Minggu, 12 April 2020

Penyakit Yang Disebabkan Platyhelminthes

1.         Fascioliasis ( Fasciola hepatica)
Migrasi cacing Fasciola hepatica ke saluran empedu menimbulkan kerusakan pada parenkim hati. Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan sehingga menimbulkan Sirosis Periportal.
Diagnosis dapat dilakukan dengan memeriksa telur dalam tinja, cairan duodenum atau cairan empedu. Reaksi serologi sangat membantu dalam menegakkan diagnosis
Pengobatan yang dapat diberikan antara lain: Heksakloretan, Heksaklorofan, Rafoxamide, Niklofolan, Bromsalan yang disuntikkan di bawah kulit

Banyak kasus di daerah yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan mengkonsumsi ikan mentah atau ikan yang diolah kurang matang. Sering ditemukan di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam.
Pencegahannya bias dilakukan dengan tidak memakan ikan mentah. Apabila mengkonsumsi harus sudah dimasak secara sempurna dan memakai cuka khusus yang dapat mematikan parasit, sehingga bisa dihindari terinfeksi oleh metaserkaria dalam ikan. Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel.
2.         Clonorchiasis (Clonorchis sinensis)
Cacing Clonorchis sinensis menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran dan perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati. Gejala dibagi 3 stadium:
·         Stadium ringan tidak ada gejala
·         Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, diare, edema, dan pembesaran hati.
·         Stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri
Dari pembesaran hati, edema, dan kadang-kadang menimbulkan keganasan dalam hati, dapat menyebabkan kematian.
Diagnosa didasarkan pada isolasi feses telur C. Sinensis bersama dengan adanya tanda-tanda pankreatitis atau primary. Beberapa kucing mungkin menunjukkan penyakit kuning dalam kasus-kasus lanjutan dengan parasit beban berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi kucing, seperti Viverrini opisthorchis dan Felineus opisthorchis, dapat dibedakan dengan pemeriksaan mikroskopik atau yang lebih baru tes PCR. Konfirmasi biasanya dibuat pada laparotomi eksplorasi dan visualisasi cacing dalam pohon bilier atau kandung empedu dari kucing yang terkena dampak.
Pengobatan untuk parasit ini adalah sama dengan trematoda lainnya, terutama melalui penggunaan praziquantel sebagai obat pilihan pertama. Obat diberikan pada 5 mg / kg stat, atau mingguan. Obat yang digunakan untuk mengobati infestasi mencakup triclabendazole, praziquantel, bithionol, albendazole dan mebendazol.
3.         Schistosomiasis japonica (Schistosoma japonicum)
Penyakit ini disebut juga demam keong. Kelainan tergantung dari beratnya infeksi. Kelainan yang ditemukan pada stadium I adalah gatal-gatal (uritikaria). Gejala intoksikasi disertai demam hepatomegali dan eosinofilia  tinggi. Pada stadium II ditemukan pula sindrom disentri. Pada stadium III atau stadium menahun ditemukan sirosis hati dna splenomegali; biasanya penderita menjadi lemah (emasiasi). Mungkin terdapat gejala saraf, gejala paru dan lain-lain.
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis.
Di Indonesia penyakit ini ditemukan endemi di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di daerah danau Lindu dan lembah Napu. Di daerah danau Lindu penyakit ini ditemukan pada tahun 1937 dan di lembah Napu pada tahun 1972. Sebagai sumber infeksi, selain manusia ditemukan pula hewan-hewan lain sebagai hospes reservoar yang terpenting adalah berbagai spesies tikus sawah (rattus). Selain itu rusa hutan, babi hutan, sapi, dan anjing dilaporkan juga mengandung cacing ini. Hospes perantaranya, yaitu keong air Oncomelania hupensis lindoensis baru ditemukan pada tahun 1971 (Carney dkk, 1973). Habitat keong di daerah danau Lindu ada 2 macam, yaitu:
Cara penanggulangan skistomiasis di Sulawesi Tengah, yang sudah diterapkan sejak tahun 1982 adalah pengobatan masal dengan prazikuantel yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan melalui Subdirektorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Subdit, P2M dan PLP) dengan hasil cukup baik. Prevalensi dari kira-kira 37% turun menjadi kira-kira 1,5% setelah pengobatan.
4.         Skistosomiasis Usus ( Schistosoma mansoni)
Kelainan dan gejala yang ditimbulkannya kira-kira sama seperti pada S. Japonicum, akan tetapi lebih ringan. Pada penyakit ini splenomegali dilaporkan dapat menjadi berat sekali.
Diagnosis Sama seperti pada S. Japonicum yaitu menemukan telur dalam tinja.
Upaya pencegahan da[at dilakukan dengan Menghindari kontak langsung dengan air yang terkontaminasi oleh larva cacing, terapi untuk penderita, pengendalian hospes perantara dan perbaikan sanitasi.
5.         Skistosomiasis kandung kemih (Schistosoma haematobium)
Ditemukan pada dinding kandung kemih. Gejala yang ditemukan adalah hematuria dan disuria bila terjadi sistitis. Sindroma disentri ditemukan bila terjadi kelainan di rekrum.
Pengendalian efektif yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan pendidikan masyarakat yang disertai perbaikan sanitasi untuk mencegah ekskreta yang mencemari persediaan air bersih atau dengan memperbaiki tata cara penyediaan air bersih untuk keperluan sehar-hari.
6.         Heterophyiasis (Heterophyes heterophyes)
Gejala Klinik Infeksi melalui makan ikan mentah atau yang dimasak kurang baik yang mengandung Metacercaria. Kolik dan diare berlendir Kadang-kadang cacing menginfeksi jaringan, sehingga telur tidak keluar melalui feses, menyebar melalui pembuluh limfe atau pembuluh darah ke berbagai jaringan/organ (jantung dan otak) dan menimbulkan gejala-gejala luar biasa.
Diagnosis dengan  Menemukan telur H.heteropyes dalam tinja.
Frekuensi infeksi tinggi di daerah dekat Port Said (Mesir), kebiasaan penduduk-penduduknya makan ikan Mugil mentah atau yang diasinkan kurang dari 15 hari. Pencegahan dengan menghindari makan ikan Mugil mentah atau setengah matang.
7.         Echinostomiasis (Echinostoma)
Patologi dan gejala klinik Infeksi biasanya ringan, tanpa gejala. Duri-duri di sekitar batil isap kepala  Mungkin menyebabkan iritasi saja. Jika berat bias menyebabkan radang usus dan diare. Diagnosis dengan menemukan telur dalam tinja.

8.          Taeniasis (Taenia saginata Infeksi cacing pita sapi)
Patogenitas
·           Penderita taeniasis sendiri dimana tinjanya mengandung telur atau proglotid.
·           Hewan (terutama ) babi, sapi yang mengandung cysticercus.
·           Makanan / minuman dan lingkungan yang tercemar oleh telur-telur cacing pita.
Diagnosis dan pengobatan
Diagnosis tepat ditentukan bila dijumpai proglotid yang penuh telur atau skolek. Proglotid terciri dengan adanya cabang lateral disetiap masing-masing sisi yang m,empunyai cabang sekitar 15-20. Tetapi cabang tersebut biasanya sulit terlihat pada proglotid yang lama, sehingga diagnosis lebih akurat bila ditemukan proglotid yang masih baru.
Sejumlah obat telah digunakan untuk pengobatan cacing ini, tetapi obat yang sekarang banyak dipakai adalah Niklosamide.
Pencegahan
·           Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita
·           Mencegah kontaminasi tanah dan rumput dengan tinja manusia.
·           Memeriksa daging sapi, ada tidaknya cysticercus.
·           Memasak daging sampai sempurna.
·           Mendinginkan sampai -10 0C sampai 5 hari cycticercus dapat rusak.
9.         Taeniia solium ( Infeksi cacing pita babi)
Diagnosis : Nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi, dan sakit kepala
Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan infeksi cacing ini lebih utama yaitu dengan tidak memakan daging babi, mencegah kontaminasi air minum, makanan dari feses yang tercemar. Sayuran yang biasanya dimakan mentah harus dicuci bersih dan hindarkan terkontaminasi terhadap telur cacing ini. Pengobatan susah dilakukan, kecuali operasi dengan pengambilan cyste.



DAFTAR PUSTAKA
Pamungkas B.A. 2015 09 15. Helminthologi Trematoda Usus Dan Paru. Diambil kembali dari https://id.scribd.com/doc/281126806/IT-24-Helminthologi-Trematoda-Usus-Dan-Paru-MZH
Agung Fahri. 2015 06. Makalah Platyhelminthes. Diambil kembali dari http://d emsiagungfahri11.blogspot.com/2015/06/makalahinvertebrataphylum.html
CDC. 2019 08 14. Schistosomiasis. Diambil kembali dari https://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/index.html
CDC. 2019 05 02. Fascioliasis. Diambilkemballi dari https://www.cdc.gov/dpdx/fascioliasis/index.html
CDC. 2019 06 29. Clonorchis. Diambil kembali dari https://www.cdc.gov/parasites/clonorchis/index.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar