1.
Turbellaria
Hampir semua anggota
Turbellaria hidup secara bebas, hanya ada beberapa saja yang hidup secara
ektokomensalis atau secara parasitis. Tubuh cacing Turbellaria tidak terbagi
atas segmen-segmen, bagian luarnya ditutupi oleh epidermis yang berinsitium
sebagian daripadanya dilengkapi dengan sel-sel yang menghasilkan zat mucosa.
Contoh: Planaria
sp.
Hidup bebas di perairan
air tawar yang jernih dan tidak mengalir, biasanya berlindung di tempat-tempat
yang teduh.
b.
Struktur Tubuh
Tubuh pipih
dorsoventral, bagian kepala berbentuk segitiga dengan tonjolan yang menyerupai
telinga, yang biasa disebut aurikel, bagian ekor meruncing. Panjang tubuh
sekitar 5-25mm, bagian tubuh sebelah dorsal warnanya lebih gelap daripada warna
tubuh sebelah ventral. Di tengah-tengah bagian dorsal kepalanya terdapat bintik
mata (berfungsi untuk membedakan gelap dan terang). Dekat pertengahan tubuh
bagian ventral agak ke arah ekor terdapat lubang mulut. Lubang mulut
berhubungan dengan kerongkongan yang dindingnya dilengkapi dengan otot daging
sirkular dan longitudinal. Kerongkongan dapat ditarik dan dijulurkan. Dalam
posisi menjulur, kerongkongan tersebut mirip belalai. Di sepanjang pinggiran
tubuh bagian ventral terdapat “zona adesif” yang menghasilkan lendir liat yang
berfungsi untuk melekatkan diri ke permukaan yang ditempelinya. Di permukaan
ventral ditutupi oleh rambut-rambut getar halus.
Dinding tubuh Planaria
pada prinsipnya tersusun atas 4 lapisan jaringan, yaitu secara berturut-turut
dari luar ke dalam sebagai berikut: (1) lapisan epidermis, (2) lapisan kelenjar
sub-epidermis, (3) lapisan otot (musculus), (4) lapisan mesenchym (parenchyma).
a.
Sistem Pencernaan
Makanan
Saluran pencernaan
terdiri atas mulut, faring, esofagus, dan usus halus (intestin). Lubang mulut
dilanjutkan oleh kantung yang berbentuk silindris memanjang dan disebut rongga
mulut (rongga faringeal). Esophagus merupakan persambungan dari faring yang langsung
bermuara ke dalam usus. Usus bercabang tiga, satu menuju ke anterior,
sedangkan yang kedua lagi secara berjajar sebelah menyebelah menuju
ke arah posterior. Masing-masing cabang bercabang lagi ke arah lateral.
Percabangan ke arah lateral disebut “devertikulata”. Planaria sebagian besar
bersifat karnivora. Planaria memiliki kemoreseptor (terletak di kiri-kanan
bagian anterior), sehingga memungkinkan cacing ini bereaksi terhadap zat
makanannya yang berupa rangsangan zat protein. Jika mangsa telah disentuh,
ujung anterior membelok dengan cepat ke arah mangsanya dan kemudian
melingkarinya. Dengan lendir yang diekskresikan oleh kelenjar mukosa dan
“rhabdibes” mangsa dapat diikat erat. Kemudian faring ditonjolkan keluar untuk
mengambil mangsa dan segera ditarik kembali ke dalam rongga mulut.
Makanan dicerna secara
ekstrasel, kemudian sel-sel tertentu pada epitel usus dapat membentuk
pseudopodia dan mencerna mangsanya di dalam vakuola makanan ( pencernaan
intrasel). Sari-sari makanan diabsorpsi dan secara difusi masuk ke seluruh
jaringan tubuh. Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna dikeluarkan kembali ke
usus. Bilamana persediaan makanan telah habis, ia akan memakan tubuhnya
sendiri. Pertama ia akan mengorbankan organ reprodukstif, kemudian sel-sel
parenkim, otot, dan seterusnya. Sehingga tubuhnya berukuran kecil. Ketika ia
mendapatkan makanan, ia melakukan regenerasi pada masing-masing sel yang rusak.
b.
Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi terdiri
dari dua saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala dan bercabang ke
seluruh bagian tubuh dan berakhir di sel api (protonephridia). Sel api adalah
sel berbentuk gelembung berisi seberkas silia dan terdapat lubang di bagian
tengah gelembung itu. Sel api ini berfungsi baik untuk ekskresi maupun
pengaturan osmosis..sel api berlubang dan mengandung silia yang berfungsi untuk
mendorong air dan sisa metabolisme masuk ke dalam saluran ekskresi. Pada
masing-masing sisi tubuh Biasanya terdapat 1-4 buah pembuluh pengumpul yang
membentang longitudinal. Di bagian anterior pembuluh-pembuluh sisi longitudinal
tersebut mengadakan pertemuan, dihubungkan oleh pembuluh transversal sedikit
agak di depan bintik mata. Di bagian posterior pembuluh-pembuluh sisi tersebut
masih terpisah. Di bagian permukaan dorsal daripada tubuhnya, pembuluh-pembuluh
sisi tersebut bermuara pada suatu pori-pori yang disebut nephridiophor. Pada
permukaan dorsal saluran induk mempunyai lubang ekskresi. Pengeluaran sisa
metabolism berlangsung selain melalui saluran ekskresi juga melalui lapisan
gastrodermis.
Belum mempunyai organ
respirasi sehingga pertukaran gas berlangsung secara difusi melalui seluruh
permukaan tubuhnya.
c.
Sistem Syaraf
Susunan syaraf Planaria
bila dibandingkan dengan susunan syaraf Coelenterata sudah lebih maju, sebab
pada Planaria ini sudah ditemukan sejumlah ganglion yang berfungsi sebagai
pusat susunan syaraf. Terdiri dari ganglion serebral, terletak di bagian kepala
dan berfungsi sebagai otak. Dari ganglion serebral ini keluarlah cabang-cabang
urat syaraf secara radier menuju ke arah lateral, anterior dan posterior.
Cabang anterior menuju ke bagian bintik mata, cabang lateral menuju ke alat
indra kemoreseptor sedangkan cabang posterior terdiri dari satu pasang (kanan
dan kiri) yang saling bersejajar yang membentang di bagian ventral tubuh yang disebut
tali syaraf.
d.
Alat Indera
Planaria bersifat
photonegatif. Dari kenyataan bahwa bila Planaria dikenai cahaya pada salah satu
sisinya, maka cacing tersebut akan bergerak menjauhi cahaya. Aurikel merupakan
indera rasa, bau dan sentuhan. Jika aurikel tidak berfungsi, maka hewan
tersebut tidak dapat mengetahui jenis makanan kesukaannya.
e.
Sistem Reproduksi
Planaria bersifat
hermaphrodit, maka dalam tubuh seekor hewan tersebut terdapat alat kelamin
jantan dan alat kelamin betina.
v Trematoda Hati
a.
Fasciola
hepatica
Taksonomi
Kingdom:
Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Ordo : Echinostomida
Family : Echinostomidae
Genus : Fasciola
Spesies : Fasciola hepatica
Fasciola hepatica merupakan salah satu
spesies cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia. Fasciola tergolong
dalam kelas Trematoda, filum Platyhelmintes.
Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi,
dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola hepatica
merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak ditemukan di negara-negara
Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah
1)
Morfologi
Telur:
Ukuran
: 130 – 150 mikron x 63 – 90 mikron
Warna : kuning kecoklatan
Bentuk
: Bulat oval dengan salah satu kutub mengecil, terdapat overculum pada kutub
yang mengecil, dinding satu lapis dan berisi sel-sel granula berkelompok
Cacing
dewasa :
a) Ukuran
30 mm x 13 mm
b) Bersifat
hermaprodit
c) Sistem
reproduksinya ovivar
d) Bentuknya
menyerupai daun
e) Mempunyai
tonjolan konus pada bagian anteriornya
f) Memiliki
batil isap mulut dan batil isap perut, uterus pendek berkelok-kelok.
g) Testis
bercabang banyak, letaknya di pertengahan badan berjumlah 2 buah.
h) Ovarium
sangat bercabang
Ciri
umum :
a) Bentuk
tubuh seperti daun
b) Bentuk
luarnya tertutup oleh kutikula yang resisten merupakan modifikasi dari
epidermis
c) Cacing
dewasa bergerak dengan berkontraksinya otot-otot tubuh, memendek, memanjang dan
membelok
d) Dalam
daur hidup cacing hati ini mempunyai dua macam inang yaitu: inang perantara
yakni siput air dan inang menetapnya yaitu hewan bertulang belakang pemakan
rumput seperti sapi dan domba
e) Merupakan
entoparasit yang melekat pada dinding duktusbiliferus atau pada epithelium
intestinum atau pada endothelium venae dengan alat penghisapnya
f) Makanan
diperoleh dari jaringan-jaringan, sekresi dan sari-sari makanan dalam
intestinum hospes dalam bentuk cair, lendir atau darah.
g) Di
dalam tubuh, makanan dimetabolisir dengan cairan limfa, kemudian sisa-sisa
metabolisme tersebut dikeluarkan melalui selenosit.
h) Perbanyakan
cacing ini melalui auto-fertilisasi yang berlangsung pada Trematoda bersifat
entoparasit, namun ada juga yang secara fertilisasi silang melalui canalis
laurer.
2)
Siklus Hidup
Pada spesies F. Hepatica, cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan
kantong empedu hewan ruminansia dan manusia. Kemudian telur keluar ke alam
bebas bersama feses domba. Bila mencapai tempat basah, telur ini akan menetas
menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak
masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa).
Di dalam tubuh siput ini, mirasidium
tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam tubuh siput selama + 2 minggu).
Sporokista akan menjadi larva berikutnya yang disebut Redia. Hal ini
berlangsung secara partenogenesis. Redia akan menuju jaringan tubuh siput dan
berkembang menjadi larva berikutnya yang disebut serkaria yang mempunyai ekor.
Dengan ekornya serkaria dapat menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang
dalam air.
Di luar tubuh siput, larva dapat menempel
pada rumput untuk beberapa lama. Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi
metaserkaria. Metaserkaria membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan
lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya.
Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola
hepatica. Apabila rumput tersebut termakan oleh hewan ruminansia dan
manusia, maka kista dapat menembus dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam
hati, saluran empedu dan dewasa disana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa
bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.
Penjelasan
Singkat
Telur
–> larva mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea –> sporokista –>
berkembang menjadi larva (II): redia –> larva (III): serkaria yang berekor,
kemudian keluar dari tubuh keong –> kista yang menempel pada tumbuhan air
(terutama selada air –> Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan
ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) –> masuk ke
tubuh dan menjadi cacing dewasa menyebabkan FascioliasisB.
b. Clonorchis sinensis
b. Clonorchis sinensis
Taksonomi
Kingdom:
Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Ordo : Opisthorchiida
Family : Opisthorchiidae
Genus : Clonorchis
Spesies : Clonorchis
sinensis
Gambar 11. Clonorchis
sinensis
Clonorchis
sinensis ini
tinggal di hati manusia, dan ditemukan terutama di umum saluran empedu
dan kantong empedu , makan pada empedu . Hewan ini yang diyakini menjadi lazim
parasit cacing yang paling ketiga di dunia adalah endemik untuk Jepang, Cina,
Taiwan, dan Asia Tenggara, saat ini menginfeksi suatu manusia diperkirakan
30.000.000. Clonorchis sinesnsis adalah
parasit opisthorchid trematoda yang menginfeksi kucing dan manusia di
negara-negara tropis dan subtropis di Asia.
1)
Morfologi
Clonorchis sinensis dewasa memiliki
bagian-bagian tubuh utama: pengisap oral, faring, usus buntu, pengisap ventral,
vitellaria, rahim, ovarium, kelenjar mehlis, testis, kandung kemih exretory.
Telur dari Clonorchis sinensis yang berisi mirasidium yang berkembang ke dalam
bentuk dewasa, mengapung di air tawar sampai dimakan oleh siput.
Telur :
·
Bentuk seperti botol
ukuran 25–30 µm
·
Warna kuning kecoklatan
·
Kulit halus tetapi sangat
tebal
·
Pada bagian ujung yg
meluas terdapat tonjolan
·
Berisi embrio yg bersilia
(mirasidium)
·
Operculum mudah terlihat
·
Infektif untuk siput air
Cacing
Dewasa :
·
Ukuran 12 – 20 mm x 3 – 5
mm
·
Ventral sucker < oral
sucker
·
Usus (sekum) panjang dan
mencapai bagian posterior tubuh
·
Testis terletak
diposterior tubuh & keduanya mempunyai lobus
·
Ovarium kecil terletak ditengah (anterior dari testis)
2) Siklus
Hidup
Siput merupakan pejamu perantara yang
pertama. Sekitar 40 spesies ikan sungai berperan sebagai pejamu sekunder.
Manusia, anjing, kucing dan banyak spesies mamalia pemakan ikan yang lain
merupakan pejamu akhir. Cara penularan dan manusia terinfeksi karena memakan
ikan air tawar. Contohnya daging ikan yang mentah atau dimasak tidak matang
yang di dalamnya terdapat larva berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat
dicerna larva cacing akan terbebas dari dalam kista dan bermigrasi melalui
Duktus Koledokus ke dalam pecabangan empedu.
Telur dalam empedu diekskresikan melalui
tinja. Pada tempat yang sesuai, telur yang fertil (telah dibuahi) akan menetas
menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Jika telur ini termakan oleh
siput (lymnea) sebagai pejamu pertama yang rentan, maka akan menetas dalam usus
siput. Larva atau mirasidium ini dalam 2 minggu akan berubah bentuk menjadi
sporosista.
Sporosista yang tidak bersilia, kemudian
tumbuh dan akhirnya pecah menghasilkan larva kedua disebut redia. Redia masuk
kejaringan siput. Didalam tubuh siput redia akan tumbuh dan berkembang
menghasilkan larva ketiga disebut serkaria. Jadi jika diringkas perkembangan
larva dalam keong air adalah sebagai berikut:
Mirasidium
— sporokista — redia — serkaria
Gambar 12.Siklus Hidup Clonorchis sinensis
Serkaria ini kemudian bermigrasi atau
meningglkan tubuh siput dan masuk ke dalam air. Jika mengenai pejamu kedua
(ikan), serkaria akan menembus tubuh ikan dan biasanya masuk ke dalam daging
ikan atau biasa juga di bawah sisik (kulit). Saat itu membentuk metaserkaria
(kista).
Kemudian melepaskan ekornya. Ikan yang
mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia, jika ikan tersebut tidak
dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista akan masuk ke dalam
sistem pencernaan, kemudian berpindah kehati melalui saluran empedu dan tumbuh
menjadi cacing dewasa, dan mengulang kembali siklus hidupnya.
Gambar 30. Hymenolepis nana
v Trematoda Darah
Trematoda darah merupakan cacing kelas
trematoda yang memiliki banyak perbedaan dengan trematoda lainnya, diantaranya
:
V Alat kelamin jantan dan betina terpisah (tidak
hermafrodit)
V
Cacing dewasa bentuk silindris, tidak pipih
V Ekor serkaria bercabang
V Telur
tidak beroperkulum, tetapi memiliki duri yang letaknya berbeda.Telur akan
segera menetas apabila kontak dengan air.
Pada manusia ditemukan 3 spesies penting:
Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma haematobium. Selain
spesies yang ditemukan pada manusia, masih banyak spesies yang hidup pada
binatang dan kadang-kadang dapat menghinggapi manusia.
a.
Schistosoma
japonicum
Taksonomi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Platyhelminthes
Kelas :
Trematoda
Sub Kelas :
Digenea
Ordo :
Strigeidida
Genus :
Schistosoma
Spesies :Schistosoma
Japonicum
Gambar
13. Schistosoma
japonicum
1)
Morfologi
Telur
–
Ukuran 70-80 µm
–
Bentuk oval, berhialin
–
Warna transparan atau
kuning pucat
–
Spina sukar dilihat,
terletak dilateral dan sangat kecil dapat jadi tertutup butiran-butiran yang
biasanya ditemukan pada permukaan telur
–
Berisi embrio besar
bersilia
–
Serkaria
–
Bentuk badan ovoid
memanjang
–
Memiliki ekor bercabang
Cacing
dewasa
Cacing
jantan panjang ± 1,5cm , gemuk, integumen duri-duri sangat halus dan lancip,
memiliki batil isap perut dan kepala serta kanalis ginekoporik, memliki 6-8
buah testis
Cacing
betina panjang ± 1,9cm, langsing, ovarium ditengah tubuh, uterus merupakan
saluran yang panjang dan lurus berisi 50-100 butir telur, kelenjar vitellaria
di posterior terletak dalam kanalis ginekoporus cacing jantan.
2)
Siklus Hidup
Gambar
14. Siklus Hidup Schistosoma
spp.
Siklus hidup Schistosoma japonicum dan
Schistosoma mansoni sangat mirip. Secara singkat, telur dari parasit dilepaskan
dalam tinja dan jika mengalami kontak dengan air mereka menetas menjadi larva
yang berenang bebas, yang disebut mirasidium. Larva kemudian harus menginfeksi
keong dari genus Oncomelania seperti jenis Lindoensis oncomelania dalam satu
atau dua hari. Di dalam keong, larva mengalami reproduksi aseksual melalui
serangkaian tahapan yang disebut sporokista. Setelah tahap reproduksi aseksual,
serkaria yang dihasilkan dalam jumlah
besar, yang kemudian meninggalkan keong dan harus menginfeksi inang vertebrata
yang cocok. Setelah serkaria menembus kulit tuan rumah kehilangan ekornya dan
menjadi sebuah schistosomule, cacing kemudian bermigrasi melalui sirkulasi,
berakhir di pembuluh darah mesenterika dimana mereka kawin dan mulai bertelur.
Setiap pasangan desposits sekitar 1500 – 3500 telur per hari dalam dinding
usus. Telur menyusup melalui jaringan dan terdapat dalam tinja.
` b. Schistosoma mansoni
Taksonomi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Platyhelminthes
Kelas :
Trematoda
Sub Kelas :
Digenea
Ordo :
Strigeidida
Genus :
Schistosoma
Spesies :Schistosoma
mansoni
Gambar 15. Schistosoma mansoni
1)
Morfologi
Telur
·
Ukuran 150 µm
·
Bentuknya oval , dengan salah
satu kutubnya membulat dan yang lain lebih meruncing
·
Spina lateral terletak
dekat dengan bagian yang membulat besar dan berbentuk segitiga
·
Kulit tipis sangat halus
·
Berwarna kuning pucat
·
Berisi embrio besar
bersilia, diliputi membran (kulit dalam)
Serkaria
·
Bentuk badan ovoid
memanjang
·
Memiliki ekor bercabang
Cacing
dewasa
Cacing jantan panjang ±1 cm, gemuk,
memiliki 6-9 buah testis, pinggir lateral saling mengunci oleh duri acuminate, dimana pada tempat ini
lebih panjang dari tempat lain, memiliki kanalis ginekoporus
Cacing betina panjang ±1,4 cm, langsing,
integumen terdapat duri-duri terutama pada ujung tubuh, letak ovariumdi
anterior pertengahan tubuh, kelenjar vitellaria memenuhi pinggir lateral dari
pertenganhan tubuh, uterus merupakan saluran yang pendek berisi 1-4 butir telur
2)
Siklus Hidup
Siklus
hidup Schistosoma mansoni sama dengan Schistosoma
japonicum
c. Schistosoma Haematobium
Taksonomi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Platyhelminthes
Kelas :
Trematoda
Sub Kelas :
Digenea
Ordo :
Strigeidida
Genus :
Schistosoma
Spesies :
Schistosoma haematobin
Gambar 16. Schistosoma haematobium
1)
Morfologi
Telur
Telur
berukuran ±145 x 60 mikron, duri di ujung, berisi mirasidium, telur berwarna
coklat kekuningan.
Serkaria
Bentuk
badan ovoid memanjang
Memiliki
ekor bercabang
Cacing
dewasa
Cacing
jantan panjang ±1,3 cm, gemuk, memiliki 3-4 buah testis, memiliki kanalis
ginekoporus, memiliki 2 batil isap berotot yang ventral lebih besar.
Cacing
betina panjang ± 2 cm, langsing, batil isap kecil, ovarium terletak posterior
dari pertengahan tubuh, uterus panjang berisi 20-30 telur.
v Tremotoda Usus
Gambar 17.Tremotoda Usus
a.
Fasciolopsis buski
1)
Morfologi
Cacing dewasa
F.buski adalah Trematoda terbesar yang parasit pada manusia.
v Bentuk: bujur telur, warna seperti
daging.
v Ukuran: panjang 2 – 7,5cm, lebar 2 –
20mm, tebal 0,5–3mm
v Kutikulum: diliputi baris-baris duri kecil
melintang.Batil isap kepala besarnya ¼ batil isap perut & berdekatan.
v Testis: bercabang banyak, formasi cranio
caudal.
v Ovarium: di pertengahan badan sebelah kanan
garis tengah.
Telur
Bentuk :
Ellips
Warna : Kekuning kuningan
Kulit : tipis, jernih, operculum kecil
Ukuran
: 130 – 140 u x 80
Gambar 18. Telur
2) Daur Hidup
Gambar 19. Siklus Hidup Fasciolopsis Buski
•Hospes definitive:
Manusia, babi & kadang - kadang anjing.
•Habitat : Usus halus
(duodenum dan jejunum), kadang
ditemukan di
lambung& colon.
Umurnya
singkat (kurang dari 6 bulan).
HP I :
Keong air dari genus Segmentina, Hippeutis, dan Gyraulus.
•Perkembangan dalam keong : S-R1-R2-C.
•HP II: Tumbuh-tumbuhan air seperti Trapa (lengkak air), Eichornia
(eceng gondok) Eliocharis (“water chestnut”) dan Zizaniz (bambu air).
Cercaria
setelah berenang dalam air dalam1–3 minggu melekat dan menjadi Metacercaria
pada tumbuhan air.
b.
Heterophyidae
Merupakan cacing daun kecil
-
Bentuk :seperti buah jambu Sebagai parasit di saluran pencernaan binatang
pemakan ikan, (anjing& kucing, juga manusia).
Spesies
yang menginfeksi manusia yaitu:
Heterophyes heterophyes
1) Heterophyes heterophyes
Warna : kelabu, seperti buah jambu
Ukuran : 1,3 x 0,5 mm
Kutikula : berduri-duri halus seperti sisik
Batil isap perut di 1/3 tengah
anterior badan
Gambar 20. Heterophyses
heterophyses
Batil isap
genital di pinggir posterior kiri batil isap perut. Testis oval, formasi
sebelah-menyebelah di 1/5 posterior badan.Tidak mempunya cirrus dan kantung
cirrus, lubang vesicular seminalis dalam batil isap
genital. bulat, sebelah anterior dari testis.
Kelenjar
vitellaria berbentuk seperti folikel polygonal yang besar di 1/3 posterior lateral.
Gambar 21. H.heterophyes H.heterophyes nocens
Telur
Bentuk : seperti bola lampu pijar, lebih lonjong
Ukuran : 30
x 16 mikron
Warna : coklat muda
Kulit : tebal, dengan operculum. Mengandung satu miracidium.
Selain itu kulit telur terdapat penonjolan sedikit pada pinggir operculum.
Daur Hidup
Hospes definitive : Manusia dan
hewan pemakan ikan
Habitat : Usus halus bagian tengah
HP I : Keong air payau,
Gambar 22. Daur Hidup Heterophyes heterophyes
2.Echinostoma
·
Bentuk: seperti lanset,
·
Panjang: 2,5-6,5mm, lebar 1-1,35mm
·
tebal 0,5-0,6mm.
·
Ujung anterior: seperti cakram (circumoral disk).
Gambar 23. Echinostoma
·
Mempunyai duri-duri tersusun seperti leher baju seperti
ladam
·
kuda(collar spine).
·
Kutikula: mempunyai sisik dan duri-duri kecil.
·
Testis: berlobus tersusun tandem cranio-caudal.
Ovarium.:
bulat, di sebelah anterior testis.
Telur
·
Bentuk : Lonjong,
·
Ukuran : 85 – 120 x 50 – 80 um
·
Kulit : tipis
·
Mempunyai operculum dan mengandung miracidium yang belum
berkembang.
·
Hospes definitive : Tikus, burung, manusia
·
Habitat : Rongga usus muda
·
HP I : keong air dari genus Anisus
·
HP I I : keong air
dari genus Pila, Corbicula (remis).
•Telur matang ±3 minggu
sesudah meninggalkan definitive dan Miracidium masuk keong.
Perkembangan dlm keong
(HPI ): M-R1-R2-C.Cercaria
keluar dari keong dewasa pada keong jenis lain, ikan, tumbuh-tumbuhan air (HP II)
1)
Trematoda Paru
Paragonimus westermani
Hospes : Manusia dan binatang spt. kucing, luwak, harimau, anjing,
serigala dll.
Penyebaran geografik : Timur jauh, Asia
Tenggara.
Habitat : saluran pernapasan (paru-paru)
Cacing dewasa :
– Seperti
biji kopi, biasanya berpasangan
– Warna
coklat tua
– Ukuran
8-12 x 4-6 mm
Daur Hidup
Cacing dalam klas
cestoidea disebut juga cacing pita karena bentuk tubuhnya yang panjang dan
pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai saluran pencernaan ataupun
pembuluh darah. Tubuhnya memanjang terbagi atas segmen-segmen yang disebut
proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa berisi alat reproduksi jantan
dan betina.
Gambar 26. Cestoda
a.
Morfologi Umum Cestoda
Ukuran cacing dewasa pada
Cestoda bervariasi dari yang panjangnya hanya 40 mm sampai yang panjangnya
10-12 meter. Cestoda adalah cacing hermafrodit. Cacing ini terdiri atas scolex
(kepala) yang berfungsi sebagai alat untuk mengaitkan diri pada dinding
intestinum. Di belakang scolex terdapat leher, merupakan bagian cacing yang
tidak bersegmen. Di belakang leher tumbuh proglotid yang semakin lama semakin
banyak yang menyebabkan cacing menjadi semakin panjang dan bersegmen-segmen.
Setiap proglotid (segmen)
dilengkapi dengan alat reproduksi (jantan dan betina). Semakin jauh dari
scolex, proglotidnya semakin tua sehingga proglotid yang paling ujung seolah
olah hanya sebagai kantung telur saja sehingga disebut proglotid gravida.
Proglotid muda selalu dibentuk dibelakang leher, sehingga proglotid tua akan
didorong semakin lama semakin jauh letaknya dari scolex. Seluruh cacing mulai
scolex, leher, sampai proglotid yang terakhir disebut strobila.
Cestoda berbeda dengan
nematoda dan trematoda, tidak memiliki usus. Makanan masuk dalam tubuh cacing
karena diserap oleh permukaan tubuh cacing.
Bagian tubuh:
1)
Kepala
(scolex)
Berfungsi untuk melekat (
biasanya membulat).Pada eucestoda biasanya mempunyai 4 sucker (acetabulum) yang
dapat dilengkapi dengan kait. Pada bagian skoleks dapat juga dijumpai adanya
rostellum (penonjolan/moncong) yang sering dilengkapi dengan kait.
Pada cotyloda tidak
mempunyai organ melekat seperti eucestoda (acetabulum) tetapi mempunyai bothria
(celah panjang dan sempit serta berotot lemah).
2)
Leher
Tidak bersegmen, sesudah
scoleks melanjut ke leher.
3)
Tubuh
atau badan
Terdiri dari
segmen-segmen (Proglottid) yang dipisahkan oleh garis-garis transversal,
tiap-tiap proglotid biasanya mengandung 1 atau 2 set organ reproduksi.
4)
Proglottid
Dibentuk mulai dari leher
yang makin menjahui scoleks semakin dewasa/masak. Dikenal tiga macam proglotid,
yaitu proglottid muda, proglottid dewasa (organ reproduksi berkembang dan
berfungsi sempurna) dan proglotid gravid (penuh telur, organ reproduksi
mengalami degenerasi). Pada banyak cacing pita, telur tidak dikeluarkan tetapi
mengumpul di proglotid gravid, selanjutnya proglotid ini lepas dan keluar
bersama feses. Pada eucestoda proglotid-proglotid jelas terpisah tetapi pada
cotyloda tidak jelas (pembentukannya sama-sama dalam satu waktu, contoh: pada
plerocercoid yang tidak bersegmen). Berdasarkan lepasnya proglotid, cestoda
dibagi menjadi :
a)
Apolytic Cestoda : melepaskan
segmen gravid.
b)
Anapolytic Cestoda :
tetap membawa segmen gravid selama hidup.
c)
Euapolytic Cestoda :
Segmen dilepas waktu hamper gravid.
d)
Hyperapolytic Cestoda:
segmen dilepas jauh sebelum gravid dan bebas di usus hospes.
e)
Pseudoapolytic Cestoda:
telur keluar lewat porus uterus kemudian segmen dilepas dalam kelompok dan
degenerasi (Ex: pada cotyloda).
b. Klasifikasi
Cestoda
Cacing pita termasuk
subkelas Cestoda, kelas CESTOIDEA, filum PLATYHELMINTES. Cacing dewasanya
menempati saluran usus vertebrata danlarvanya hidup di jaringan vertebrata dan
invertebrata. Bentuk badan cacing dewasa memanjang menyerupai pita, biasanya
pipih dorsoventral, tidak mempunyai alat pencernaan atau saluran vaskular
dan biasanya terbagi dalam segmen-segmen yang disebut proglotid yang bila
dewasa berisi alat reproduktif jantan dan betina. Ujung bagian anterior
berubah menjadi sebuah alat pelekat, disebut skoleks, yang dilengkapi dengan
alat isap dan kait-kait. Spesies penting yang dapat menimbulkan kelainan pada manusia
umumnya adalah: Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana,
Echinococcus granulosus, Echinococcus multilocularis, Taenia saginata, dan
Taenia solium.Manusia merupakan hospes cestoda ini dalam bentuk:
1) Cacing
dewasa, untuk spesies Diphyllobothrium latum, Taenia saginata,
Taenia solium, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta, Dipylidium caninum.
2) Larva,
untuk spesies Diphyllobothrium sp, Taenia solium, Hymenolepis nana,
Echinococcus granulosus, Multiceps.
Menurut habitatnya, cestoda dapatdibagi
menjadi dua ordo, yaitu Pseudophyllidea dan Cyclophyllidea.
a) Ordo
Pseudophyllidea
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Pseudophyllidea
Family : Diphyllobothriidae
Genus : Diphyllobothrium
Species :Diphyllobotrium latum
Diphyllobothrium
latum
Cacing pita ini sering
ditemukan berparasit pada hewan carnivora pemakan ikan, terutama di Eropa
Utara. Sering menginfeksi anjing, kucing, beruang dan pada orang. D.
latum sering dilaporkan menginfeksi orang di daerah tertentu, bahkan
hampir 100% di suatu lokasi orang terinfeksi oleh parasit ini. Orang yang
terinfeksi banyak dijumpai didaerah Scandinavia, Baltic dan Rusia. Juga
dilaporkan di Amerika Selatan, Irlandia dan Israil. Panjang cacing dapat
mencapai 9 m dan mengeluarkan jutaan telur/hari. Tubuhnya panjang yang terdiri
dari segmen-segmen disebut proglotida yang berisi testes dan folicel.
Morfologi Diphyllobothrium latum
·
Panjangnya mencapai ±900
cm, lebar 2,5 cm.
·
Terdiri atas 4000
proglotid.
·
Mempunyai sepasang celah
penghisap (bothria) di bagian ventral dan dorsal pada skoleks.
·
hermafrodit
Daur Hidup Diphyllobothrium latum
Telur keluar melalui
feses dan berkembang membentuk embrio yang akan berkembang dalam air. Telur
berkembang menjadi coracidium dalam waktu 8 hari sampai beberapa minggu
bergantung suhu lingkungan. Coraciudium keluar melalui operkulum telur dan
coracidium yang berisilia berenang mncari hospes intermedier ke 1 dari
jenis Copepoda krustacea termasuk genus Diaptomus.
Segera setelah masuk kedalam usus krustasea tersebut, coracidium melepaskan
silianya dan penetrasi melalui dinding usus dan masuk ke haemocel (sistem
darah) krustasea menjadi parasit dengan memakan sari makana dalam tubuh
krustasea tersebut. Selama sekitar 3 minggu coracidium berkembang dan bertambah
panjang sampai sekitar 500 um dan disebut procercoid dan tidak berkembang lagi
dalam tubuh krustasea tersebut. Bila krustasea dimakan ikan air tawar sebagai
hospes intermedier ke 2, procercoid ada dalam usus ikan dan menembus melalui
dinding intestinum masuk kedalam istem muskularis dan berparasit dengan memakan
unsur nutrisi dari ikan tersebut dan procercoid berkembang menjadi
plerocercoid. Plerocercoid berkembang dari beberapa mm menjadi beberapa cm.
Plerocercoid akan terlihat pada daging ikan mentah yang berwarna putih dalam
bentuk cyste. Bila daging ikan tersebut dimakan orang, cacing berkembang dengan
cepat dan menjadi dewasa serta mulai memproduksi telur pada 7-14 hari kemudian.
b)
Ordo Cyclophyllidea
Famili Taeniidae
1) Taenia
saginata
Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Famili : Taeniidae
Genus : Taenia
Spesies : Taenia
saginata
Gambar 27. Taenia saginata
Cacing pita ini adalah
cacing pita yang paling sering ditemukan pada manusia dan ditemukan di semua
negara yang orangnya mengkonsumsi daging sapi. Cacing ini panjangnya
sekitar 3-5 m dan terdiri dari 2000 proglotida. Scolexnya mempunyai 4 batil
isap yang dapat menghisap sangat kuat.
a)
Morfologi T.
saginata
Cacing dewasa
·
Panjangnya 4-10 m.
·
Memiliki 1000 –2000
·
Proglotid.
·
Memiliki scoleks dengan
diameter 1 –2mm.
·
Mempunyai 4 penghisap
tanpa hook.
b)
Daur
hidup T. Saginata
Gambar 28. Daur hidup Taenia sp
Proglotida yang berisi
penuh telur melepaskan diri dari tubuh cacing dan keluar melalui feses atau
dapat keluar sendiri dari anus. Setiap segmen terlihat seperti cacing
tersendiri dan dapat merayap secara aktif. Setiap segmen /proglotida dapat
dikelirukan sebagai cacing trematoda atau bahkan nematoda.
Bilamana segmen
mulai mengering maka bagian dinding ventral robek dan telur keluar dari lubang
robekan tersebut. Pada saat itu telur berembrio dan infektif dapat menginfeksi
hospes intermedier dan bila tidak telur dapat bertahan berminggu-minggu. Hospes
intermedier palimng utama adalah sapi, tetapi dapat pula pada kambing dan
domba.
Bila telur termakan oleh
sapi kemudian menetas dalam duodenum, yang dipengaruhi oleh asam lambung dan
sekresi intestinum. Hexacant yang keluar dari telur langsung berpenetrasi
kedalam mukosa dan masuk kedalam venula intestinum, terbawa oleh aliran darah
keseluruh tubuh. Cacing muda tersebut biasanya meninggalkan kapiler masuk
diantara sel muyskulus dan masuk dalam serabut otot (muscle fiber) dan
berparasit di lokasi tersebut, kemudian menjadi cysticercus dalam waktu 2
bulan. Metacercaria ini berwarna putih seperti mutiara dengan ukuran diameter
10 mm yang berisi satu skolek invaginatif. Penyakit yang disebabkan oleh cacing
ini pada sapi disebut Cysticercisis bovis.
Orang memakan daging sapi
yang terinfeksi oleh cacing ini akan tertular bilamana daging sapi tersebut
dimasak kurang matang/masih mentah. Cysticercus terdigesti oleh cairan empedu
dan cacing mulai tumbuh dalam waktu 2012 minggu dan menjadi dewasa membentuk
proglotida yang berisi telur.
2) Taeniia
solium
Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Famili : Taeniidae
Genus : Taenia
Gambar 29. Taenia solium
Adalah cacing pita babi
yang paling berbahaya pad orang, karena kemungkinan terjadinya infeksi sendiri
oleh cysticercus dapat terjadi. Cacing dewas panjangnya 1,8-3 m.
a)
Morfologi
·
Cacing dewasa panjangnya
4-10 m.
·
Memiliki 1000 –2000
proglotid.
·
Memiliki scoleks dengan
diameter 1 –2mm.
·
Mempunyai 4 penghisap
tanpa hook.
b)
Daur
Hidup dan Patologi Taenia solium
Daur hidupnya mirip
dengan T. saginatus, tetapi hospes intermedier berbeda dimana T.
saginatus. Pada sapi dan T. solium pada babi. Proglotid
yang penuh telur keluar melalui feses, kemudian telur infektif keluar dimakan
oleh babi. Telur menetas dalam tubuh babi dan telur dan membentuk Cysticercus
celluloses, didalam daging (otot) atau organ lainnya. Orang akan mudah
terinfeksi bila memakan daging babi yang kurang masak. Cysticercus berkembang
menjadi cacing cacing muda yang langsung menempel pada dinding intestinum dan
tumbuh menjadi dewasa dalam waktu 5-12 minggu. Dimana cacing ini dapat bertahan
hidup sampai 25 tahun.
Famili Hymenolipipidae
1) Hymenolepsis
nana
Taksonomi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Platyhelminthes
Class :
Cestoidea
Order :
Cyclophyllidea
Family :
Hymenolepididae
Genus : Hymenolepis
Species : Hymenolepis
nana
Parasit ini merupakan
cacing pita yang cosmopolitan dan sering dijumpai pada manusia, terutama
anak-anak dengan rata-rata infeksi sekitar 1-9% di Amerika Serikat dan
Argentina. Cacing berukuran 40 mm, lebar 1 mm.
a)
Morfologi
·
Merupakan golongan
Cestoda yang memiliki ukuran terkecil dengan panjang ±25 mm-10 cm dan lebar 1
mm
·
Skoleksnya bulat memiliki
rostellum yang refraktil dengan mahkota kait-kait 20-30 buah
·
Strobila terdiri dari
kira-kira 200 proglotid
·
Telurnya bulat, mempunyai
2 membran yang meliputi embrio dengan 6 buah kait
·
Dikenal sebagai cacing
pita kerdil
·
Kosmopolitan
·
Terdapat di tikus dan
mencit, pada manusia khususnya anak-anak
b)
Daur
Hidup Hymenolepis nana
Proglotida yang telah
matang dan berisi telur melepaskan diri kemudian mengeluarkan telur infektif.
Hospes intermediernya tidak tertentu, karena dapat menu;ar ke orang maupun
tikus. Telur yang termakan akan menetas dalam duodenum dan mengeluarkan
onchosfer yang penetrasi masuk kedalam mukosa dan tinggal di saluran limfe
didaerah vili. Di lokasi tersebut cacing berkembang menjadi cysticercoid. Dalam
waktu 5-6 hari cuysticercoid masuk kedalam lumen usus halus dan melekat di
lokasi tersebut dan berkembang menjadi dewasa.
2) Hymenolepis
diminuta
Taksonomi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Platyhelminthes
Class :
Cestoidea
Order :
Cyclophyllidea
Family :
Hymenolepididae
Genus : Hymenolepis
Species : Hymenolepis diminuta
Gambar 31. Hymenolepis
diminuta
Cacing ini juga merupakan
cacing cosmoploitan yang terutama berparasit pada tikus rumah, tetapi banyak
kasus dilaporkan menginfeksi pada orang. Ukuran lebih besar daripada V.
nana, yaitu sampai 90 cm. Sebagai hospes intermedier adalah beberapa
spesies arthropoda, misalnya jenis kumbang (Tribolium spp) adalah hospes
intermedier yang sangat berperan terhadap infeksi pada tikus dan manusia.
a)
Morfologi
·
Cacing dewasa berukuran
20-60 cm
·
Skoleks kecil bulat,
mempunyai 4 sucker dan rostelum tanpa kait
·
Proglotid gravid lepas
dari strobila
b)
Daur
Hidup Hymenolepis diminuta
Daur hidup H. Diminuta sama dengan H. nana
Famili Dylepipidae
Dipylidium
caninum
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Famili : Dipylidiidae
Genus : Dipylidium
Spesies :Dipylidium caninum
Gambar
32. Dipylidium
caninum
a)
Morfologi
·
Panjang 50 cm, lebar 3 mm
(cacing dewasa)
·
Skoleks ber-sucker,
sebuah rostellum refraktil, memiliki 4-7 baris hook.
·
Proglotid memiliki 2 alat
reproduksi lengkap
b)
Siklus
Hidup
Segmen cacing yang
mengandung telur yang mengandung telur gravid keluar dari tubuh bersama feses
anjing/kucing secara spontan. Segmen tersebut secara aktif bergerak di daerah
anus atau jatuh ke tanah dan membebaskan telur cacing. Kapsul cacing yang
berisi embrio akan termakan oleh larva pinjal. Kapsul tersebut pecah sehingga
onkosfer menetas dan membebaskan embrio di dinding usus larva pinjal yang
selanjutnya berkembang mesnjadi sistiserkoid di dalam jaringan tubuh larva.
Saat pinjal menyelesaikan metamorfosisnya dan menjadi dewasa, sistiserkoid
mejadi infektif. Anjing/kucing yang tanpa sengaja memakan pinjal maka akan
terinfeksi oleh cacing Dipylidium sp. Di dalam usus akan mengalami evaginasi,
skoleks akan melekat diantara villi usus halus dan lama-lama akan berkembang
sebagai cacing dewasa.
Spesies pinjal Ctenocephalides Sp. dan Pulex irritans merupakan hospes antara yang paling sering ditemukan. Meskipun kutu Trichodectes canis juga dapat bertindak sebagai hospes antara. Larva pinjal mungkin mengkonsumsi sejumlah kapsul telur yang tiap telur mengandung sejumlah onkosfer. Seekor pinjal dapat memiliki sistiserkoid dalam jumlah besar sehingga dapat menginfeksi anjing beberapa kali.
Spesies pinjal Ctenocephalides Sp. dan Pulex irritans merupakan hospes antara yang paling sering ditemukan. Meskipun kutu Trichodectes canis juga dapat bertindak sebagai hospes antara. Larva pinjal mungkin mengkonsumsi sejumlah kapsul telur yang tiap telur mengandung sejumlah onkosfer. Seekor pinjal dapat memiliki sistiserkoid dalam jumlah besar sehingga dapat menginfeksi anjing beberapa kali.
2.
Monogenea
a.
Klasifikasi Ilmiah Monognea
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Monogenea
Upakelas : Monopisthocotylea
Polyopisthocotylea
Gambar
33. Monogenea
b.
Ciri-ciri Kelas Monogenea
Monogenea adalah kelas dari anggota hewan tak
bertulang belakang yang termasuk dalam filum Platyhelminthes. Hewan dari kelas Monogenea umumnya
parasit. Hewan ini juga tidak memiliki rongga tubuh. Monogenea mempunyai sistem
pencernaan sederhana yang mencakup lubang mulut, usus, serta anus. Contohnya
Noebenedenia.
Monogenea merupakan cacing pipih parasit
yang berukuran sangat kecil, cacing ini ditemukan terutama pada kulit atau
insang ikan. Cacing ini jarang memiliki ukuran lebih dari 2 cm. Beberapa
spesies yang menginfeksi ikan laut tertentu berukuran lebih besar dan cacing yang
hidup di laut pada umumnya lebih besar daripada yang ditemukan pada inang air
tawar. Monogenea kurang dalam sistem pernapasan, tulang dan peredaran darah dan
tidak memiliki penghisap 0ral (kurang begitu berkembang).
Monogenea menempel pada inang menggunakan
kait, penjepit dan berbagai struktur khusus lainnya. Mereka secara dramatis
mampu memanjang dan memperpendek ketika bergerak. Ahli biologi perlu memastikan
bahwa spesimen ini benar-benar dalam kondisi relaks sebelum pengukuran
dilakukan.
Seperti semua ektoparasit, Monogenea
memiliki struktur untuk menempel yang berkembang dengan baik. Struktur anterior
secara kolektif disebut prohaptor, sedangkan yang posterior secara kolektif
disebut opisthaptor. Bagian posterior opishaptor denga bentuk seperti kait,
jangkar, penjepit, dll biasanya merupakan organ penempelan utama.
Seperti cacing pipih lainnya, Monogenea
tidak memiliki rongga tubuh sejati (coelom). Mereka memiliki sistem pencernaan
sederhana yang terdiri dari bukaan mulut dengan faring berotot dan usus tanpa
bukaan akhir (anus). Umumnya, mereka juga bersifat hermafrodit dengan organ
reproduksi fungsional dari kedua jenis kelamin yang ada pada satu individu.
Kebanyakan spesies bertelur (ovipar) tetapi beberapa diantaranya beranak (vivipar).
Monogenea merupakan Platyhelminthes, oleh karena itu Monogenea adalah salah
satu invertebrata terendah yang memiliki tiga lapisan kulit embrionik;
endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Selain itu, mereka memiliki kepala yang
berisi organ-organ penginderaan dan jaringan saraf (otak).
Monopisthocotylea :
Monopisthocotylea :
1)
Genus Gyrodactylus,
tidak memiliki titik mata dan bersifat vivipar (beranak).
2)
Genus Dactylogyrus,
memiliki empat titik mata dan bersifat ovipar. Genus ini merupakan genera
metazoa yang paling banyak, dimana setidaknya memiliki 970 species.
3)
Genus Neobenedenia,
berukuran lebih besar dan hidup pada kulit spesies laut tropis, menyebabkan
infeksi yang parah pada budidaya hewan laut.
Semua genus diatas
dapat menyebabkan epizootik (penyakit yang muncul sebagai kasus baru pada
populasi hewan tertentu, selama periode tertentu) pada budidaya ikan air.
Polyopisthocotylea:
1)
Genus Diclidophora,
kebanyakan ditemukan pada ikan laut dan air tawar primitif seperti ikan
sturgeon dan paddlefish.
2)
Genus Protopolystoma,
ditemukan pada katak bercakar (spesies xenopus species).
c.
Ekologi
Dan Siklus Hidup
Monogenea memiliki
siklus hidup yang paling sederhana diantara Platyhelminthes yang bersifat
parasit. Mereka tidak memiliki inang perantara dan bersifat ektoparasit pada
ikan (kadang-kadang ada dikandung kemih dan rektum vertebrata berdarah dingin).
Meskipun mereka hermafrodit, system reproduksi jantan berfungsi terlebih dahulu
sebelum bagian reproduksi betina. Telur yang menetas melepaskan larva yang
sangat bersilia dikenal sebagai oncomiracidium. Oncomirasidium ini memiliki
banyak kait posterior dan umumnya merupakan tahap kehidupan yang bertanggung
jawab untuk transmisi dari inang ke inang.
Tidak ada monogenea
yang diketahui menginfeksi burung, tapi ada satu spesies (oculotrema
hippopotami) yang menginfeksi mamalia, yaitu menjadi parasite pada mata kuda
nil.
DAFTAR
PUSTAKA
Pamungkas B.A. 2015 09 15. Helminthologi
Trematoda Usus Dan Paru. Diambil kembali dari
https://id.scribd.com/doc/281126806/IT-24-Helminthologi-Trematoda-Usus-Dan-Paru-MZH
Agung Fahri. 2015 06. Makalah
Platyhelminthes. Diambil kembali dari http://d emsiagungfahri11.blogspot.com/2015/06/makalahinvertebrataphylum.html
CDC. 2019 08 14.
Schistosomiasis. Diambil kembali dari
https://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/index.html
CDC. 2019 05 02.
Fascioliasis. Diambilkemballi dari https://www.cdc.gov/dpdx/fascioliasis/index.html
CDC. 2019 06 29.
Clonorchis. Diambil kembali dari https://www.cdc.gov/parasites/clonorchis/index.html
Triyani. 2013 06
02.Trematoda Hati. Diambil kembali
dari https://www.google.com/amp/s/triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/trematoda-hati-dan-trematoda-darah/amp/
Dunia
Pendidikan. 2020 01 09. Platyhelminthes.
Diambilkembali dari https://duniapendidikan.co.id/platyhelminthes/
Dosen Pendidikan. 2019 10 24. Platyhelminthes. Diambilkembali dari https://www.dosenpendidikan.co.id/platyhelminthes-adalah/
Samhis Setiawan. 2019 09
06. Siklus Hidup Cacing Pipih.
Diambil kembali dari https://www.gurupendidikan.co.id/siklus-hidup-cacing-pipih-beserta-sistem-pencernaan-klasifikasi/
Tentorku. 2018
01 28. Siklus Hidup Cacing Isap.
Diambil kembali dari https://www.tentorku.com/siklushidup-cacing-isap-trematoda/#siklus-trematoda
Tentorku. 2016 02 06. Siklus Hidup Cacing Pita. Diambil
kembali dari https://www.tentorku.com/siklus-hidup-cacing-pita-cestoda/



























Tidak ada komentar:
Posting Komentar