1.
Fascioliasis
( Fasciola hepatica)
Migrasi cacing Fasciola hepatica ke
saluran empedu menimbulkan kerusakan pada parenkim hati. Saluran empedu
mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan sehingga menimbulkan Sirosis
Periportal.
Diagnosis dapat dilakukan dengan memeriksa
telur dalam tinja, cairan duodenum atau cairan empedu. Reaksi serologi sangat
membantu dalam menegakkan diagnosis
Pengobatan yang dapat diberikan antara
lain: Heksakloretan, Heksaklorofan, Rafoxamide, Niklofolan, Bromsalan yang
disuntikkan di bawah kulit
Banyak kasus di daerah yang masyarakatnya
mempunyai kebiasaan mengkonsumsi ikan mentah atau ikan yang diolah kurang
matang. Sering ditemukan di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam.
Pencegahannya bias dilakukan dengan tidak
memakan ikan mentah. Apabila mengkonsumsi harus sudah dimasak secara sempurna
dan memakai cuka khusus yang dapat mematikan parasit, sehingga bisa dihindari
terinfeksi oleh metaserkaria dalam ikan. Pengobatan sempurna pada penderita
dengan prazikuantel.
2.
Clonorchiasis (Clonorchis
sinensis)
Cacing Clonorchis sinensis
menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran dan
perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati. Gejala dibagi 3 stadium:
·
Stadium ringan tidak ada
gejala
·
Stadium progresif
ditandai dengan menurunnya nafsu makan, diare, edema, dan pembesaran hati.
·
Stadium lanjut didapatkan
sindrom hipertensi portal terdiri
Dari pembesaran hati, edema, dan
kadang-kadang menimbulkan keganasan dalam hati, dapat menyebabkan kematian.
Diagnosa didasarkan pada isolasi feses
telur C. Sinensis bersama dengan adanya tanda-tanda pankreatitis atau primary.
Beberapa kucing mungkin menunjukkan penyakit kuning dalam kasus-kasus lanjutan
dengan parasit beban berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi kucing,
seperti Viverrini opisthorchis dan Felineus opisthorchis, dapat dibedakan
dengan pemeriksaan mikroskopik atau yang lebih baru tes PCR. Konfirmasi
biasanya dibuat pada laparotomi eksplorasi dan visualisasi cacing dalam pohon
bilier atau kandung empedu dari kucing yang terkena dampak.
Pengobatan untuk parasit ini adalah sama
dengan trematoda lainnya, terutama melalui penggunaan praziquantel sebagai obat
pilihan pertama. Obat diberikan pada 5 mg / kg stat, atau mingguan. Obat yang
digunakan untuk mengobati infestasi mencakup triclabendazole, praziquantel,
bithionol, albendazole dan mebendazol.
3.
Schistosomiasis
japonica (Schistosoma japonicum)
Penyakit ini
disebut juga demam keong. Kelainan tergantung dari
beratnya infeksi. Kelainan yang ditemukan pada stadium I adalah gatal-gatal
(uritikaria). Gejala intoksikasi disertai demam hepatomegali dan eosinofilia tinggi. Pada stadium II ditemukan pula
sindrom disentri. Pada stadium III atau stadium menahun ditemukan sirosis hati
dna splenomegali; biasanya penderita menjadi lemah (emasiasi). Mungkin terdapat
gejala saraf, gejala paru dan lain-lain.
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan
telur di dalam tinja atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi
serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis.
Di Indonesia penyakit ini ditemukan endemi
di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di daerah danau Lindu dan lembah Napu.
Di daerah danau Lindu penyakit ini ditemukan pada tahun 1937 dan di lembah Napu
pada tahun 1972. Sebagai sumber infeksi, selain manusia ditemukan pula
hewan-hewan lain sebagai hospes reservoar yang terpenting adalah berbagai
spesies tikus sawah (rattus). Selain itu rusa hutan, babi hutan, sapi, dan
anjing dilaporkan juga mengandung cacing ini. Hospes perantaranya, yaitu keong
air Oncomelania hupensis lindoensis baru ditemukan pada tahun 1971 (Carney dkk,
1973). Habitat keong di daerah danau Lindu ada 2 macam, yaitu:
Cara penanggulangan skistomiasis di
Sulawesi Tengah, yang sudah diterapkan sejak tahun 1982 adalah pengobatan masal
dengan prazikuantel yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan melalui
Subdirektorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman (Subdit, P2M dan PLP) dengan hasil cukup baik. Prevalensi dari
kira-kira 37% turun menjadi kira-kira 1,5% setelah pengobatan.
4.
Skistosomiasis Usus (
Schistosoma mansoni)
Kelainan
dan gejala yang ditimbulkannya kira-kira sama seperti pada S. Japonicum, akan
tetapi lebih ringan. Pada penyakit ini splenomegali dilaporkan dapat menjadi
berat sekali.
Diagnosis
Sama seperti pada S. Japonicum yaitu menemukan telur dalam tinja.
Upaya
pencegahan da[at dilakukan dengan Menghindari kontak langsung dengan air yang
terkontaminasi oleh larva cacing, terapi untuk penderita, pengendalian hospes
perantara dan perbaikan sanitasi.
5.
Skistosomiasis kandung
kemih (Schistosoma haematobium)
Ditemukan
pada dinding kandung kemih. Gejala yang ditemukan adalah hematuria dan disuria
bila terjadi sistitis. Sindroma disentri ditemukan bila terjadi kelainan di
rekrum.
Pengendalian efektif yang dapat dilakukan
adalah dengan meningkatkan pendidikan masyarakat yang disertai perbaikan
sanitasi untuk mencegah ekskreta yang mencemari persediaan air bersih atau
dengan memperbaiki tata cara penyediaan air bersih untuk keperluan sehar-hari.
6.
Heterophyiasis (Heterophyes
heterophyes)
Gejala Klinik Infeksi melalui makan
ikan mentah atau yang dimasak kurang baik yang mengandung Metacercaria. Kolik
dan diare berlendir Kadang-kadang cacing menginfeksi jaringan, sehingga telur
tidak keluar melalui feses, menyebar melalui pembuluh limfe atau pembuluh darah
ke berbagai jaringan/organ (jantung dan otak) dan menimbulkan gejala-gejala
luar biasa.
Diagnosis
dengan Menemukan telur H.heteropyes dalam tinja.
Frekuensi infeksi tinggi di daerah dekat Port Said (Mesir),
kebiasaan penduduk-penduduknya makan ikan Mugil mentah atau yang diasinkan kurang
dari 15 hari. Pencegahan dengan menghindari makan ikan Mugil mentah atau
setengah matang.
7.
Echinostomiasis (Echinostoma)
Patologi
dan gejala klinik Infeksi
biasanya ringan, tanpa gejala.
Duri-duri di sekitar batil isap kepala Mungkin
menyebabkan iritasi saja. Jika berat bias menyebabkan radang usus dan diare.
Diagnosis dengan menemukan
telur dalam tinja.
8.
Taeniasis
(Taenia saginata Infeksi cacing pita sapi)
Patogenitas
·
Penderita taeniasis sendiri dimana tinjanya
mengandung telur atau proglotid.
·
Hewan (terutama ) babi, sapi yang mengandung
cysticercus.
·
Makanan / minuman dan lingkungan yang
tercemar oleh telur-telur cacing pita.
Diagnosis dan pengobatan
Diagnosis tepat ditentukan
bila dijumpai proglotid yang penuh telur atau skolek. Proglotid terciri dengan
adanya cabang lateral disetiap masing-masing sisi yang m,empunyai cabang
sekitar 15-20. Tetapi cabang tersebut biasanya sulit terlihat pada proglotid
yang lama, sehingga diagnosis lebih akurat bila ditemukan proglotid yang masih
baru.
Sejumlah obat telah
digunakan untuk pengobatan cacing ini, tetapi obat yang sekarang banyak dipakai
adalah Niklosamide.
Pencegahan
·
Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati
penderita
·
Mencegah kontaminasi tanah dan rumput dengan
tinja manusia.
·
Memeriksa daging sapi, ada tidaknya
cysticercus.
·
Memasak daging sampai sempurna.
·
Mendinginkan sampai -10 0C sampai 5 hari
cycticercus dapat rusak.
9.
Taeniia solium ( Infeksi cacing pita babi)
Diagnosis : Nyeri ulu hati, mencret,
mual, obstipasi, dan sakit kepala
Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan infeksi
cacing ini lebih utama yaitu dengan tidak memakan daging babi, mencegah
kontaminasi air minum, makanan dari feses yang tercemar. Sayuran yang biasanya
dimakan mentah harus dicuci bersih dan hindarkan terkontaminasi terhadap telur
cacing ini. Pengobatan susah dilakukan, kecuali operasi dengan pengambilan
cyste.
DAFTAR
PUSTAKA
Pamungkas B.A. 2015 09 15. Helminthologi
Trematoda Usus Dan Paru. Diambil kembali dari
https://id.scribd.com/doc/281126806/IT-24-Helminthologi-Trematoda-Usus-Dan-Paru-MZH
Agung Fahri. 2015 06. Makalah
Platyhelminthes. Diambil kembali dari http://d emsiagungfahri11.blogspot.com/2015/06/makalahinvertebrataphylum.html
CDC. 2019 08 14.
Schistosomiasis. Diambil kembali dari
https://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/index.html
CDC. 2019 05 02.
Fascioliasis. Diambilkemballi dari https://www.cdc.gov/dpdx/fascioliasis/index.html
CDC. 2019 06 29.
Clonorchis. Diambil kembali dari https://www.cdc.gov/parasites/clonorchis/index.html
Triyani. 2013 06
02.Trematoda Hati. Diambil kembali
dari https://www.google.com/amp/s/triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/trematoda-hati-dan-trematoda-darah/amp/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar