, maka tumor ini perlu di tindak lanjuti seperti denganoperasi, kemoterapi, dll
·           Pengobatan alternatif lainnya dapat menggunakan akupunturatau ramuan herbal. Pengobatan herbal seperti :
o    air degan
o    lalapan daun pepaya yg sudah direbus
o    minum jamu dari kunyit dan asam jawa campur sedikit gula jawa.
o    2 rimpang kunyit, ½ sendok teh ketumbar, ½ sendok teh biji pala ½ genggam daun srigading. Semua bahan ditumbuk halus, direbusdengan 1 kliter air sampai mendidih, saring dan dinginkan. Minum1 gelas perhari untuk memperlancar haid.
e.         Komplikasi
Komplikasi yang paling menakutkan adalah terganggunya fertilitasdan stress emosional pada penderita sehingga dapat meperburukterjadinya kelainan haid lebih lanjut. Prognosa akan buruk bilaoligomenore mengarah pada infertilitas atau tanda darikeganasan.
4.         Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)
Premenstrual syndrome (PMS) merupakan salah satu gangguan yang paling umum pada wanita, sebanyak 30-50 % dari wanita mengalami gejala PMS, dan sekitar 5% merasakangejala cukup parah yang berdampak besar pada kesehatan fisik dan fungsi sosial mereka. Sebanyak 10% lainnya mengalami PMS yang sangat parah hingga menyebabkan ketidakhadiran di sekolah ataupun di tempat kerja selama 1-3 liari setiap bulannya. PMS ditandai dengan perubahan yang cepat dalam suasana hati (misalnya, depresi, iritabilitas, kemarahan, agresi, mudah menangis, ketegangan, kecemasan), dan gejala fisik (misalnya ketidaknyamanan payudara, nyeri pada perut, sakit kepala, kembung, edema, kelelahan, insomnia) selama fase luteal akhir siklus menstruasi. Memperbaiki gaya hidup dengan meningkatkan aktivitas fisik dan pola makan yang sehat dapat mengurangi terjadinya PMS.
Hal ini merupakan salah satu masalah kewanitaan menjelang masa menstruasi.
a.         Pengertian Premenstrual Dysphoric Disorder
PMDD adalah sindrom pramenstruasi berat yang melumpuhkan 3-8% perempuan yang sedang menstruasi. Masalah ini terdiri dari gejala afektif, perilaku dan somatic yang kambuh setiap bulan selama fase dari siklus menstruasi.
Boleh dibilang gangguan dysphoric pramenstruasi adalah bentuk yang lebih parah dari sindrom pramenstruasi atau yang biasa Moms sebut dengan PMS.
Kondisi ini dianggap sebagai kondisi kesehatan yang dapat mempengaruhi perubahan gaya hidup dan terkadang membutuhkan pengobatan. Antara 20 dan 40 persen wanita mengalami gejala pramenstruasi sedang sampai berat.
Perbedaan antara PMDD dan PMS adalah bahwa gejala PMDD parah dan melemahkan. PMDD melibatkan serangkaian gejala fisik dan psikologis yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan mengancam kesejahteraan mental seseorang. PMDD adalah kondisi kronis yang memerlukan perawatan ketika hal tersebut terjadi. Perawatan yang dimaksud termasuk perubahan gaya hidup dan pengobatan.
b.        Gejala Premenstrual Dysphoric Disorder
Gejala PMDD mirip tetapi lebih parah daripada yang dialami saat PMS. Gejala ini biasanya hadir selama seminggu sebelum menstruasi dan sembuh dalam beberapa hari pertama setelah menstruasi.
Mereka yang mengalami PMDD sering tidak melakukan aktivitas normal mereka saat gejala sedang hadir. Kondisi ini dapat memengaruhi hubungan dan mengganggu rutinitas di rumah dan tempat kerja.
Gejala PMDD yang umum dan jarang, meliputi:
1)        Kelelahan parah
2)        Perubahan mood, termasuk lekas marah, gugup, depresi, dan kecemasan
3)        Menangis dan kepekaan emosional
4)        Kesulitan berkonsentrasi dan berkoordinasi
5)        Palpitasi jantung
6)        Paranoia dan masalah dengan citra diri
7)        Perut kembung, nafsu makan meningkat dan gangguan gastrointestinal
8)        Sakit kepala, punggung hingga kejang otot dan mati rasa
9)        Perubahan penglihatan dan keluhan mata
10)    Keluhan pernafasan, seperti alergi dan infeksi
c.         Pengobatan Premenstrual Dysphoric Disorder
Obat-obatan dapat digunakan untuk perempuan yang mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder.
Tidak seperti perawatan untuk gangguan depresi, obat-obatan para penderita PMDD tidak perlu diminum setiap hari tetapi hanya selama gejala PMDD saja.
Bentuk pengobatan bermacam-macam, bisa juga dengan kontrasepsi oral dengan ethinylestradiol dan drospirenone yang mengandung drospirenone dan kadar estrogen yang rendah membantu meredakan gejala PMDD yang parah, setidaknya selama tiga bulan pertama digunakan.
Pengobatan lain, biasanya digunakan ketika pilihan lain gagal, adalah suntikan agonis hormon gonadotropin-releasing. Obat-obatan ini menciptakan kondisi seperti menopause yang diinduksi obat.
Angka kejadian sindrom premenstruasi berkisar 80 persen. Studi epidemiologi menunjukkan kurang lebih 20 persen dari wanita usia reproduksi mengalami gejala PMS sedang sampai berat. Sekitar 3-8 persen memiliki gejala hingga parah yang disebut dysphoric disorder (PMDD, Premenstrual Dysphoric Disorder). Di Indonesia, prevalensi sindroma premenstruasi pada mahasiswi di Surabaya adalah 39,2% mengalami gejala berat dan 60,8% mengalami gejala ringan. Dampak sindroma premenstruasi terhadap kegiatan akademik mahasiswi adalah penurunan konsentrasi belajar, peningkatan absensi kehadiran di kelas serta penurunan aktivitas di kampus. Hasil survey terhadap 242 pelajar di Jimma University, Ethiopia, dengan rata-ratausiaresponden 20 tahun didapatkan 99,6% partisipan mengalami sindroma premenstruasi. Sebagian kecil responden mengalami satu gejala dari sekian banyak gejala sindroma premenstruasi selama siklus menstruasi dalam 12 bulan terakhir. Dilaporkan 27% dari partisipan mengalami premenstrual dysphoric disorder, 14% sering tidak masuk kelas dan 15% tidak bias mengikuti ujian karena beratnya sindroma premenstruasi yang dialami.



BAB III
PENUTUP
A.      Simpulan
Menstruasi adalah proses keluarnya darah dari vagina yang terjadi diakibatkan siklus bulanan alami pada tubuh wanita. Siklus ini merupakan proses organ reproduksi wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Siklus ini berjalan sekitar 4 minggu, dimulai sejak hari pertama menstruasi, hingga hari pertama menstruasi berikutnya tiba.
Siklus menstruasi terjadi empat fase stadium, yaitu:
1.         Stadium menstruasi
2.         Stadium proliferasi
3.         Stadium sekresi/luteal
4.         Stadium premenstrual
Kelainan menstruasi yang merupakan sumber kecemasan bagi wanita adalah sebagai berikut.
1.         Amenorea adalah suatu keadaan atau kondisi dimana pada seorang wanita tidak mengalami menstruasi pada masa menstruasi sebagaimana mestinya atau secara sederhana disebut dengan tidak haid pada suatu periode atau masa menstruasi.

2.         Dismenorea adalah gangguan ginekologik berupa nyeri saat menstruasi, yang umumnya berupa kram dan terpusat di bagian perut bawah
3.         Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus menstruasi memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap sama.
4.         PMDD adalah sindrom pramenstruasi berat yang melumpuhkan 3-8% perempuan yang sedang menstruasi. Masalah ini terdiri dari gejala afektif, perilaku dan somatic yang kambuh setiap bulan selama fase dari siklus menstruasi.
B.            Saran
1.         Bagi para wanita, agar selalu memperhatikan siklus  menstruasinya, untuk menghindari gangguan atau kelainan menstruasi.
2     Untuk menghindari syndrome pra haid, setiap wanita dianjurkan untuk melakukan perubahan diet ataumengatur pola makan yang sehat




DAFTAR PUSTAKA

Sastrawinata, S. 1983. Obstetri Fisiologi Bagian Obstetri dan Ginekologi. Bandung: FK Unpad

Canon550d, 2012. 05 29. Oligomenora. Diambil kembali dari  https:// www.scribd .com/doc/95165568/Oligomenorea

Humas Sardjito, 2019. 04 15. Mengenal Amenorea Lebih Dekat. Diambil kembali dari  https://sardjito.co.id/2019/04/15/mengenal-amenorea -lebih-dekat/

Orami Parenting. 2019, 01 17. Mengenal Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) Gejala Haid yang Lebih Parah PMS. Diambil kembali dari  https://parenting.orami.co.id/magazine/mengenal-premenstrual-dysphoric -disorder-pmdd-gejala-haid-yang-lebih-parah-pms/
Eprints UNDIP. BAB 2 Tinjauan Pustaka. Diambil kembali dari https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://eprints.undip.ac.id/46692/3/BAB_II.pdf&ved=2ahUKEwjDiZibh4roAhXOIbcAHfM0Ak0QFjABegQIAhAB&usg=AOvVaw0viK4uCM0sj750weZwy4aa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar