Senin, 13 April 2020

KLASIFIKASI PLATYHELMINTHES

1.      Turbellaria
Hampir semua anggota Turbellaria hidup secara bebas, hanya ada beberapa saja yang hidup secara ektokomensalis atau secara parasitis. Tubuh cacing Turbellaria tidak terbagi atas segmen-segmen, bagian luarnya ditutupi oleh epidermis yang berinsitium sebagian daripadanya dilengkapi dengan sel-sel yang menghasilkan zat mucosa.
Contoh: Planaria sp.






Hidup bebas di perairan air tawar yang jernih dan tidak mengalir, biasanya berlindung di tempat-tempat  yang teduh.
b.        Struktur Tubuh


Tubuh pipih dorsoventral, bagian kepala berbentuk segitiga dengan tonjolan yang menyerupai telinga, yang biasa disebut aurikel, bagian ekor meruncing. Panjang tubuh sekitar 5-25mm, bagian tubuh sebelah dorsal warnanya lebih gelap daripada warna tubuh sebelah ventral. Di tengah-tengah bagian dorsal kepalanya terdapat bintik mata (berfungsi untuk membedakan gelap dan terang). Dekat pertengahan tubuh bagian ventral agak ke arah ekor terdapat lubang mulut.  Lubang mulut berhubungan dengan kerongkongan yang dindingnya dilengkapi dengan otot daging sirkular dan longitudinal. Kerongkongan dapat ditarik dan dijulurkan. Dalam posisi menjulur, kerongkongan tersebut mirip belalai. Di sepanjang pinggiran tubuh bagian ventral terdapat “zona adesif” yang menghasilkan lendir liat yang berfungsi untuk melekatkan diri ke permukaan yang ditempelinya. Di permukaan ventral ditutupi oleh rambut-rambut getar halus.
Dinding tubuh Planaria pada prinsipnya tersusun atas 4 lapisan jaringan, yaitu secara berturut-turut dari luar ke dalam sebagai berikut: (1) lapisan epidermis, (2) lapisan kelenjar sub-epidermis, (3) lapisan otot (musculus), (4) lapisan mesenchym (parenchyma).
a.        Sistem Pencernaan Makanan
Saluran pencernaan terdiri atas mulut, faring, esofagus, dan usus halus (intestin). Lubang mulut dilanjutkan oleh kantung yang berbentuk silindris memanjang dan disebut rongga mulut (rongga faringeal). Esophagus merupakan persambungan dari faring yang langsung bermuara ke dalam usus. Usus bercabang tiga, satu  menuju ke anterior, sedangkan yang kedua lagi  secara berjajar sebelah menyebelah  menuju ke arah posterior. Masing-masing cabang bercabang lagi ke arah lateral. Percabangan ke arah lateral disebut “devertikulata”. Planaria sebagian besar bersifat karnivora. Planaria memiliki kemoreseptor (terletak di kiri-kanan bagian anterior), sehingga memungkinkan cacing ini  bereaksi terhadap zat makanannya yang berupa rangsangan zat protein. Jika mangsa telah disentuh, ujung anterior membelok dengan cepat ke arah mangsanya dan kemudian melingkarinya. Dengan lendir yang diekskresikan oleh kelenjar mukosa dan “rhabdibes” mangsa dapat diikat erat. Kemudian faring ditonjolkan keluar untuk mengambil mangsa dan segera ditarik kembali ke dalam rongga mulut.
Makanan dicerna secara ekstrasel, kemudian sel-sel tertentu pada epitel usus dapat membentuk pseudopodia dan mencerna mangsanya di dalam vakuola makanan ( pencernaan intrasel). Sari-sari makanan diabsorpsi dan secara difusi masuk ke seluruh jaringan tubuh. Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna dikeluarkan kembali ke usus. Bilamana persediaan makanan telah habis, ia akan memakan tubuhnya sendiri. Pertama ia akan mengorbankan organ reprodukstif, kemudian sel-sel parenkim, otot, dan seterusnya. Sehingga tubuhnya berukuran kecil. Ketika ia mendapatkan makanan, ia melakukan regenerasi pada masing-masing sel yang rusak.
b.        Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi terdiri dari dua saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala dan bercabang ke seluruh bagian tubuh dan berakhir di sel api (protonephridia). Sel api adalah sel berbentuk gelembung berisi seberkas silia dan terdapat lubang di bagian tengah gelembung itu. Sel api ini berfungsi baik untuk ekskresi maupun pengaturan osmosis..sel api berlubang dan mengandung silia yang berfungsi untuk mendorong  air dan sisa metabolisme masuk ke dalam saluran ekskresi. Pada masing-masing sisi tubuh Biasanya terdapat 1-4 buah pembuluh pengumpul yang membentang longitudinal. Di bagian anterior pembuluh-pembuluh sisi longitudinal tersebut mengadakan pertemuan, dihubungkan oleh pembuluh transversal sedikit agak di depan bintik mata. Di bagian posterior pembuluh-pembuluh sisi tersebut masih terpisah. Di bagian permukaan dorsal daripada tubuhnya, pembuluh-pembuluh sisi tersebut bermuara pada suatu pori-pori yang disebut nephridiophor. Pada permukaan dorsal saluran induk mempunyai lubang ekskresi. Pengeluaran sisa metabolism berlangsung selain melalui saluran ekskresi juga melalui lapisan gastrodermis.
Belum mempunyai organ respirasi sehingga pertukaran gas berlangsung secara difusi melalui seluruh permukaan tubuhnya.
c.         Sistem Syaraf
Susunan syaraf Planaria bila dibandingkan dengan susunan syaraf Coelenterata sudah lebih maju, sebab pada Planaria ini sudah ditemukan sejumlah ganglion yang berfungsi sebagai pusat susunan syaraf. Terdiri dari ganglion serebral, terletak di bagian kepala dan berfungsi sebagai otak. Dari ganglion serebral ini keluarlah cabang-cabang urat syaraf secara radier menuju ke arah lateral, anterior dan posterior. Cabang anterior menuju ke bagian bintik mata, cabang lateral menuju ke alat indra kemoreseptor sedangkan cabang posterior terdiri dari satu pasang (kanan dan kiri) yang saling bersejajar yang membentang di bagian ventral tubuh yang disebut tali syaraf.

d.        Alat Indera
Planaria bersifat photonegatif. Dari kenyataan bahwa bila Planaria dikenai cahaya pada salah satu sisinya, maka cacing tersebut akan bergerak menjauhi cahaya. Aurikel merupakan indera rasa, bau dan sentuhan. Jika aurikel tidak berfungsi, maka hewan tersebut tidak dapat mengetahui jenis makanan kesukaannya.
e.         Sistem Reproduksi
Planaria bersifat hermaphrodit, maka dalam tubuh seekor hewan tersebut terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina.
 Daya generasinya sangat tinggi, bila hewan ini dipotong-potong maka bagian yang hilang akan tumbuh kembali dan menjadi individu yang utuh seperti semula.


1.         Trematoda

v  Trematoda Hati
a.         Fasciola hepatica
Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum   : Platyhelminthes
Kelas      : Trematoda
Ordo      : Echinostomida
Family    : Echinostomidae
Genus     : Fasciola                              
Spesies   : Fasciola hepatica

Fasciola hepatica merupakan salah satu spesies cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia. Fasciola tergolong dalam kelas Trematoda, filum Platyhelmintes.
Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola hepatica merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah

1)        Morfologi
Telur:
Ukuran : 130 – 150 mikron x 63 – 90 mikron
Warna   : kuning kecoklatan
Bentuk : Bulat oval dengan salah satu kutub mengecil, terdapat overculum pada kutub yang mengecil, dinding satu lapis dan berisi sel-sel granula berkelompok

Cacing dewasa :
a)    Ukuran 30 mm x 13 mm
b)   Bersifat hermaprodit
c)    Sistem reproduksinya ovivar
d)   Bentuknya menyerupai daun
e)    Mempunyai tonjolan konus pada bagian anteriornya
f)    Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut, uterus pendek berkelok-kelok.
g)   Testis bercabang banyak, letaknya di pertengahan badan berjumlah 2 buah.
h)   Ovarium sangat bercabang

Ciri umum :
a)    Bentuk tubuh seperti daun
b)   Bentuk luarnya tertutup oleh kutikula yang resisten merupakan modifikasi dari epidermis
c)    Cacing dewasa bergerak dengan berkontraksinya otot-otot tubuh, memendek, memanjang dan membelok
d)   Dalam daur hidup cacing hati ini mempunyai dua macam inang yaitu: inang perantara yakni siput air dan inang menetapnya yaitu hewan bertulang belakang pemakan rumput seperti sapi dan domba
e)    Merupakan entoparasit yang melekat pada dinding duktusbiliferus atau pada epithelium intestinum atau pada endothelium venae dengan alat penghisapnya
f)    Makanan diperoleh dari jaringan-jaringan, sekresi dan sari-sari makanan dalam intestinum hospes dalam bentuk cair, lendir atau darah.
g)   Di dalam tubuh, makanan dimetabolisir dengan cairan limfa, kemudian sisa-sisa metabolisme tersebut dikeluarkan melalui selenosit.
h)   Perbanyakan cacing ini melalui auto-fertilisasi yang berlangsung pada Trematoda bersifat entoparasit, namun ada juga yang secara fertilisasi silang melalui canalis laurer.

2)        Siklus Hidup
Pada spesies F. Hepatica, cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan kantong empedu hewan ruminansia dan manusia. Kemudian telur keluar ke alam bebas bersama feses domba. Bila mencapai tempat basah, telur ini akan menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa).
Di dalam tubuh siput ini, mirasidium tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam tubuh siput selama + 2 minggu). Sporokista akan menjadi larva berikutnya yang disebut Redia. Hal ini berlangsung secara partenogenesis. Redia akan menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva berikutnya yang disebut serkaria yang mempunyai ekor. Dengan ekornya serkaria dapat menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.
Di luar tubuh siput, larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama. Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya. Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola hepatica. Apabila rumput tersebut termakan oleh hewan ruminansia dan manusia, maka kista dapat menembus dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa disana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.
Penjelasan Singkat
Telur –> larva mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea –> sporokista –> berkembang menjadi larva (II): redia –> larva (III): serkaria yang berekor, kemudian keluar dari tubuh keong –> kista yang menempel pada tumbuhan air (terutama selada air –> Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) –> masuk ke tubuh dan menjadi cacing dewasa menyebabkan FascioliasisB.
b.   Clonorchis sinensis
                          Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum   : Platyhelminthes
Kelas      : Trematoda
Ordo      : Opisthorchiida
Family    : Opisthorchiidae
Genus     : Clonorchis
Spesies   : Clonorchis sinensis
          

  Gambar 11. Clonorchis sinensis
Clonorchis sinensis ini   tinggal di hati manusia, dan ditemukan terutama di umum saluran empedu dan kantong empedu , makan pada empedu . Hewan ini yang diyakini menjadi lazim parasit cacing yang paling ketiga di dunia adalah endemik untuk Jepang, Cina, Taiwan, dan Asia Tenggara, saat ini menginfeksi suatu manusia diperkirakan 30.000.000.  Clonorchis sinesnsis adalah parasit opisthorchid trematoda yang menginfeksi kucing dan manusia di negara-negara tropis dan subtropis di Asia.
1)        Morfologi
Clonorchis sinensis dewasa memiliki bagian-bagian tubuh utama: pengisap oral, faring, usus buntu, pengisap ventral, vitellaria, rahim, ovarium, kelenjar mehlis, testis, kandung kemih exretory. Telur dari Clonorchis sinensis yang berisi mirasidium yang berkembang ke dalam bentuk dewasa, mengapung di air tawar sampai dimakan oleh siput.
Telur  :
·      Bentuk seperti botol ukuran 25–30 µm
·      Warna kuning kecoklatan
·      Kulit halus tetapi sangat tebal
·      Pada bagian ujung yg meluas terdapat tonjolan
·      Berisi embrio yg bersilia (mirasidium)
·      Operculum mudah terlihat
·      Infektif untuk siput air
Cacing Dewasa :
·      Ukuran 12 – 20 mm x 3 – 5 mm
·      Ventral sucker < oral sucker
·      Usus (sekum) panjang dan mencapai bagian posterior tubuh
·      Testis terletak diposterior tubuh & keduanya mempunyai lobus
·      Ovarium kecil terletak   ditengah (anterior dari testis)
2)    Siklus Hidup
Siput merupakan pejamu perantara yang pertama. Sekitar 40 spesies ikan sungai berperan sebagai pejamu sekunder. Manusia, anjing, kucing dan banyak spesies mamalia pemakan ikan yang lain merupakan pejamu akhir. Cara penularan dan manusia terinfeksi karena memakan ikan air tawar. Contohnya daging ikan yang mentah atau dimasak tidak matang yang di dalamnya terdapat larva berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna larva cacing akan terbebas dari dalam kista dan bermigrasi melalui Duktus Koledokus ke dalam pecabangan empedu.
Telur dalam empedu diekskresikan melalui tinja. Pada tempat yang sesuai, telur yang fertil (telah dibuahi) akan menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Jika telur ini termakan oleh siput (lymnea) sebagai pejamu pertama yang rentan, maka akan menetas dalam usus siput. Larva atau mirasidium ini dalam 2 minggu akan berubah bentuk menjadi sporosista.
Sporosista yang tidak bersilia, kemudian tumbuh dan akhirnya pecah menghasilkan larva kedua disebut redia. Redia masuk kejaringan siput. Didalam tubuh siput redia akan tumbuh dan berkembang menghasilkan larva ketiga disebut serkaria. Jadi jika diringkas perkembangan larva dalam keong air adalah sebagai berikut:
Mirasidium — sporokista — redia — serkaria

Gambar 12.Siklus Hidup Clonorchis sinensis
Serkaria ini kemudian bermigrasi atau meningglkan tubuh siput dan masuk ke dalam air. Jika mengenai pejamu kedua (ikan), serkaria akan menembus tubuh ikan dan biasanya masuk ke dalam daging ikan atau biasa juga di bawah sisik (kulit). Saat itu membentuk metaserkaria (kista).

Kemudian melepaskan ekornya. Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia, jika ikan tersebut tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista akan masuk ke dalam sistem pencernaan, kemudian berpindah kehati melalui saluran empedu dan tumbuh menjadi cacing dewasa, dan mengulang kembali siklus hidupnya.
v  Trematoda Darah
Trematoda darah merupakan cacing kelas trematoda yang memiliki banyak perbedaan dengan trematoda lainnya, diantaranya :
V    Alat kelamin jantan dan betina terpisah (tidak hermafrodit)
V    Cacing dewasa bentuk silindris, tidak pipih
V    Ekor serkaria bercabang
V    Telur tidak beroperkulum, tetapi memiliki duri yang letaknya berbeda.Telur akan segera menetas apabila kontak dengan air.
Pada manusia ditemukan 3 spesies penting: Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma haematobium. Selain spesies yang ditemukan pada manusia, masih banyak spesies yang hidup pada binatang dan kadang-kadang dapat menghinggapi manusia.
a.         Schistosoma japonicum
Taksonomi
Kingdom     : Animalia
Phylum        : Platyhelminthes
Kelas           : Trematoda
Sub Kelas    : Digenea
Ordo           : Strigeidida
Genus          : Schistosoma
Spesies        :Schistosoma Japonicum

Gambar 13. Schistosoma japonicum
1)        Morfologi
Telur
           Ukuran 70-80 µm
           Bentuk oval, berhialin
           Warna transparan atau kuning pucat
           Spina sukar dilihat, terletak dilateral dan sangat kecil dapat jadi tertutup butiran-butiran yang biasanya ditemukan pada permukaan telur
           Berisi embrio besar bersilia
           Serkaria
           Bentuk badan ovoid memanjang
           Memiliki ekor bercabang

Cacing dewasa
Cacing jantan panjang ± 1,5cm , gemuk, integumen duri-duri sangat halus dan lancip, memiliki batil isap perut dan kepala serta kanalis ginekoporik, memliki 6-8 buah testis
Cacing betina panjang ± 1,9cm, langsing, ovarium ditengah tubuh, uterus merupakan saluran yang panjang dan lurus berisi 50-100 butir telur, kelenjar vitellaria di posterior terletak dalam kanalis ginekoporus cacing jantan.
2)        Siklus Hidup

Gambar 14. Siklus Hidup Schistosoma spp.
Siklus hidup Schistosoma japonicum dan Schistosoma mansoni sangat mirip. Secara singkat, telur dari parasit dilepaskan dalam tinja dan jika mengalami kontak dengan air mereka menetas menjadi larva yang berenang bebas, yang disebut mirasidium. Larva kemudian harus menginfeksi keong dari genus Oncomelania seperti jenis Lindoensis oncomelania dalam satu atau dua hari. Di dalam keong, larva mengalami reproduksi aseksual melalui serangkaian tahapan yang disebut sporokista. Setelah tahap reproduksi aseksual, serkaria  yang dihasilkan dalam jumlah besar, yang kemudian meninggalkan keong dan harus menginfeksi inang vertebrata yang cocok. Setelah serkaria menembus kulit tuan rumah kehilangan ekornya dan menjadi sebuah schistosomule, cacing kemudian bermigrasi melalui sirkulasi, berakhir di pembuluh darah mesenterika dimana mereka kawin dan mulai bertelur. Setiap pasangan desposits sekitar 1500 – 3500 telur per hari dalam dinding usus. Telur menyusup melalui jaringan dan terdapat dalam tinja.
`                    b.    Schistosoma mansoni
Taksonomi
Kingdom     : Animalia
Phylum        : Platyhelminthes
Kelas           : Trematoda
Sub Kelas    : Digenea
Ordo           : Strigeidida
Genus          : Schistosoma
Spesies        :Schistosoma mansoni
                  

Gambar 15. Schistosoma mansoni
1)        Morfologi
Telur
·         Ukuran 150 µm
·         Bentuknya oval , dengan salah satu kutubnya membulat dan yang lain lebih meruncing
·         Spina lateral terletak dekat dengan bagian yang membulat besar dan berbentuk segitiga
·         Kulit tipis sangat halus
·         Berwarna kuning pucat
·         Berisi embrio besar bersilia, diliputi membran (kulit dalam)
Serkaria
·         Bentuk badan ovoid memanjang
·         Memiliki ekor bercabang
Cacing dewasa
Cacing jantan panjang ±1 cm, gemuk, memiliki 6-9 buah testis, pinggir lateral saling mengunci  oleh duri acuminate, dimana pada tempat ini lebih panjang dari tempat lain, memiliki kanalis ginekoporus
Cacing betina panjang ±1,4 cm, langsing, integumen terdapat duri-duri terutama pada ujung tubuh, letak ovariumdi anterior pertengahan tubuh, kelenjar vitellaria memenuhi pinggir lateral dari pertenganhan tubuh, uterus merupakan saluran yang pendek berisi 1-4 butir telur
2)        Siklus Hidup
Siklus hidup Schistosoma mansoni sama dengan Schistosoma japonicum
c.    Schistosoma Haematobium
Taksonomi
Kingdom     : Animalia
Phylum        : Platyhelminthes
Kelas           : Trematoda
Sub Kelas    : Digenea
Ordo           : Strigeidida
Genus          : Schistosoma
Spesies        : Schistosoma haematobin

Gambar 16. Schistosoma haematobium
1)        Morfologi
Telur
Telur berukuran ±145 x 60 mikron, duri di ujung, berisi mirasidium, telur berwarna coklat kekuningan.
Serkaria
Bentuk badan ovoid memanjang
Memiliki ekor bercabang
Cacing dewasa
Cacing jantan panjang ±1,3 cm, gemuk, memiliki 3-4 buah testis, memiliki kanalis ginekoporus, memiliki 2 batil isap berotot yang ventral lebih besar.
Cacing betina panjang ± 2 cm, langsing, batil isap kecil, ovarium terletak posterior dari pertengahan tubuh, uterus panjang berisi 20-30 telur.

v  Tremotoda Usus


Gambar 17.Tremotoda Usus
a.        Fasciolopsis buski
1)      Morfologi
Cacing dewasa
F.buski adalah Trematoda terbesar yang parasit pada manusia.
v  Bentuk: bujur telur, warna seperti daging.
v  Ukuran: panjang 2 – 7,5cm, lebar 2 – 20mm, tebal 0,5–3mm
v  Kutikulum: diliputi baris-baris duri kecil melintang.Batil isap kepala besarnya ¼ batil isap perut & berdekatan.
v  Testis: bercabang banyak, formasi cranio caudal.
v  Ovarium: di pertengahan badan sebelah kanan garis tengah.
v  Kelenjar vitellaria di sisi lateral mulai dari batil isap perut sampai ujung posterior badan.
Telur
Bentuk : Ellips
Warna : Kekuning kuningan
Kulit : tipis, jernih, operculum kecil
Ukuran : 130 – 140 u x 80      

                    Gambar 18. Telur

2)      Daur Hidup


Gambar 19. Siklus Hidup Fasciolopsis Buski
Hospes definitive: Manusia, babi & kadang - kadang anjing.
Habitat : Usus halus (duodenum dan jejunum), kadang
ditemukan di lambung& colon.
Umurnya singkat (kurang dari 6 bulan).
HP I : Keong air dari genus Segmentina, Hippeutis, dan Gyraulus.
Perkembangan dalam keong : S-R1-R2-C.
HP II: Tumbuh-tumbuhan air seperti Trapa (lengkak air), Eichornia (eceng gondok) Eliocharis (“water chestnut”) dan Zizaniz (bambu air).
Cercaria setelah berenang dalam air dalam1–3 minggu melekat dan menjadi Metacercaria pada tumbuhan air.
b.        Heterophyidae
Merupakan cacing daun kecil
- Bentuk :seperti buah jambu Sebagai parasit di saluran pencernaan binatang pemakan ikan, (anjing& kucing, juga manusia).
Spesies yang menginfeksi manusia yaitu:
Heterophyes heterophyes
Metagonimus yokogawai


1)      Heterophyes heterophyes
                                             
Warna    : kelabu, seperti buah jambu
Ukuran   : 1,3 x 0,5 mm
Kutikula : berduri-duri halus seperti sisik
Batil isap perut di 1/3 tengah anterior badan

Gambar 20. Heterophyses heterophyses
Batil isap genital di pinggir posterior kiri batil isap perut. Testis oval, formasi sebelah-menyebelah di 1/5 posterior badan.Tidak mempunya cirrus dan kantung cirrus, lubang vesicular seminalis dalam batil isap genital. bulat, sebelah anterior dari testis. Kelenjar vitellaria berbentuk seperti folikel polygonal yang  besar di 1/3 posterior lateral.


Gambar 21.  H.heterophyes                  H.heterophyes nocens
Telur
Bentuk  : seperti bola lampu pijar, lebih lonjong
Ukuran : 30 x 16 mikron
Warna    : coklat muda
Kulit       : tebal, dengan operculum. Mengandung satu miracidium. Selain itu kulit telur terdapat penonjolan sedikit pada pinggir operculum.

Daur Hidup
Hospes definitive : Manusia dan hewan pemakan ikan
Habitat : Usus halus bagian tengah
HP I : Keong air payau,


 Gambar 22. Daur Hidup Heterophyes heterophyes
2.Echinostoma
Morfologi Cacing dewasa
·           Bentuk: seperti lanset,
·         Panjang: 2,5-6,5mm, lebar 1-1,35mm
·         tebal 0,5-0,6mm.
·         Ujung anterior: seperti cakram (circumoral disk).

Gambar 23. Echinostoma
·           Mempunyai duri-duri tersusun seperti leher baju seperti ladam
·           kuda(collar spine).
·           Kutikula: mempunyai sisik dan duri-duri kecil.
·           Testis: berlobus tersusun tandem cranio-caudal.
Ovarium.: bulat, di sebelah anterior testis.
Vitellaria: berupa folikel-folikel kecil mengisi pinggir lateral pada 2/3  posterior badan


Telur
·           Bentuk : Lonjong,
·           Ukuran : 85 – 120 x 50 – 80 um
·           Kulit : tipis
·           Mempunyai operculum dan mengandung miracidium yang belum berkembang.
Daur Hidup
·           Hospes definitive : Tikus, burung, manusia
·           Habitat : Rongga usus muda
·           HP I : keong air dari genus Anisus
·           HP I I :  keong air dari genus Pila, Corbicula (remis).
Telur matang ±3 minggu sesudah meninggalkan definitive dan Miracidium masuk keong.
Perkembangan dlm keong (HPI ): M-R1-R2-C.Cercaria keluar dari keong dewasa pada keong jenis lain, ikan, tumbuh-tumbuhan air (HP II)
1)      Trematoda Paru
Paragonimus westermani
Hospes : Manusia dan binatang spt. kucing, luwak, harimau, anjing, serigala dll.
Penyebaran geografik : Timur jauh, Asia
Tenggara.
Morfologi dan daur hidup
Habitat : saluran pernapasan (paru-paru)
Cacing dewasa :
– Seperti biji kopi, biasanya berpasangan
– Warna coklat tua
– Ukuran 8-12 x 4-6 mm
 Daur Hidup


Gambar 24. Daur Hidup Paragonimus westermani


Gambar 25. Telur dan Cacing Dewasa
1.         Cestoda
Cacing dalam klas cestoidea disebut juga cacing pita karena bentuk tubuhnya yang panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai saluran pencernaan ataupun pembuluh darah. Tubuhnya memanjang terbagi atas segmen-segmen yang disebut proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa berisi alat  reproduksi jantan dan betina.

Gambar 26. Cestoda
a.        Morfologi Umum Cestoda
Ukuran cacing dewasa pada Cestoda bervariasi dari yang panjangnya hanya 40 mm sampai yang panjangnya 10-12 meter. Cestoda adalah cacing hermafrodit. Cacing ini terdiri atas scolex (kepala) yang berfungsi sebagai alat untuk mengaitkan diri pada dinding intestinum. Di belakang scolex terdapat leher, merupakan bagian cacing yang tidak bersegmen. Di belakang leher tumbuh proglotid yang semakin lama semakin banyak yang menyebabkan cacing menjadi semakin panjang dan bersegmen-segmen.
Setiap proglotid (segmen) dilengkapi dengan alat reproduksi (jantan dan betina). Semakin jauh dari scolex, proglotidnya semakin tua sehingga proglotid yang paling ujung seolah olah hanya sebagai kantung telur saja sehingga disebut proglotid gravida. Proglotid muda selalu dibentuk dibelakang leher, sehingga proglotid tua akan didorong semakin lama semakin jauh letaknya dari scolex. Seluruh cacing mulai scolex, leher, sampai proglotid yang terakhir disebut strobila.
Cestoda berbeda dengan nematoda dan trematoda, tidak memiliki usus. Makanan masuk dalam tubuh cacing karena diserap oleh permukaan tubuh cacing.
Bagian tubuh:
1)        Kepala (scolex)
Berfungsi untuk melekat ( biasanya membulat).Pada eucestoda biasanya mempunyai 4 sucker (acetabulum) yang dapat dilengkapi dengan kait. Pada bagian skoleks dapat juga dijumpai adanya rostellum (penonjolan/moncong) yang sering dilengkapi dengan kait.
Pada cotyloda tidak mempunyai organ melekat seperti eucestoda (acetabulum) tetapi mempunyai bothria (celah panjang dan sempit serta berotot lemah).
2)        Leher
Tidak bersegmen, sesudah scoleks melanjut ke leher.
3)        Tubuh atau badan
Terdiri dari segmen-segmen (Proglottid) yang dipisahkan oleh garis-garis transversal, tiap-tiap proglotid biasanya mengandung 1 atau 2 set organ reproduksi.
4)        Proglottid
Dibentuk mulai dari leher yang makin menjahui scoleks semakin dewasa/masak. Dikenal tiga macam proglotid, yaitu proglottid muda, proglottid dewasa (organ reproduksi berkembang dan berfungsi sempurna) dan proglotid gravid (penuh telur, organ reproduksi mengalami degenerasi). Pada banyak cacing pita, telur tidak dikeluarkan tetapi mengumpul di proglotid gravid, selanjutnya proglotid ini lepas dan keluar bersama feses. Pada eucestoda proglotid-proglotid jelas terpisah tetapi pada cotyloda tidak jelas (pembentukannya sama-sama dalam satu waktu, contoh: pada plerocercoid yang tidak bersegmen). Berdasarkan lepasnya proglotid, cestoda dibagi menjadi :
a)      Apolytic Cestoda : melepaskan segmen gravid.
b)      Anapolytic Cestoda : tetap membawa segmen gravid selama hidup.
c)      Euapolytic Cestoda : Segmen dilepas waktu hamper gravid.
d)      Hyperapolytic Cestoda: segmen dilepas jauh sebelum gravid dan bebas di usus hospes.
e)      Pseudoapolytic Cestoda: telur keluar lewat porus uterus kemudian segmen dilepas dalam kelompok dan degenerasi (Ex: pada cotyloda).
b.    Klasifikasi Cestoda
Cacing pita termasuk subkelas Cestoda, kelas CESTOIDEA, filum PLATYHELMINTES. Cacing dewasanya menempati saluran usus vertebrata danlarvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrata. Bentuk badan cacing dewasa memanjang menyerupai pita, biasanya pipih dorsoventral, tidak mempunyai alat pencernaan atau saluran vaskular dan biasanya terbagi dalam segmen-segmen yang disebut proglotid yang bila dewasa berisi alat reproduktif jantan dan betina. Ujung bagian anterior berubah menjadi sebuah alat pelekat, disebut skoleks, yang dilengkapi dengan alat isap dan kait-kait. Spesies penting yang dapat menimbulkan kelainan pada manusia umumnya adalah: Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, Echinococcus multilocularis, Taenia saginata, dan Taenia solium.Manusia merupakan hospes cestoda ini dalam bentuk:
1)      Cacing dewasa, untuk spesies Diphyllobothrium latum, Taenia saginata, Taenia solium, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta, Dipylidium caninum.
2)      Larva, untuk spesies Diphyllobothrium sp, Taenia solium, Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, Multiceps.
Menurut habitatnya, cestoda dapatdibagi menjadi dua ordo, yaitu Pseudophyllidea dan Cyclophyllidea.

a)      Ordo Pseudophyllidea
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Pseudophyllidea
Family : Diphyllobothriidae
Genus : Diphyllobothrium
Species :Diphyllobotrium latum
Diphyllobothrium latum
Cacing pita ini sering ditemukan berparasit pada hewan carnivora pemakan ikan, terutama di Eropa Utara. Sering menginfeksi anjing, kucing, beruang dan pada orang. D. latum sering dilaporkan menginfeksi orang di daerah tertentu, bahkan hampir 100% di suatu lokasi orang terinfeksi oleh parasit ini. Orang yang terinfeksi banyak dijumpai didaerah Scandinavia, Baltic dan Rusia. Juga dilaporkan di Amerika Selatan, Irlandia dan Israil. Panjang cacing dapat mencapai 9 m dan mengeluarkan jutaan telur/hari. Tubuhnya panjang yang terdiri dari segmen-segmen disebut proglotida yang berisi testes dan folicel.
Morfologi Diphyllobothrium latum
·         Panjangnya mencapai ±900 cm, lebar 2,5 cm.
·         Terdiri atas 4000 proglotid.
·         Mempunyai sepasang celah penghisap (bothria) di bagian ventral dan dorsal pada skoleks.
·         hermafrodit
Daur Hidup Diphyllobothrium latum
Telur keluar melalui feses dan berkembang membentuk embrio yang akan berkembang dalam air. Telur berkembang menjadi coracidium dalam waktu 8 hari sampai beberapa minggu bergantung suhu lingkungan. Coraciudium keluar melalui operkulum telur dan coracidium yang berisilia berenang mncari hospes intermedier ke 1 dari jenis Copepoda krustacea termasuk genus Diaptomus. Segera setelah masuk kedalam usus krustasea tersebut, coracidium melepaskan silianya dan penetrasi melalui dinding usus dan masuk ke haemocel (sistem darah) krustasea menjadi parasit dengan memakan sari makana dalam tubuh krustasea tersebut. Selama sekitar 3 minggu coracidium berkembang dan bertambah panjang sampai sekitar 500 um dan disebut procercoid dan tidak berkembang lagi dalam tubuh krustasea tersebut. Bila krustasea dimakan ikan air tawar sebagai hospes intermedier ke 2, procercoid ada dalam usus ikan dan menembus melalui dinding intestinum masuk kedalam istem muskularis dan berparasit dengan memakan unsur nutrisi dari ikan tersebut dan procercoid berkembang menjadi plerocercoid. Plerocercoid berkembang dari beberapa mm menjadi beberapa cm. Plerocercoid akan terlihat pada daging ikan mentah yang berwarna putih dalam bentuk cyste. Bila daging ikan tersebut dimakan orang, cacing berkembang dengan cepat dan menjadi dewasa serta mulai memproduksi telur pada 7-14 hari kemudian.
b)     Ordo Cyclophyllidea
Famili Taeniidae
1)      Taenia saginata
Taksonomi
Kingdom       : Animalia
Filum             : Platyhelminthes
Kelas             : Cestoda
Ordo               : Cyclophyllidea
Famili            : Taeniidae
Genus             : Taenia
Spesies            : Taenia saginata
        

Gambar 27. Taenia saginata
Cacing pita ini adalah cacing pita yang paling sering ditemukan pada manusia dan ditemukan di semua negara yang orangnya mengkonsumsi daging sapi. Cacing ini  panjangnya sekitar 3-5 m dan terdiri dari 2000 proglotida. Scolexnya mempunyai 4 batil isap yang dapat menghisap sangat kuat.
a)      Morfologi T. saginata
Cacing dewasa
·         Panjangnya 4-10 m.
·         Memiliki 1000 –2000
·         Proglotid.
·         Memiliki scoleks dengan diameter 1 –2mm.
·         Mempunyai 4 penghisap tanpa hook.
b)        Daur hidup T. Saginata
 
Gambar 28. Daur hidup Taenia sp
Proglotida yang berisi penuh telur melepaskan diri dari tubuh cacing dan keluar melalui feses atau dapat keluar sendiri dari anus. Setiap segmen terlihat seperti cacing tersendiri dan dapat merayap secara aktif. Setiap segmen /proglotida dapat dikelirukan sebagai cacing trematoda atau bahkan nematoda.
Bilamana segmen mulai mengering maka bagian dinding ventral robek dan telur keluar dari lubang robekan tersebut. Pada saat itu telur berembrio dan infektif dapat menginfeksi hospes intermedier dan bila tidak telur dapat bertahan berminggu-minggu. Hospes intermedier palimng utama adalah sapi, tetapi dapat pula pada kambing dan domba.
Bila telur termakan oleh sapi kemudian menetas dalam duodenum, yang dipengaruhi oleh asam lambung dan sekresi intestinum. Hexacant yang keluar dari telur langsung berpenetrasi kedalam mukosa dan masuk kedalam venula intestinum, terbawa oleh aliran darah keseluruh tubuh. Cacing muda tersebut biasanya meninggalkan kapiler masuk diantara sel muyskulus dan masuk dalam serabut otot (muscle fiber) dan berparasit di lokasi tersebut, kemudian menjadi cysticercus dalam waktu 2 bulan. Metacercaria ini berwarna putih seperti mutiara dengan ukuran diameter 10 mm yang berisi satu skolek invaginatif. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini pada sapi disebut Cysticercisis bovis.
Orang memakan daging sapi yang terinfeksi oleh cacing ini akan tertular bilamana daging sapi tersebut dimasak kurang matang/masih mentah. Cysticercus terdigesti oleh cairan empedu dan cacing mulai tumbuh dalam waktu 2012 minggu dan menjadi dewasa membentuk proglotida yang berisi telur.
2)      Taeniia solium
                 Taksonomi
Kingdom       : Animalia
Filum             : Platyhelminthes
Kelas             : Cestoda
Ordo               : Cyclophyllidea
Famili            : Taeniidae
Genus             : Taenia
Spesies            : Taenia solium
       
 Gambar 29. Taenia solium
Adalah cacing pita babi yang paling berbahaya pad orang, karena kemungkinan terjadinya infeksi sendiri oleh cysticercus dapat terjadi. Cacing dewas panjangnya 1,8-3 m.
a)        Morfologi
·         Cacing dewasa panjangnya 4-10 m.
·         Memiliki 1000 –2000 proglotid.
·         Memiliki scoleks dengan diameter 1 –2mm.
·         Mempunyai 4 penghisap tanpa hook.
b)        Daur Hidup dan Patologi Taenia solium
Daur hidupnya mirip dengan T. saginatus, tetapi hospes intermedier berbeda dimana T. saginatus. Pada sapi dan T. solium pada babi. Proglotid yang penuh telur keluar melalui feses, kemudian telur infektif keluar dimakan oleh babi. Telur menetas dalam tubuh babi dan telur dan membentuk Cysticercus celluloses, didalam daging (otot) atau organ lainnya. Orang akan mudah terinfeksi bila memakan daging babi yang kurang masak. Cysticercus berkembang menjadi cacing cacing muda yang langsung menempel pada dinding intestinum dan tumbuh menjadi dewasa dalam waktu 5-12 minggu. Dimana cacing ini dapat bertahan hidup sampai 25 tahun.
Famili Hymenolipipidae
1)      Hymenolepsis nana
Taksonomi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Platyhelminthes
Class                : Cestoidea
Order               : Cyclophyllidea
Family             : Hymenolepididae
Genus              : Hymenolepis
Species            : Hymenolepis nana
                              
                            Gambar 30. Hymenolepis nana
Parasit ini merupakan cacing pita yang cosmopolitan dan sering dijumpai pada manusia, terutama anak-anak dengan rata-rata infeksi sekitar 1-9% di Amerika Serikat dan Argentina. Cacing berukuran 40 mm, lebar 1 mm.
a)        Morfologi
·       Merupakan golongan Cestoda yang memiliki ukuran terkecil dengan panjang ±25 mm-10 cm dan lebar 1 mm
·       Skoleksnya bulat memiliki rostellum yang refraktil dengan mahkota kait-kait 20-30 buah
·       Strobila terdiri dari kira-kira 200 proglotid
·       Telurnya bulat, mempunyai 2 membran yang meliputi embrio dengan 6 buah kait
·       Dikenal sebagai cacing pita kerdil
·       Kosmopolitan
·       Terdapat di tikus dan mencit, pada manusia khususnya anak-anak
b)        Daur Hidup Hymenolepis nana
Proglotida yang telah matang dan berisi telur melepaskan diri kemudian mengeluarkan telur infektif. Hospes intermediernya tidak tertentu, karena dapat menu;ar ke orang maupun tikus. Telur yang termakan akan menetas dalam duodenum dan mengeluarkan onchosfer yang penetrasi masuk kedalam mukosa dan tinggal di saluran limfe didaerah vili. Di lokasi tersebut cacing berkembang menjadi cysticercoid. Dalam waktu 5-6 hari cuysticercoid masuk kedalam lumen usus halus dan melekat di lokasi tersebut dan berkembang menjadi dewasa.
2)      Hymenolepis diminuta
Taksonomi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Platyhelminthes
Class                : Cestoidea
Order               : Cyclophyllidea
Family             : Hymenolepididae
Genus              : Hymenolepis
Species            : Hymenolepis diminuta

 Gambar 31. Hymenolepis diminuta
Cacing ini juga merupakan cacing cosmoploitan yang terutama berparasit pada tikus rumah, tetapi banyak kasus dilaporkan menginfeksi pada orang. Ukuran lebih besar daripada V. nana, yaitu sampai 90 cm. Sebagai hospes intermedier adalah beberapa spesies arthropoda, misalnya jenis kumbang (Tribolium spp) adalah hospes intermedier yang sangat berperan terhadap infeksi pada tikus dan manusia.
a)        Morfologi
·         Cacing dewasa berukuran 20-60 cm
·         Skoleks kecil bulat, mempunyai 4 sucker dan rostelum tanpa kait
·         Proglotid gravid lepas dari strobila
b)        Daur Hidup Hymenolepis diminuta
Daur hidup H. Diminuta sama dengan H. nana
Famili Dylepipidae
Dipylidium caninum
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Famili : Dipylidiidae
Genus : Dipylidium
Spesies :Dipylidium caninum
       

Gambar 32. Dipylidium caninum
a)        Morfologi
·           Panjang 50 cm, lebar 3 mm (cacing dewasa)
·           Skoleks ber-sucker, sebuah rostellum refraktil, memiliki 4-7 baris hook.
·           Proglotid memiliki 2 alat reproduksi lengkap
b)        Siklus Hidup
Segmen cacing yang mengandung telur yang mengandung telur gravid keluar dari tubuh bersama feses anjing/kucing secara spontan. Segmen tersebut secara aktif bergerak di daerah anus atau jatuh ke tanah dan membebaskan telur cacing. Kapsul cacing yang berisi embrio akan termakan oleh larva pinjal. Kapsul tersebut pecah sehingga onkosfer menetas dan membebaskan embrio di dinding usus larva pinjal yang selanjutnya berkembang mesnjadi sistiserkoid di dalam jaringan tubuh larva. Saat pinjal menyelesaikan metamorfosisnya dan menjadi dewasa, sistiserkoid mejadi infektif. Anjing/kucing yang tanpa sengaja memakan pinjal maka akan terinfeksi oleh cacing Dipylidium sp. Di dalam usus akan mengalami evaginasi, skoleks akan melekat diantara villi usus halus dan lama-lama akan berkembang sebagai cacing dewasa.
Spesies pinjal Ctenocephalides Sp. dan Pulex irritans merupakan hospes antara yang paling sering ditemukan. Meskipun kutu Trichodectes canis juga dapat bertindak sebagai hospes antara. Larva pinjal mungkin mengkonsumsi sejumlah kapsul telur yang tiap telur mengandung sejumlah onkosfer. Seekor pinjal dapat memiliki sistiserkoid dalam jumlah besar sehingga dapat menginfeksi anjing beberapa kali.
2.         Monogenea
a.        Klasifikasi Ilmiah Monognea
Kingdom       : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Monogenea
Upakelas       : Monopisthocotylea
           Polyopisthocotylea


Gambar 33. Monogenea
b.        Ciri-ciri Kelas Monogenea
Monogenea adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Platyhelminthes. Hewan dari kelas Monogenea umumnya parasit. Hewan ini juga tidak memiliki rongga tubuh. Monogenea mempunyai sistem pencernaan sederhana yang mencakup lubang mulut, usus, serta anus. Contohnya Noebenedenia.
Monogenea merupakan cacing pipih parasit yang berukuran sangat kecil, cacing ini ditemukan terutama pada kulit atau insang ikan. Cacing ini jarang memiliki ukuran lebih dari 2 cm. Beberapa spesies yang menginfeksi ikan laut tertentu berukuran lebih besar dan cacing yang hidup di laut pada umumnya lebih besar daripada yang ditemukan pada inang air tawar. Monogenea kurang dalam sistem pernapasan, tulang dan peredaran darah dan tidak memiliki penghisap 0ral (kurang begitu berkembang).           
Monogenea menempel pada inang menggunakan kait, penjepit dan berbagai struktur khusus lainnya. Mereka secara dramatis mampu memanjang dan memperpendek ketika bergerak. Ahli biologi perlu memastikan bahwa spesimen ini benar-benar dalam kondisi relaks sebelum pengukuran dilakukan.
Seperti semua ektoparasit, Monogenea memiliki struktur untuk menempel yang berkembang dengan baik. Struktur anterior secara kolektif disebut prohaptor, sedangkan yang posterior secara kolektif disebut opisthaptor. Bagian posterior opishaptor denga bentuk seperti  kait, jangkar, penjepit, dll biasanya merupakan organ penempelan utama.
Seperti cacing pipih lainnya, Monogenea tidak memiliki rongga tubuh sejati (coelom). Mereka memiliki sistem pencernaan sederhana yang terdiri dari bukaan mulut dengan faring berotot dan usus tanpa bukaan akhir (anus). Umumnya, mereka juga bersifat hermafrodit dengan organ reproduksi fungsional dari kedua jenis kelamin yang ada pada satu individu. Kebanyakan spesies bertelur (ovipar) tetapi beberapa diantaranya beranak (vivipar). Monogenea merupakan Platyhelminthes, oleh karena itu Monogenea adalah salah satu invertebrata terendah yang memiliki tiga lapisan kulit embrionik; endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Selain itu, mereka memiliki kepala yang berisi organ-organ penginderaan dan jaringan saraf (otak).
Monopisthocotylea :
1)        Genus Gyrodactylus, tidak memiliki titik mata dan bersifat vivipar (beranak).
2)        Genus Dactylogyrus, memiliki empat titik mata dan bersifat ovipar. Genus ini merupakan genera metazoa yang paling banyak, dimana setidaknya memiliki 970 species.
3)        Genus Neobenedenia, berukuran lebih besar dan hidup pada kulit spesies laut tropis, menyebabkan infeksi yang parah pada budidaya hewan laut.
Semua genus diatas dapat menyebabkan epizootik (penyakit yang muncul sebagai kasus baru pada populasi hewan tertentu, selama periode tertentu) pada budidaya ikan air.

Polyopisthocotylea:
1)        Genus Diclidophora, kebanyakan ditemukan pada ikan laut dan air tawar primitif seperti ikan sturgeon dan paddlefish.
2)        Genus Protopolystoma, ditemukan pada katak bercakar (spesies xenopus species).
c.         Ekologi Dan Siklus Hidup
Monogenea memiliki siklus hidup yang paling sederhana diantara Platyhelminthes yang bersifat parasit. Mereka tidak memiliki inang perantara dan bersifat ektoparasit pada ikan (kadang-kadang ada dikandung kemih dan rektum vertebrata berdarah dingin). Meskipun mereka hermafrodit, system reproduksi jantan berfungsi terlebih dahulu sebelum bagian reproduksi betina. Telur yang menetas melepaskan larva yang sangat bersilia dikenal sebagai oncomiracidium. Oncomirasidium ini memiliki banyak kait posterior dan umumnya merupakan tahap kehidupan yang bertanggung jawab untuk transmisi dari inang ke inang.

Tidak ada monogenea yang diketahui menginfeksi burung, tapi ada satu spesies (oculotrema hippopotami) yang menginfeksi mamalia, yaitu menjadi parasite pada mata kuda nil.


DAFTAR PUSTAKA
Pamungkas B.A. 2015 09 15. Helminthologi Trematoda Usus Dan Paru. Diambil kembali dari https://id.scribd.com/doc/281126806/IT-24-Helminthologi-Trematoda-Usus-Dan-Paru-MZH
Agung Fahri. 2015 06. Makalah Platyhelminthes. Diambil kembali dari http://d emsiagungfahri11.blogspot.com/2015/06/makalahinvertebrataphylum.html
CDC. 2019 08 14. Schistosomiasis. Diambil kembali dari https://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/index.html
CDC. 2019 05 02. Fascioliasis. Diambilkemballi dari https://www.cdc.gov/dpdx/fascioliasis/index.html
CDC. 2019 06 29. Clonorchis. Diambil kembali dari https://www.cdc.gov/parasites/clonorchis/index.html
Dunia Pendidikan. 2020 01 09. Platyhelminthes. Diambilkembali dari https://duniapendidikan.co.id/platyhelminthes/
Dosen Pendidikan. 2019 10 24. Platyhelminthes. Diambilkembali dari https://www.dosenpendidikan.co.id/platyhelminthes-adalah/
Tentorku. 2018 01 28. Siklus Hidup Cacing Isap. Diambil kembali dari https://www.tentorku.com/siklushidup-cacing-isap-trematoda/#siklus-trematoda
Tentorku. 2016 02 06. Siklus Hidup Cacing Pita. Diambil kembali dari https://www.tentorku.com/siklus-hidup-cacing-pita-cestoda/








Tidak ada komentar:

Posting Komentar