Minggu, 12 April 2020

Parasitologi Nemathelminthes

PENDAHULUAN


Nama Nemathelminthes berasal dari Bahasa Latin 'nematos' yang berarti benang dan 'nelminthes' yang berarti cacing. Sehingga, nemathelminthes mempunyai arti cacing benang. Nemathelminthes ini merupakan cacing yang berbentuk bulat panjang (gilig).

Nemathelminthes dapat hidup bebas atau parasit pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Nemathelminthes yang hidup bebas berperan sebagai pengurai. Habitat nemathelminthes yang hidup bebas berada di tanah becek dan di dasar perairan tawar atau laut. Sedangkan, bentuk parasit bergantung pada inang untuk makanan memperoleh makanan berupa sari makanan pada tubuh inangnya. Nemathelminthes parasit hidup dalam inangnya.

Nemathelminthes melakukan reproduksi secara seksual. Sistem reproduksi bersifat gonokoris, yaitu organ kelamin jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Pada cacing jantan, bagian ekornya (posterior), di dekat lubang anus, terdapat tonjolan yang disebut penial setae yang digunakan untuk kopulasi, sedangkan pada betina tidak ada. Fertilisasi terjadi secara internal dan betina mampu menghasilkan telur sebanyak 100.000 butir atau lebih setiap harinya. Selain itu, telur hasil fertilisasi dilapisi oleh kulit yang terbuat dari kitin sehingga dapat bertahan hidup pada lingkungan yang tidak menguntungkan.


Tubuh dari cacing ini tidak memiliki segmen dan lapisan luar tubuhnya licin serta dilindungi oleh kutikula agar tidak terpengaruh oleh enzim inangnya. Tubuhnya dilapisi oleh tiga lapisan (tripoblastik), yakni lapisan luar (Ektodermis), lapisan tengah (Mesoderm), dan lapisan dalam (Endoderm). Kulit hewan ini tidak berwarna dan licin.
Nemathelminthes sudah memiliki suatu organ saluran pencernaan yang lengkap, yakni mulut, faring, usus, dan anus. Mulut terdapat pada ujung depan dan anus terdapat pada ujung belakang. Sesudah makanan dicerna, sari makanan tersebut akan diedarkan ke seluruh tubuh melalui cairan pada rongga tubuhnya. Tubuhnya belum memiliki sebuah sistem pembuluh darah, sehingga tidak memiliki sebuah sistem respirasi, pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi melalui proses difusi, yakni perpindahan zat dari tempat konsentrasi tinggi ke tempat konsentrasi rendah.

PEMBAHASAN

A. Wuchereria Brancrofti (Cacing Filaria)

1. Pengertian
Wuchereria Brancrofti atau disebut juga cacing filaria adalah cacing yang hidup di peredaran limfa manusia yang menyebabkkan penyakit kaki gajah (Filariasis/Elephantiasis) dan ditularkan melalui nyamuk culex dalam bentuk mikrofilariae.
Cacing filaria membutuhkan inang pembawa (vektor) berupa beberapa jenis nyamuk dari anggota genus Culex, Anopheles, Aedes, Mansonia, dan Coquillettidia. Contoh vektor tersebut antara lain Culex quinquefasciatus, Anopheles bancroftii, Aedes aegypti, dll.

2. Morfologi
Cacing dewasa berbentuk memanjang seperti rambut (hair like), warna transparan, bentuk filariform dengan ujung meruncing sedikit demi sedikit. Cacing jantan dan betina didapatkan saling melingkar di dalam habitatnya dan sukar untuk dilepaskan.
Ukuran pada Wuchereria Brancrofti jantan adalah 25-40 x 0,1 mm, pada bagian posterior melengkung ke ventral dan mempunyai spiculae. Sedangkan ukuran pada Wuchereria Brancrofti betina adalah 80-100 x 0,25 mm.
Rata-rata usia subur Wuchereria Brancrofti adalah sekitar 5 tahun, meskipun beberapa penelitian menunjukkan bahwa cacing dewasa dapat hidup selama 10 tahun.

3. Mikrofilaria
Setelah dilahirkan oleh induknya dalam saluran lymphe, mereka akan menemukan jalannya menuju saluran lymphe utama dan akhirnya berada dalam aliran darah tepi. Morfologi mikrofilaria dapat diamati dengan baik dengan mengambil darah penderita, dan dibuat sediaan tetes tebal yang diwarnai dengan Wright/Giemsa. Pada sediaan yang baik akan terlihat mikrofilaria sebagai suatu bentukan silinder memanjang. Ciri-ciri khas dari mikrofilaria Wuchereria bancrofti sebagai berikut :
a) Ukuran kurang lebih 290 x 6 mikron
b) Terbungkus oleh suatu selaput hialin (hyaline sheath), tetapi pada pengecatan dengan Giemsa
c) Sheath ini jarang nampak dan hanya nampak pada pengecatan yang pekat.
d) Curva tubuhnya halus dan tak mempunyai lekukan tubuh sekunder (secondary kink negatif)
e) Tubuhnya terisi oleh body nuclei yang tersebar merata, nampak seolah-olah teratur.
f) Pada ujung anterior terdapat bagian yang bebas dari body nuclei, disebut cephalic space yang
g) Ukuran panjangnya kurang lebih sama dengan lebarnya (Cephalic space ratio 1:1).
h) Ujung posterior tidak mengandung body nuclei (Terminal nuclei negatif).

4. Siklus Hidup
 a) Ketika menghisap darah, nyamuk yang terinfeksi menularkan larva (tahap ketiga) pada kulit inang manusia melalui luka “gigitan.”
b) Larva berkembang menjadi cacing filaria dewasa pada kelenjar getah bening (limfa).
c) Cacing dewasa menghasilkan mikrofilaria yang memiliki lapisan pelindung dan bergerak aktif dalam peredaran darah.
d) Mikrofilaria dalam darah tersebut ikut tertelan oleh nyamuk yang “menggigit” manusia yang terinfeksi.
e) Mikrofilaria melepaskan lapisan pelindung dan hidup pada perut nyamuk.
f) Mikrofilaria kemudian berkembang menjadi larva tahap pertama.
g) Berkembang lagi menjadi larva tahap ketiga.
h) Larva tahap ketiga pindah ke kepala dan “belalai” nyamuk untuk siap menginfeksi manusia ketika nyamuk “menggigit” manusia.

5. Perkembangbiakkan
Wuchereria bancrofti adalah dioecious dan persetubuhan antara individu dari lawan jenis diperlukan untuk reproduksi. Jantan memiliki daerah ekor melingkar yang memungkinkan mereka untuk menangkap betina selama persetubuhan. Selain itu, kloaka jantan dikelilingi oleh spekula sensillae dan sanggama yang berfungsi untuk membuka vulva dan vagina selama transfer sperma. Ada bukti, baik kimiawi dan perilaku, untuk penggunaan feromon seks yang terlibat dalam menarik pasangan. Selain itu, ada beberapa bukti bahwa laki-laki memiliki peralatan kemosensor yang diperlukan untuk pengenalan sinyal tersebut. ( Nisbet, et al., 2004 ; Nutman dan Scott, 2000).
Setelah larva infektif tahap ketiga memasuki inang manusia, mereka membutuhkan 3 bulan hingga satu tahun untuk menjadi dewasa. Sebagian besar orang dewasa memiliki usia subur sekitar 5 tahun, meskipun mereka dapat hidup selama 10 tahun. Jantan dan betina hidup melilit bersama secara berpasangan. Betina menunjukkan periodisitas sirkadian dalam pelepasan mikrofilaria. Puncak dalam produksi bervariasi tergantung pada strain geografis cacing dan biasanya berkorelasi dengan periode pemberian makan puncak dari vektor nyamuk lokal. ("Nematode dan Neglected Genomics", 2008; Baron dan Cross, 1996 ; Napier, 1994).

6. Patologi dan Gejala Klinis
Patologi dan Gejala klinis Filariasis Bancrofti dapat disebabkan oleh cacing dewasa maupun mikrofilaria. Namun, perubahan patologi  yang utama terjadi akibat kerusakan  pada sistem limfatik yang disebabkan oleh cacing dewasa dan bukan disebabkan oleh microfilaria. Mikrofilaria biasanya tidak menimbulkan kelainan, namun dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. Patologi dan gejala klinik yang disebabkan oleh cacing dewasa dapat berupa limfadenitis dan limfangitis retrograd pada stadium akut, hidrokel, kilurian, dan Limfedema (elephantiasis) yang mengenai seluruh kaki atau lengan, skrotum, vagina dan payudara pada stadium kronis. (Muslimah, 2013).

B. Ancylostoma Duodenale (Cacing Tambang)

1. Pengertian
Ancylostoma Duodenale atau Cacing Tambang adalah cacing yang bersarang di usus manusia dan mempunyai kait dan alat hisap, dan menghasilkan zat antikoagulan yang menyebabkan infeksi dan anemia.

2. Morfologi
Betina dari Ancylostoma duodenale berukuran 10-13 mm x 0,6 mm, sedangkan yang jantan 8-11 x 0,5 mm. Bentuknya menyerupai huruf C, Rongga mulut Ancylostoma duodenale mempunyai dua pasang gigi. Alat kelamin pada jantan adalah tunggal (Safar R, 2010).
Telur dari Ancylostoma duodenale ukurannya adalah 40-60 mikron, bentuk lonjong dengan dinding tipis dan jernih. Ovum telur yang baru dikeluarkan tidak bersegmen. Ancylostoma duodenale betina dalam satu hari dapat bertelur hingga 10.000 butir (Safar R, 2010).
Cacing jantan mempunyai testis, vesika seminalis, kelenjar semen, spikula (atau disebut gubernakulum yang merupakan alat kopulasi), kloaka, dan bursa. Adapun cacing betina memiliki ovarium, uterus, vagina, dan anus. Cacing betina juga memiliki duri ekor yang berguna untuk membantu saat proses perkawinan berlangsung.

3. Siklus Hidup
a) Telur dikeluarkan melalui feses, dan dengan kondisi yang tepat (suhu, kelembaban, keteduhan), larva menetas dalam satu sampai dua hari.
b) Larva yang menetas disebut larva rhabditiform dan tumbuh pada feses atau tanah.
c) Larva tersebut lalu berkembang menjadi larva filariform setelah lima sampai sepuluh hari (dan dua kali molting). Larva bentuk ini telah bersifat infektif dan dapat bertahan hidup tiga sampai empat minggu pada kondisi lingkungan yang menguntungkan.
d) Ketika bersentuhan dengan manusia, larva filariform menembus kulit manusia dan terbawa oleh pembuluh darah ke jantung kemudian ke paru-paru. Lalu naik ke faring dan tertelan menuju ke usus halus untuk hidup dan mencapai dewasa.
e) Cacing filaria dewasa hidup di usus halus untuk kemudian bertelur kembali.
f) Ketika penetrasi pada kulit inang, larva rhabditiform dapat dorman sementara pada usus atau otot.

4. Perkembangbiakkan
Baik jantan dan betina menempel pada dinding usus selama masa hidup mereka, tetapi jantan meninggalkan pada satu titik untuk mencari betina untuk kawin. Rata-rata rentang hidup wanita adalah sekitar satu tahun, di mana ia dapat bertelur dari 10.000-30.000 telur sehari selama masa dewasanya.
Wanita dapat menghasilkan feromon untuk menarik perhatian pria. Jantan melingkar di sekitar betina dengan daerah melengkung di atas pori genital wanita. Gubernaculum, terbuat dari jaringan kutikula, memandu spikula yang meluas melalui kloaka dan anus. Jantan menggunakan spikula untuk menahan betina selama persetubuhan. Nematoda sperma amoeboid-seperti dan kekurangan flagela. (Barnes, 1987 ; Beigal, et al., 2000 ; DW, 1980 ; Roberts dan Janovy Jr., 2000).

5. Patologi dan Gejala Klinis
Pada saat stadium larva banyak larva filariform sekaligus menembus kulit maka terjadi perubahan kulit. Perubahan pada paru biasanya ringan. Infeksi larva filariform A.duodenale secara oral menyebabkan penyakit dengan gejala mual, muntah, iritasi faring, batuk.
Ketika memasuki stadium dewasa, gejala tergantung pada spesies dan jumlah cacing. N.americanus menyebabkan kehilangan darah 0,005-0,1 cc sehari, sedangkan A.duodenale 0,08-0,34 cc. Pada infeksi kronik dan akut terjadi anemia hipokrom mikrositer. Cacing tambang biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi daya tahan berkurang dan prestasi menurun sehingga dapat berakibat Decompensatio Cordis (Susanto I, 2011).

C. Ascaris Lumbricoides (Cacing Usus)

1. Pengertian
Ascaris lumbricoides adalah Nematoda parasit terbesar yang hidup di dalam usus manusia, dan dapat menyebabkan penyakit ascariasis atau disebut juga cacingan. Sebanyak lebih dari 85% kasus penyakit ini tidak menimbulkan gejala ketika terjadi infeksi, namun kemudian seiring berjalannya waktu akan muncul beberapa gejala seperti nafas yang pendek dan demam  pada awal mula penyakit ini. Gejala lain seperti bengkak pada daerah perut, sakit perut, dan diare mungkin akan mengikuti gejala awal. Ascariasis biasanya menyerang anak-anak sehingga dapat mengakibatkan pertumbuhan yang buruk, malnutrisi, dan kesulitan belajar.

2. Siklus Hidup
Telur cacing yang keluar bersama feses akan masuk ke saluran pencernaan manusia melalui makanan yang tidak higienis. Selanjutnya, telur berkembang menjadi larva yang menembus dinding usus dan mengikuti peredaran darah manusia sampai ke paru-paru, trakea (tenggorokan), faring (kerongkongan), dan kembali ke usus hingga dewasa, kemudian menetaskan telur 200.000/hari.

3. Morfologi
Cacing dewasa hidup di dalam  rongga usus manusia. Cacing betina mempunyai panjang 22-35 cm dan memiliki lebar 3-6 mm. Sementara cacing jantan dewasa mempunyai ukuran lebih kecil, dengan panjangnya 12-13 cm dan lebarnya 2-4 mm. Cacing betina dapat bertelur sampai 200.000 butir sehari, yang dapat berlangsung selama masa hidupnya yaitu kirakira 1 tahun. Telur cacing ini ada yang dibuahi disebut fertilized. Bentuk ini ada dua macam yaitu yang mempunyai cortex disebut fertilized-corticated, sedangkan yang tidak mempunyai cortex disebut fertilized decorticated.
Cacing jantan ini  mempunyai ujung posterior yang runcing, melengkung ke arah ventral, mempunyai banyak  papil kecil dan terdapat 2 buah spekulum yang melengkung, masing-masing berukuran panjang 2 mm. Cacing betina mempunyai bentuk tubuh posterior yang membulat (Gandahusada, S, dkk. 2003).

4. Perkembangbiakkan
Ascaris lumbricoides adalah dioecious dan persetubuhan antara individu dari lawan jenis diperlukan untuk pembuahan, dan beberapa bukti menunjukkan feromon berperan dalam perkawinan. Laki-laki memiliki dua testis dan ujung posterior melengkung dengan spikula untuk persetubuhan. Betina memiliki ovarium yang kontinu dengan saluran telur dan rahim tubular; uteri bergabung untuk membentuk vagina yang terbuka ke vulva. Sperma ditransfer ke vulva wanita, memasuki sel telur dan membentuk zigot. Zigot kemudian mengeluarkan selaput pembuahan yang mengental untuk membentuk cangkang chitinous yang melindungi telur ketika dikeluarkan dari inang. Betina telah terbukti bertelur sebanyak 234.000 telur per hari, dan hasil telur harian ini menyiratkan kawin sepanjang tahun tanpa musim kawin khusus.(Baron, et al., 1996 ; Brown dan Cort, 1927).

5. Patologi dan Gejala Klinis
Infeksi Ascaris limbricoides akan menimbulkan penyakit Ascariasis, penyakit ini mengakibatkan gejala yang disebabkan oleh stadium larva dan stadium dewasa.
Pada stadium larva yaitu kerusakan  pada  paru-paru yang menimbulkan gejala yang disebut Sindrom Loeffler yang terdiri dari batuk-batuk, eosinofil dalam darah meningkat, dan dalam Rontgen foto thorax terlihat bayangan putih halus yang merata di seluruh lapangan paru yang akan dalam waktu 2 minggu. Gejala dapat ringan dan dapat menjadi berat pada penderita yang rentan atau infeksi berat.
Pada stadium dewasa biasanya terjadi gejala usus ringan. Pada infeksi berat terutama pada anak-anak dapat terjadi malabsorbsi yang memperberat malnutrisi karena perampasan makanan oleh cacing dewasa. Bila cacing dewasa menumpuk dapat menimbulkan ileus obstruksi. Bila cacing nyasar ke tempat lain dapat terjadi infeksi ektopik pada apendiks dan ductus choledochus (Safar R, 2010).

D. Enterobius vermicularis (cacing kremi)

1. Pengertian
Enterobius vermicularis adalah cacing yang dapat masuk ke tubuh melalui makanan, pakaian, bantal, sprai serta inhalasi debu yang mengandung telur yang kemudian akan bersarang di usus dan akan dihancurkan oleh enzim usus, telur yang lolos akan berkembang menjadi larva dewasa.

2. Morfologi
Cacing dewasa berbentuk seperti tanda tanya pada anterior terdapat pelebaran seperti sayap (cephalic alae), ujung posterior tumpul, spikulum jarang ditemukan. Ukuran jantan antara 2-5 mm x 0,1-0,2 mm. Sedangkan ukuran betina antara 8-13 mm x 0,3-0,5 mm.
Ukuran telur Enterobius vermicularis 50-60 µm ×20-30 µm. Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetris). Dinding telur bening dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang.

3. Siklus Hidup
a) Telur disimpan pada daerah anus.
b) Autoinfeksi terjadi ketika seseorang menggaruk daerah anus dan tidak sengaja menelan telur yang berembrio. Penularan dari manusia ke manusia juga terjadi melalui pakaian, sprei yang terinfeksi, dan berbagai cara lainnya.
c) Setelah telur berembrio tertelan, telur tersebut menetas menjadi larva di usus halus.
d) Larva berkembang menjadi dewasa pada daerah sekum (kantong pada usus besar dekat usus buntu).
e) Cacing dewasa yang “hamil” berpindah ke daerah sekitar anus untuk bertelur saat malam hari. Saat bertelur inilah yang menimbulkan rasa gatal pada inang.
f) Selain menimbulkan rasa gatal, infeksi cacing kremi dapat diikuti dengan infeksi bakteri apabila ada luka atau iritasi ketika sang inang menggaruk daerah anus. Juga gejala lain seperti insomnia akibat terganggunya waktu tidur dan sakit perut.

4. Perkembangbiakkan
Cacing kremi yang disebut juga enterobiasis atau oksiuriasis. Infeksi biasanya terjadi melalui 2 tahap. Pertama, telur cacing pindah dari daerah sekitar anus penderita ke pakaian, seprei atau mainan. Kemudian melalui jari-jari tangan, telur cacing pindah ke mulut anak yang lainnya dan akhirnya tertelan. Telur cacing juga dapat terhirup dari udara kemudian tertelan. Setelah telur cacing tertelan, lalu larvanya menetas di dalam usus kecil dan tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam usus besar (proses pematangan ini memakan waktu 2-6 minggu).
Cacing dewasa betina bergerak ke daerah di sekitar anus (biasanya pada malam hari) untuk menyimpan telurnya di dalam lipatan kulit anus penderita. Telur tersimpan dalam suatu bahan yang lengket. Bahan ini dan gerakan dari cacing betina inilah yang menyebabkan gatal-gatal. Telur dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 3 minggu pada suhu ruangan yang normal. Tetapi telur bisa menetas lebih cepat dan cacing muda dapat masuk kembali ke dalam rektum dan usus bagian bawah.

5. Patologi dan Gejala Klinis
Enterobiasis sering asimptomatik. Gejala yang paling khas adalah pruritus perianal  (rasa gatal pada anus), terutama pada malam hari, yang dapat menyebabkan superinfeksi bakteri (iritasi). Kadang-kadang, invasi pada saluran kelamin wanita dengan peradangan vulvovagina dan pelvis atau granuloma peritoneal dapat terjadi. Gejala lain termasuk sakit perut, anoreksia, insomnia, lemah, lekas marah dan masturbasi.

KESIMPULAN
Nemathelminthes termasuk ke dalam organisme parasit. Akibat yang dapat ditimbulkan dari gangguan parasit tersebut ternyata dapat mengganggu kesejahteraan hidup manusia. Sehubungan dengan hal tersebut maka dibutuhkan ilmu untuk mempelajari tentang kehidupan organisme yang bersangkutan. Ilmu ini disebut Parasitologi. Dengan mempelajari siklus hidup parasit, serta bagaimana kemungkinan akibat yang dapat ditimbulkannya, ditunjang dengan ilmu pengetahuan epidemiologi penyakit, kita akan dapat menentukan cara pencegahan dan pengendaliannya.


REFERENSI
1Bitar, “Nemathelminthes: Pengertian, Ciri, Struktur Tubuh, Dan Klasifikasi Beserta Peranannya Lengkap” diakses dari https://www.gurupendidikan.co.id/ pada tanggal 7 Maret 2020
2Nagla Fetouh, “Ancylostoma duodenale”, diakses dari https://animaldiversity.org/accounts/ancylostoma_duodenale/ pada tanggal 8 Maret 2020
3Karen Guy, “Ascaris lumbricoides human intestinal roundworm”, diakses dari https://animaldiversity.org/accounts/ascaris_lumbricoides/ pada tanggal 8 Maret 2020
4Tentorku.com, “Siklus hidup cacing gilik (nematode)”, diakses dari https://www.tentorku.com/daur-hidup-cacing-gilik-nematoda/ pada tanggal 9 Maret 2020
5E-Learning “Nemathelminthes (Nematoda)” diakses dari https://www.broadlearnings.com/lessons/nemathelminthes-nematoda/ pada tanggal 13 Maret 2020.
6Pratiksha Pokhrel, “General Charateristics of Phylum Nemathelminthes” diakses dari https://microbiologynotes.com/general-characteristics-of-phylum-nemathelminthes/ pada tanggal 13 Maret 2020.
7Diah Aryulina, Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf, dan Endang Widi Winarni, “Biologi 1: SMA dan MA untuk kelas X”. 2007. Penerbit ESIS: Jakarta.
8Arthur Fathoni, “Filum Nemathelminthes: struktur tubuh, sistem reproduksi, klasifikasi dan kegunaan”, diakses dari http://www.zonasiswa.com/2014/06/mengenal-phylum-nemathelminthes-cacing.html pada tanggal 14 Maret 2020.
9Ela Fentri, “Pengertian Parasitologi”, diakses dari http://elafentri.mahasiswa.unimus.ac.id/pengertian-parasitologi/ pada tanggal 15 Maret 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar